DALAM rumah tangga, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Suami bisa marah.
Istri juga bisa kecewa.
Masalahnya bukan apakah kemarahan pernah terjadi.
Tetapi bagaimana pasangan menghadapinya.
Ketika suami sedang marah, apakah istri harus selalu diam?
Atau boleh menjawab dan menjelaskan keadaan sebenarnya?
Diam Tidak Selalu Berarti Wajib
Tidak ada aturan bahwa setiap kali suami marah, istri harus selalu diam tanpa boleh berbicara.
Istri tetap memiliki hak untuk menjelaskan sesuatu.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, menjelaskan keadaan justru diperlukan agar masalah tidak menjadi semakin besar.
BACA JUGA: Suami Rajin Shalat, Tapi Istri ke Mana-Mana Cuma Pakai Daster, Bagaimana?
Namun, ada perbedaan antara menjelaskan dan melawan dengan emosi.
Menjelaskan berarti menyampaikan fakta dengan tenang.
Sedangkan membalas kemarahan dengan kemarahan biasanya membuat konflik semakin panjang.
Rasulullah Mengajarkan Pengendalian Marah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini berlaku bagi semua orang.
Termasuk suami dan istri.
Jadi, ketika suami marah, tanggung jawab mengendalikan emosi bukan hanya berada di pihak istri.
Suami juga memiliki kewajiban untuk menjaga ucapan dan sikapnya.
Marah bukan alasan untuk melakukan kekerasan, penghinaan, atau tindakan yang menyakiti pasangan.
Kapan Sebaiknya Istri Diam?
Diam bisa menjadi pilihan ketika suasana sedang sangat panas.
Misalnya suami sedang emosi dan pembicaraan justru membuat pertengkaran semakin besar.
Dalam keadaan seperti ini, memberikan waktu untuk menenangkan diri dapat menjadi pilihan yang bijak.
Bukan berarti istri mengakui dirinya salah.
Bukan pula berarti suami selalu benar.
Diam sementara bisa menjadi cara untuk menghentikan pertengkaran.
Setelah suasana lebih tenang, pembicaraan dapat dilanjutkan.
Kapan Istri Boleh Menjawab?
Istri boleh menjawab ketika perlu memberikan penjelasan.
Misalnya suami marah karena salah memahami suatu keadaan.
Istri berhak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi gunakan kalimat yang tidak memancing emosi.
Daripada berkata, “Mas memang selalu salah paham!”
Lebih baik mengatakan:
“Boleh saya jelaskan dulu supaya tidak terjadi salah paham?”
Kalimat sederhana seperti ini dapat mengubah suasana pembicaraan.
Jangan Jadikan Kemarahan sebagai Alasan untuk Menyakiti
Dalam rumah tangga, marah adalah emosi.
Tetapi menyakiti pasangan adalah tindakan.
Keduanya harus dibedakan.
Suami tidak boleh menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk menghina atau melakukan kekerasan.
Begitu juga istri tidak seharusnya membalas dengan hinaan dan perkataan yang merendahkan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19 agar suami mempergauli istrinya dengan cara yang ma’ruf atau baik.
Prinsip ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri harus dibangun dengan perlakuan yang baik.
Dari Sisi Psikologi
Secara umum, ketika seseorang sedang sangat marah, kemampuan untuk berpikir secara tenang dapat terganggu.
Karena itu, menyelesaikan masalah saat emosi sedang memuncak sering kali tidak efektif.
Memberikan jeda dapat membantu seseorang menurunkan ketegangan.
Setelah keduanya lebih tenang, masalah dapat dibicarakan kembali.
Namun, jeda sebaiknya bukan bentuk menghilang tanpa penjelasan.
Cukup katakan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan setelah suasana lebih tenang.
BACA JUGA: Istri Sakit-sakitan, Tak Bisa Laksanakan Kewajiban, Suami Harus Bagaimana?
Rumah Tangga Bukan Tempat Mencari Pemenang
Dalam rumah tangga, tujuan utama bukan menentukan siapa yang menang.
Tujuannya adalah menyelesaikan masalah.
Suami tidak harus selalu menang.
Istri juga tidak harus selalu mengalah.
Yang dibutuhkan adalah saling memahami.
Jika suami sedang marah, istri boleh memilih diam untuk sementara.
Tetapi jika ada hal yang perlu dijelaskan, istri juga boleh berbicara dengan cara yang baik.
Sebaliknya, suami juga perlu belajar mendengarkan.
Sebab komunikasi yang sehat bukan hanya tentang siapa yang berbicara.
Tetapi juga tentang siapa yang mau mendengarkan.
Pada akhirnya, diam boleh, menjawab juga boleh.
Yang perlu dijaga adalah adab, waktu, cara berbicara, dan tujuan pembicaraan.
Jangan sampai masalah kecil berubah menjadi luka yang panjang hanya karena keduanya sama-sama ingin didengar tetapi tidak ada yang mau memahami. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

