KISAH banjir pada zaman Nabi Nuh AS merupakan salah satu peristiwa besar yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Air bah datang setelah Nabi Nuh berdakwah dalam waktu yang sangat panjang, tetapi kaumnya tetap menolak ajakan untuk menyembah Allah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah banjir Nabi Nuh menenggelamkan seluruh permukaan Bumi, atau hanya wilayah tempat kaumnya tinggal?
Pertanyaan ini menarik karena berkaitan dengan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, penjelasan para ulama, dan bukti sejarah yang dapat diteliti manusia. Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan antara apa yang ditegaskan oleh wahyu dan apa yang masih menjadi pembahasan para ulama.
Banjir Besar yang Diceritakan Al-Qur’an
Al-Qur’an mengisahkan bagaimana Nabi Nuh AS menghadapi kaumnya yang terus mendustakan dakwahnya. Setelah datang perintah Allah, banjir besar pun terjadi dan orang-orang yang ingkar ditenggelamkan.
Allah berfirman: “Maka Kami pun membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11–12).
BACA JUGA: Dialog Nabi Nuh dengan Anaknya dari Atas Kapal
Gambaran tersebut menunjukkan dahsyatnya banjir yang terjadi atas ketetapan Allah. Air datang dari langit dan memancar dari bumi, lalu keduanya bertemu dalam peristiwa yang telah ditentukan.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang bencana alam. Di dalamnya terdapat pelajaran mengenai keteguhan Nabi Nuh, akibat mendustakan rasul, dan kekuasaan Allah atas seluruh makhluk.
Allah juga menceritakan bahwa kapal Nabi Nuh berlayar di tengah gelombang yang tinggi. Hal itu menunjukkan betapa besar dan mengerikannya banjir yang terjadi saat itu.
Apakah Seluruh Permukaan Bumi Terendam?
Inilah bagian yang paling sering diperdebatkan. Ada dua pandangan yang dikenal dalam penafsiran kisah banjir Nabi Nuh AS: banjir yang meliputi seluruh Bumi dan banjir besar yang meliputi wilayah tempat kaum Nabi Nuh tinggal.
Sebagian ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, berpandangan bahwa banjir tersebut meliputi seluruh Bumi. Mereka memahami sejumlah ayat sebagai petunjuk bahwa semua manusia yang hidup ketika itu, selain yang diselamatkan di dalam kapal, binasa akibat banjir.
Di sisi lain, ada ulama yang berpendapat bahwa banjir itu terjadi di wilayah tertentu. Ibnu Athiyyah, misalnya, disebut memiliki pandangan yang mengarah pada cakupan regional. Pendukung pandangan ini menilai bahwa Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut ukuran geografis banjir tersebut.
Jadi, apakah airnya menutupi setiap benua dan seluruh daratan di planet ini? Al-Qur’an tidak menyebutkan ukuran, luas wilayah, atau ketinggian air banjir Nabi Nuh dalam angka yang pasti. Karena itu, kita tidak tepat menetapkan luasnya dalam kilometer persegi atau menyebut semua puncak gunung di dunia pasti terendam berdasarkan angka yang tidak memiliki landasan kuat.
Penelitian sejarah dan geologi membahas kemungkinan terjadinya banjir besar pada masa lampau, termasuk di kawasan Mesopotamia, wilayah yang berada di sekitar aliran Sungai Tigris dan Eufrat. Namun, bukti banjir besar di suatu kawasan tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh permukaan Bumi pernah terendam pada waktu yang sama. Kajian mengenai hubungan bukti arkeologi dan penafsiran kisah Nabi Nuh pun menunjukkan adanya perbedaan pendekatan.
Perlu dibedakan bahwa penelitian ilmiah mengkaji bukti fisik, sedangkan wahyu memberikan petunjuk keagamaan dan pelajaran bagi manusia. Bukti geologi yang ditemukan sejauh ini tidak membuktikan terjadinya banjir global yang menutupi seluruh Bumi pada masa sejarah manusia. Akan tetapi, hal itu juga tidak dengan sendirinya menentukan bagaimana setiap ayat harus ditafsirkan.
Karena itu, kita sebaiknya tidak mencampuradukkan temuan ilmiah, pendapat ulama, dan keterangan Al-Qur’an seolah-olah semuanya menyampaikan hal yang sama.
BACA JUGA: 10 Fakta Bahtera Nabi Nuh
Apa Pelajaran Terpenting dari Banjir Nabi Nuh?
Terlepas dari perbedaan pandangan tentang luas wilayah yang terendam, inti kisah Nabi Nuh tetaplah penting: beliau berdakwah dengan sabar dalam waktu yang sangat panjang, sementara kaumnya terus menolak kebenaran.
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-‘Ankabut: 14).
Kisah ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang menerima atau menolaknya. Kisah tersebut juga mengingatkan manusia agar tidak meremehkan peringatan Allah dan agar bersabar dalam menjalankan ketaatan.
Kesimpulannya, seberapa luas Bumi terendam saat banjir Nabi Nuh? Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama: sebagian memahami banjir itu meliputi seluruh Bumi, sementara sebagian lainnya berpandangan bahwa banjir tersebut bersifat regional. Al-Qur’an tidak memberikan ukuran geografis dalam angka yang pasti. Karena itu, yang paling penting adalah memahami kisah ini dengan jujur, membedakan dalil yang tegas dari penafsiran, dan mengambil pelajaran dari keteguhan Nabi Nuh AS. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


