Mengapa Angka Fatherless di Indonesia Tinggi?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Islampos AI

ISTILAH fatherless semakin sering kita dengar. Secara sederhana, fatherless menggambarkan kondisi ketika anak kehilangan kehadiran atau peran ayah dalam pengasuhan, baik karena ayah tidak hadir secara fisik maupun karena ayah ada di rumah tetapi tidak terlibat secara memadai dalam kehidupan anak.

Masalahnya bukan sekadar apakah seorang anak masih memiliki ayah atau tidak.

Seorang anak bisa tinggal serumah dengan ayahnya setiap hari, tetapi tetap mengalami ketidakhadiran emosional jika ayah jarang berbicara, tidak mengetahui perkembangan anak, tidak terlibat dalam pendidikan, atau menyerahkan hampir seluruh urusan pengasuhan kepada ibu.

BACA JUGA: Kekhawatiran Seorang Ayah Ulama tentang Penyusuan

Data yang dirilis Kemendukbangga/BKKBN berdasarkan Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan proporsi fatherless di Indonesia sekitar 25,8 persen, atau kira-kira satu dari empat keluarga yang memiliki anak. Angka ini lebih tinggi dibandingkan angka 20,9 persen yang sebelumnya banyak dikutip berdasarkan data UNICEF 2021.

Lalu, mengapa fenomena ini bisa terjadi?

1. Ayah Terlalu Sibuk Mencari Nafkah

Salah satu penyebab yang sering dibicarakan adalah anggapan bahwa tugas utama ayah hanyalah mencari uang. Ayah berangkat pagi, pulang malam, lalu merasa tugasnya selesai setelah kebutuhan ekonomi keluarga terpenuhi.

Memang, mencari nafkah merupakan tanggung jawab penting seorang ayah. Tetapi anak tidak hanya membutuhkan uang. Anak juga membutuhkan waktu.

Mereka ingin didengarkan ketika bercerita, ditemani ketika belajar, dipuji ketika berhasil, dinasihati ketika melakukan kesalahan, dan dipeluk ketika sedang sedih.

Kemendukbangga/BKKBN juga menyebut pekerjaan ayah yang mengharuskan tinggal jauh dari keluarga sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap fatherless.

2. Pengasuhan Masih Sering Dianggap Tugas Ibu

Di sebagian keluarga, urusan anak hampir seluruhnya diberikan kepada ibu. Ibu yang mengurus sekolah.

Ibu yang menemani belajar. Ibu yang mengantar ke dokter. Ibu yang menghadapi masalah perilaku anak. Sementara ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah.

Padahal, pengasuhan anak bukan pekerjaan ibu seorang diri. Ayah juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter, kedisiplinan, rasa percaya diri, kemampuan mengambil keputusan, dan kematangan emosional anak.

Ketika masyarakat terus menganggap bahwa mengasuh anak adalah “urusan perempuan”, keterlibatan ayah dalam kehidupan anak bisa semakin berkurang.

3. Ayah Ada di Rumah, Tetapi Tidak Hadir Secara Emosional

Ini mungkin yang paling sulit disadari. Seorang ayah bisa duduk di ruang keluarga bersama anak, tetapi pikirannya berada di tempat lain.

Anak mengajak bicara, ayah sibuk dengan telepon. Anak ingin bercerita tentang sekolah, ayah menjawab singkat.

Anak ingin bermain, ayah mengatakan sedang lelah. Hari demi hari berlalu. Secara fisik ayah memang ada. Tetapi secara emosional, anak merasa sendirian.

Inilah sebabnya fatherless tidak selalu berarti anak tidak mempunyai ayah. Fatherless juga dapat terjadi ketika ayah tidak menjalankan peran pengasuhan secara aktif.

4. Ayah Bekerja Jauh dari Keluarga

Indonesia adalah negara yang luas. Ada ayah yang harus bekerja di luar kota, luar pulau, bahkan di luar negeri demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam kondisi tertentu, hal ini memang tidak bisa dihindari.

Masalahnya muncul ketika jarak yang panjang membuat hubungan ayah dan anak semakin renggang. Anak akhirnya lebih dekat dengan ibu atau pengasuh karena merekalah yang setiap hari berada di sampingnya.

Karena itu, ketika ayah harus bekerja jauh, hubungan dengan anak tetap perlu dijaga. Telepon, video call, menanyakan sekolah, mendengarkan cerita anak, atau sekadar mengatakan “Ayah sayang kamu” mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa sangat berarti bagi seorang anak.

5. Perceraian dan Kematian Ayah

Fatherless juga dapat terjadi karena keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan. Perceraian dapat membuat anak tidak lagi tinggal bersama ayahnya. Kematian ayah juga tentu meninggalkan kehilangan yang sangat besar.

Data yang dikutip pemerintah dari UNICEF sebelumnya menyebut perceraian, kematian, dan pekerjaan ayah yang mengharuskan tinggal jauh dari keluarga sebagai beberapa penyebab anak kehilangan figur ayah.

Dalam kondisi seperti ini, keluarga perlu membantu anak mendapatkan dukungan emosional yang sehat.

Sebab anak bukan hanya kehilangan seseorang secara fisik, tetapi bisa juga kehilangan rasa aman, tempat bertanya, dan figur yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

6. Ayah Tidak Dibekali Pengetahuan Pengasuhan yang Cukup

Menjadi ayah tidak otomatis membuat seseorang memahami bagaimana cara mendidik anak. Ada ayah yang dibesarkan dengan pola pikir: “Anak harus takut kepada ayah.”

Akibatnya, komunikasi berubah menjadi perintah dan bentakan. Ketika anak melakukan kesalahan, yang diberikan hanya hukuman. Ketika anak berhasil, tidak ada apresiasi.

Padahal anak membutuhkan ayah yang bisa menjadi pemimpin sekaligus tempat yang aman untuk bercerita.

Karena itu, literasi pengasuhan bagi ayah juga penting. Kemendukbangga/BKKBN memasukkan rendahnya literasi pengasuhan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap fatherless.

https://s.shopee.co.id/2g93NJRzUO

7. Ayah Merasa Memberikan Uang Sudah Cukup

Ini salah satu kesalahpahaman yang perlu diperbaiki. Memenuhi kebutuhan ekonomi memang penting.

Tetapi seorang anak tidak bisa membeli kasih sayang dengan uang. Anak mungkin mendapatkan makanan yang cukup, sekolah yang bagus, pakaian yang bagus, dan rumah yang nyaman.

Tetapi dia tetap bisa bertanya: “Kenapa Ayah tidak pernah punya waktu untuk saya?”

Anak membutuhkan kehadiran. Tidak harus setiap saat. Kadang hanya 15–30 menit sehari tanpa HP dan tanpa gangguan sudah jauh lebih berarti daripada berjam-jam berada di rumah tetapi tidak benar-benar memperhatikan anak.

Dampaknya Tidak Boleh Disepelekan

Kehadiran ayah bukan sekadar pelengkap. Peran ayah dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak. Pemerintah sendiri menyoroti potensi hambatan perkembangan tersebut ketika anak tumbuh tanpa peran ayah yang aktif.

Namun, kita juga harus berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa setiap anak fatherless pasti akan mengalami masalah tertentu.

Setiap anak memiliki kondisi keluarga, lingkungan, dan daya tahan yang berbeda. Yang jelas, semakin baik keterlibatan orang tua dalam pengasuhan, semakin banyak kesempatan bagi anak untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

Ayah Tidak Harus Sempurna

Untuk mengurangi fatherless, kita tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Kita membutuhkan ayah yang mau hadir dan mau belajar. Ayah yang mau mendengarkan cerita anak.

Ayah yang mau mengambil rapor. Ayah yang mau menemani anak belajar. Ayah yang mau mengantar anak ke sekolah. Ayah yang mau meminta maaf ketika salah. Ayah yang tidak malu memeluk anaknya. Ayah yang tahu siapa teman anaknya. Ayah yang tahu apa yang sedang membuat anaknya takut atau sedih.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seorang anak, perhatian kecil dari ayah bisa menjadi kenangan besar sepanjang hidup.

Jangan Sampai Anak Hanya Mengenal Ayah sebagai Mesin Pencari Uang

Ini yang perlu menjadi bahan renungan. Jangan sampai ketika anak masih kecil, ayah sibuk bekerja demi masa depan mereka.

Namun ketika anak sudah besar, mereka justru tidak merasa dekat dengan ayahnya. Kita bekerja keras agar anak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tetapi jangan sampai kita memberikan masa depan kepada anak sambil kehilangan masa kecil mereka. Sebab uang bisa dicari lagi. Rumah bisa dibangun kemudian. Kendaraan bisa dibeli nanti. Tetapi masa kecil anak tidak akan pernah kembali.

Jadi, Mengapa Fatherless di Indonesia Tinggi?

Jawabannya bukan karena satu penyebab saja. Ada ayah yang harus bekerja jauh. Ada perceraian. Ada kematian. Ada tekanan ekonomi. Ada budaya yang menganggap pengasuhan hanya tugas ibu. Ada ayah yang kurang memiliki pengetahuan tentang pengasuhan.

Dan ada pula ayah yang secara fisik berada di rumah, tetapi kurang hadir secara emosional. Karena itu, mengatasi fatherless bukan berarti menyalahkan semua ayah.

Yang diperlukan adalah perubahan cara pandang: Ayah bukan hanya pencari nafkah. Ayah juga pendidik, pelindung, pendamping, dan tempat anak merasa aman.

BACA JUGA: Abu Said Al-Khudri Membersamai Rasulullah ﷺ dan Syahidnya Sang Ayah

Seorang ayah mungkin tidak mampu memberikan seluruh waktunya kepada anak. Tetapi jangan sampai anak tumbuh dengan perasaan bahwa ayahnya tidak pernah punya waktu untuk dirinya.

Sebab pada akhirnya, anak mungkin tidak akan mengingat berapa banyak uang yang pernah kita berikan. Mereka lebih mungkin mengingat:

“Ayah dulu sering mendengarkan ceritaku.”

“Ayah selalu datang ketika aku membutuhkan.”

“Ayah membuatku merasa aman.”

Dan mungkin, itulah salah satu warisan terbesar yang bisa diberikan seorang ayah kepada anaknya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *