MEMILIH pasangan hidup bukan seperti memilih barang yang bisa dikembalikan ketika tidak sesuai harapan. Pernikahan adalah keputusan besar yang akan memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka panjang.
Karena itu, banyak orang bertanya:
Dalam memilih pasangan, mana yang lebih penting: agama, akhlak, atau ekonomi?
Ada yang mengatakan, “Yang penting agamanya.”
Ada yang menjawab, “Agama saja tidak cukup, akhlaknya juga harus baik.”
Sementara sebagian orang berpikir, “Kalau ekonominya belum mapan, bagaimana mau membangun rumah tangga?”
Lalu, bagaimana Islam memandang persoalan ini?
BACA JUGA: Kenapa Setelah Menikah, Sifat Buruk Pasangan Muncul Semua?
1. Agama adalah fondasi utama
Dalam memilih pasangan, agama memiliki kedudukan yang sangat penting.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang kriteria memilih pasangan, yang maknanya:
“Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa harta, keturunan, dan penampilan memang bisa menjadi pertimbangan manusia. Tetapi agama seharusnya menjadi perhatian utama.
Mengapa? Karena pasangan bukan hanya teman hidup ketika senang. Ia juga akan menjadi teman ketika menghadapi ujian, kesulitan, masalah keluarga, dan berbagai persoalan kehidupan.
Pasangan yang memahami agama diharapkan memiliki kesadaran bahwa pernikahan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga tentang menjalankan amanah dan beribadah kepada Allah.
2. Tetapi agama tanpa akhlak juga perlu diperhatikan
Memiliki pengetahuan agama tidak otomatis membuat seseorang memiliki akhlak yang baik.
Ada orang yang rajin beribadah tetapi mudah marah. Ada yang banyak berbicara tentang agama tetapi kasar kepada pasangan. Ada pula yang terlihat sangat religius di depan orang lain tetapi buruk ketika berada di rumah.
Karena itu, jangan hanya melihat seberapa banyak seseorang berbicara tentang agama.
Lihat bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Bagaimana sikapnya kepada orang tua?
Bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih lemah?
Bagaimana sikapnya ketika sedang marah?
Apakah ia bisa meminta maaf?
Apakah ia jujur?
Apakah ia bisa memegang amanah?
Bagaimana caranya menghadapi perbedaan pendapat?
Hal-hal seperti ini sangat penting dalam kehidupan rumah tangga.
Sebab pernikahan bukan hanya membutuhkan orang yang mengetahui teori agama, tetapi juga membutuhkan orang yang berusaha menerapkan nilai agama dalam perilaku sehari-hari.
3. Lalu bagaimana dengan ekonomi?
Ekonomi juga bukan sesuatu yang boleh diabaikan.
Pernikahan membutuhkan kebutuhan hidup: makanan, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itu, calon pasangan perlu memiliki kesiapan dan tanggung jawab ekonomi sesuai kemampuannya.
Namun, jangan sampai ukuran “mapan” berubah menjadi tuntutan yang tidak realistis.
Seseorang mungkin belum memiliki rumah mewah, mobil mahal, atau tabungan ratusan juta rupiah, tetapi memiliki pekerjaan halal, bertanggung jawab, mau bekerja keras, tidak boros, dan memiliki perencanaan kehidupan yang baik.
Orang seperti ini bisa jadi jauh lebih siap membangun rumah tangga dibanding seseorang yang memiliki banyak harta tetapi tidak bertanggung jawab.
Kaya belum tentu bertanggung jawab, dan sederhana belum tentu kekurangan.
Yang penting adalah bagaimana seseorang memperoleh dan mengelola rezekinya.
4. Jangan memilih pasangan hanya karena hartanya
Harta memang bisa memberikan kenyamanan, tetapi harta tidak menjamin ketenangan rumah tangga.
Apa gunanya memiliki pasangan kaya jika ia suka merendahkan, kasar, tidak setia, tidak bertanggung jawab, atau tidak menghormati pasangannya?
Harta bisa habis.
Pekerjaan bisa hilang.
Bisnis bisa bangkrut.
Kondisi ekonomi bisa berubah.
Tetapi karakter dan akhlak seseorang akan sangat menentukan bagaimana ia menghadapi perubahan tersebut.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa penghasilannya?”
Tanyakan juga:
“Bagaimana cara dia mendapatkan penghasilan itu?”
Apakah halal?
Apakah dia bertanggung jawab?
Apakah dia bisa mengatur keuangan?
Apakah dia mau bekerja keras?
Apakah dia punya kebiasaan berutang secara tidak terkendali?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar melihat jumlah penghasilannya.
5. Jangan pula mengabaikan kesiapan ekonomi demi label “orang saleh”
Sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan alasan agama untuk mengabaikan tanggung jawab duniawi.
Menjadi orang yang rajin ibadah bukan berarti tidak perlu bekerja.
Seorang calon suami tetap perlu memikirkan nafkah. Calon istri juga perlu memiliki pemahaman tentang pengelolaan rumah tangga dan keuangan sesuai kesepakatan dan kondisi keluarga.
Rumah tangga membutuhkan cinta, ibadah, akhlak, sekaligus tanggung jawab.
Karena itu, mencari pasangan sebaiknya bukan sekadar mencari orang yang terlihat saleh, tetapi mencari orang yang mau bertumbuh bersama dalam kebaikan dan bertanggung jawab terhadap perannya.
6. Jangan hanya melihat pasangan ketika sedang jatuh cinta
Ketika sedang jatuh cinta, kekurangan seseorang sering kali terlihat sebagai sesuatu yang kecil.
“Dia memang pemarah, tapi nanti juga berubah.”
“Dia boros, tapi mungkin setelah menikah akan sadar.”
“Dia tidak bertanggung jawab, tapi saya yakin nanti bisa berubah.”
Masalahnya, jangan menjadikan pernikahan sebagai proyek untuk mengubah seseorang.
Memang manusia bisa berubah. Tetapi jangan menikahi seseorang hanya berdasarkan harapan bahwa setelah menikah dia pasti berubah menjadi seperti yang kita inginkan.
Lihat bagaimana dirinya sekarang.
Kenali karakternya.
Perhatikan kebiasaannya.
Cari tahu bagaimana ia menghadapi masalah.
Dan yang tidak kalah penting, lakukan istikharah serta libatkan keluarga atau orang-orang yang dapat memberikan nasihat dengan objektif.
7. Jadi, mana yang paling penting?
Jika harus menentukan prioritas, agama adalah fondasi yang sangat penting.
Namun agama perlu terlihat dalam akhlak dan tanggung jawab.
Sementara ekonomi juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari kesiapan membangun rumah tangga.
Dengan kata lain:
Agama menjadi fondasi, akhlak menjadi cerminan, dan ekonomi menjadi salah satu penunjang kehidupan rumah tangga.
Jangan mencari pasangan hanya karena wajahnya.
Jangan hanya karena hartanya.
Jangan hanya karena pekerjaannya.
Dan jangan hanya karena terlihat religius.
BACA JUGA: Pernah Zina Sebelum Menikah, Apakah Harus Jujur kepada Pasangan?
Carilah seseorang yang memiliki agama yang baik, akhlak yang baik, bertanggung jawab, serta memiliki kesiapan untuk membangun kehidupan bersama.
Sebab pasangan hidup bukan hanya seseorang yang akan menemani kita ketika hidup sedang nyaman.
Ia adalah orang yang akan bersama kita ketika menghadapi sakit, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, kegagalan, dan berbagai ujian kehidupan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
“Apakah dia kaya?” atau, apakah dia terlihat saleh?”
Tetapi: “Apakah orang ini bisa menjadi teman yang membantu saya semakin dekat kepada Allah, memperlakukan saya dengan baik, dan bersama-sama bertanggung jawab membangun keluarga?”
Jika jawabannya positif, itulah salah satu tanda bahwa seseorang layak dipertimbangkan sebagai pasangan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

