Benarkah Pekerjaan Semakin Susah, atau Orang Semakin Malas Berusaha?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Unsplash

KALIMAT “sekarang cari kerja susah” semakin sering terdengar. Lulusan sekolah dan perguruan tinggi mengirim lamaran ke banyak perusahaan, tetapi belum tentu mendapatkan panggilan. Di sisi lain, ada juga orang yang sudah ditawari pekerjaan tetapi menolak karena gajinya dianggap terlalu kecil, pekerjaannya terlalu berat, atau lokasinya terlalu jauh.

Lalu, sebenarnya mana yang benar? Apakah memang pekerjaan sekarang semakin sulit didapat, atau justru sebagian orang semakin malas berusaha?

Jawabannya tidak bisa hanya memilih salah satu. Kondisi pasar kerja memang memiliki tantangan nyata, tetapi pada saat yang sama ada pula persoalan sikap, keterampilan, ekspektasi, dan kemauan seseorang dalam mencari nafkah.

BACA JUGA: Kalau Semua Rezeki Sudah Diatur Allah, Mengapa Kita Tetap Harus Bekerja Keras?

Data menunjukkan pekerjaan tetap ada, tetapi persaingannya ketat

Kalau melihat data terbaru Badan Pusat Statistik, situasi ketenagakerjaan Indonesia sebenarnya tidak sesederhana “tidak ada pekerjaan”. Pada Mei 2026, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 148,19 juta orang, naik sekitar 522 ribu orang dibanding Februari 2026. Tingkat Pengangguran Terbuka juga berada di angka 4,65 persen.

Namun, angka tersebut tidak berarti semua orang mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginannya. Jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang, sehingga persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tetap sangat besar.

Apalagi tidak semua pekerjaan menawarkan gaji, lokasi, jam kerja, dan status pekerjaan yang diharapkan pencari kerja. Inilah yang sering membuat seseorang mengatakan, “Pekerjaan memang ada, tetapi pekerjaan yang saya inginkan tidak ada.”

Di Jawa Barat tantangannya lebih terasa

Kondisi tiap daerah juga berbeda. Di Jawa Barat, misalnya, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 tercatat 6,61 persen, lebih tinggi daripada angka nasional sebesar 4,65 persen. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja di Jawa Barat mencapai 25,31 juta orang.

Artinya, keluhan mengenai sulitnya mencari pekerjaan memang tidak boleh langsung dianggap sebagai alasan orang malas. Ada daerah dan kelompok tertentu yang menghadapi persaingan kerja lebih berat.

Selain itu, kualitas pekerjaan juga menjadi persoalan. Seseorang mungkin sudah bekerja, tetapi pekerjaannya tidak memberikan penghasilan yang cukup atau hanya berupa pekerjaan paruh waktu. Jadi, membedakan antara “tidak punya pekerjaan” dan “punya pekerjaan yang layak” sangat penting.

Tetapi jangan pula semua kesulitan menyalahkan keadaan

Di sisi lain, ada orang yang mengatakan tidak ada pekerjaan, padahal sebenarnya hanya mencari pekerjaan yang memenuhi banyak syarat.

Gajinya harus tinggi, tempatnya harus dekat rumah, jam kerjanya harus nyaman, tidak boleh terlalu banyak lembur, pekerjaannya tidak boleh terlalu berat, dan harus sesuai dengan pendidikan. Ketika semua syarat tersebut tidak terpenuhi, akhirnya seseorang memilih menganggur.

Tidak ada yang salah dengan mempunyai standar. Tetapi jika kebutuhan hidup sudah mendesak, seseorang terkadang perlu memulai dari pekerjaan yang tersedia sambil terus mencari kesempatan yang lebih baik.

Jangan sampai gengsi membuat seseorang menolak pekerjaan halal yang sebenarnya bisa menjadi pintu rezeki.

Pekerjaan pertama tidak harus menjadi pekerjaan impian

Banyak orang ingin langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita setelah lulus sekolah atau kuliah. Kenyataannya, perjalanan karier sering kali tidak berjalan seperti itu.

Ada orang yang memulai sebagai pegawai biasa, pekerja lapangan, sales, kasir, operator, kurir, teknisi, atau pekerjaan lainnya. Dari sana ia memperoleh pengalaman, membangun jaringan, belajar disiplin, lalu perlahan mendapatkan posisi yang lebih baik.

Karena itu, jangan meremehkan pekerjaan halal hanya karena statusnya tidak terlihat bergengsi.

Yang penting adalah pekerjaan tersebut halal, tidak merendahkan martabat, dan dapat menjadi sarana memenuhi kebutuhan hidup. Selama seseorang terus belajar dan meningkatkan kemampuan, pekerjaan pertama bukan berarti menjadi pekerjaan terakhir.

Masalah lain: keterampilan tidak selalu sesuai kebutuhan pasar

Ada pula orang yang sudah melamar puluhan perusahaan tetapi tidak kunjung diterima. Setelah diperiksa, ternyata masalahnya bukan hanya kurangnya lapangan pekerjaan, tetapi keterampilan yang dimiliki belum sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Dunia kerja berubah dengan cepat. Perusahaan membutuhkan kemampuan yang mungkin berbeda dari beberapa tahun lalu. Teknologi, digitalisasi, otomatisasi, kemampuan komunikasi, analisis data, pelayanan pelanggan, bahasa asing, dan berbagai keterampilan teknis semakin penting dalam banyak bidang.

Karena itu, mencari pekerjaan seharusnya berjalan bersamaan dengan meningkatkan kemampuan. Jangan hanya mengirim ratusan lamaran tanpa mengevaluasi mengapa lamaran tersebut tidak mendapatkan respons.

Dalam Islam, mencari rezeki membutuhkan ikhtiar

Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk hanya menunggu rezeki datang. Tawakal bukan berarti duduk diam sambil mengatakan, “Kalau memang rezeki saya, pasti datang.”

Allah SWT berfirman:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini memberikan gambaran bahwa setelah menunaikan kewajiban, manusia diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah.

Maka seorang Muslim yang sedang mencari pekerjaan perlu berusaha. Membuat lamaran, memperbaiki CV, belajar keterampilan baru, mendatangi tempat kerja, membangun jaringan, membuka usaha kecil, dan mencoba berbagai peluang adalah bagian dari ikhtiar.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Jangan gengsi dengan pekerjaan halal

Salah satu penghambat rezeki bisa datang dari gengsi.

Ada orang yang sebenarnya bisa berjualan, tetapi malu karena takut diejek teman. Ada yang bisa menjadi pekerja lapangan, tetapi merasa pekerjaannya terlalu rendah. Ada yang bisa membuka usaha kecil, tetapi tidak mau karena ingin terlihat sukses di media sosial.

Padahal, ukuran kemuliaan seseorang bukan pada seberapa mahal pekerjaannya terlihat di mata manusia. Yang lebih penting adalah apakah penghasilannya halal dan apakah ia menjalankan pekerjaannya dengan jujur.

Pekerjaan sederhana tetapi halal jauh lebih baik daripada pekerjaan yang terlihat mewah tetapi penghasilannya diperoleh dengan cara yang haram.

Tetapi jangan menyalahkan orang yang menganggur

Kita juga harus berhati-hati agar tidak jatuh pada ekstrem sebaliknya. Jangan setiap melihat orang menganggur langsung mengatakan, “Dia malas.”

Ada orang yang sudah berusaha keras tetapi belum mendapatkan kesempatan. Ada yang tinggal di daerah dengan lapangan pekerjaan terbatas. Ada yang keterampilannya belum cocok dengan kebutuhan pasar. Ada pula yang menghadapi kondisi keluarga atau ekonomi yang membuat pencarian kerja menjadi lebih sulit.

Karena itu, nasihat harus disampaikan dengan adil. Jika seseorang memang malas, dorong dia untuk bangkit. Tetapi jika seseorang sudah berusaha dan belum berhasil, jangan justru menambah beban dengan menghina atau meremehkannya.

Ada perbedaan antara malas dan selektif

Menolak satu pekerjaan tidak otomatis berarti malas. Seseorang boleh mempertimbangkan gaji, jarak, keamanan, kondisi keluarga, dan masa depan karier sebelum menerima pekerjaan.

Namun, kalau seseorang sudah berbulan-bulan tidak bekerja, tidak mau belajar, tidak mau mencoba usaha, tidak mau mencari peluang, tetapi setiap hari mengeluh bahwa pemerintah atau perusahaan tidak menyediakan pekerjaan, maka ia juga perlu melakukan introspeksi.

Jangan sampai kita menuntut dunia berubah, tetapi diri sendiri tidak mau berubah.

Rezeki memang sudah ditentukan, tetapi usaha tetap wajib

Dalam keyakinan Islam, rezeki berada dalam ketetapan Allah. Namun, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha.

Petani tidak mengatakan, “Kalau Allah memberi rezeki, tanaman ini akan tumbuh tanpa saya tanam.” Pedagang tidak berkata, “Kalau rezeki saya ada, pembeli akan datang meskipun saya tidak membuka toko.” Begitu juga pencari kerja tidak seharusnya hanya menunggu tanpa melakukan ikhtiar.

Kita tidak mengetahui di mana Allah meletakkan rezeki kita. Karena itu, tugas manusia adalah berusaha dengan cara yang halal, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Jadi, pekerjaan memang semakin susah atau orang semakin malas?

Keduanya bisa terjadi, tetapi tidak boleh digeneralisasi.

Data terbaru menunjukkan pasar kerja Indonesia tetap menyerap tenaga kerja dan jumlah pengangguran terbuka secara nasional berada di 4,65 persen pada Mei 2026. Namun, angka regional seperti Jawa Barat yang mencapai 6,61 persen menunjukkan bahwa tantangan mencari pekerjaan memang berbeda-beda antarwilayah.

Jadi, ketika seseorang mengatakan “mencari kerja sekarang susah”, jangan langsung menuduhnya malas. Tetapi ketika seseorang sudah mendapatkan berbagai kesempatan kerja halal lalu menolak semuanya hanya karena gengsi, tidak mau belajar, dan tidak mau berusaha, ia juga perlu bercermin.

BACA JUGA: Pilih Suami Pekerja Keras Tapi Tidak Shalat, atau Suami Kerja Santai tapi Shalat?

Barangkali masalahnya bukan hanya pada keadaan ekonomi. Bisa jadi ada keterampilan yang harus ditingkatkan, cara mencari kerja yang perlu diperbaiki, atau ekspektasi yang harus disesuaikan.

Pada akhirnya, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk menunggu pekerjaan sempurna. Carilah rezeki yang halal, mulai dari apa yang mampu dilakukan, terus tingkatkan kemampuan, dan jangan gengsi terhadap pekerjaan yang halal.

Sebab terkadang pintu rezeki yang besar justru dibuka Allah melalui pekerjaan kecil yang awalnya kita anggap tidak bergengsi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *