WAFATNYA Rasulullah Muhammad ﷺ merupakan peristiwa paling menyedihkan bagi para sahabat. Sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya, pemimpin, sekaligus pembimbing umat Islam itu akhirnya kembali kepada Allah pada tahun 11 Hijriah.
Di tengah suasana duka yang mendalam, para sahabat kemudian mengurus jenazah beliau dengan penuh penghormatan. Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang mendapat kehormatan untuk memandikan jenazah Rasulullah ﷺ? Apakah para sahabat melakukannya seperti memandikan jenazah kaum Muslimin pada umumnya?
Ternyata, yang menangani langsung pemandian jenazah Rasulullah ﷺ adalah keluarga dan orang-orang terdekat beliau. Ada beberapa nama penting yang terlibat dalam proses tersebut.
Siapa Saja yang Memandikan Jenazah Rasulullah ﷺ?
Orang yang memimpin langsung proses pemandian jenazah Rasulullah ﷺ adalah Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ, suami dari Fatimah az-Zahra.
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan dikutip dalam kitab-kitab sejarah, Ali bertugas memandikan jasad Rasulullah ﷺ. Ia mendekap tubuh beliau ke dadanya, sementara Al-Abbas bin Abdul Muthalib serta kedua putranya, Al-Fadhl dan Qutham, membantu membalikkan posisi tubuh beliau.
BACA JUGA: Benarkah Keringat Rasulullah ﷺ Baunya Harum? Ini Keterangannya
Sementara itu, Usamah bin Zaid dan Syuqran, mantan budak yang telah dimerdekakan Rasulullah ﷺ, bertugas menuangkan air untuk keperluan pemandian.
Ada pula seorang sahabat Anshar bernama Aus bin Khauli. Ia meminta kepada Ali agar diperbolehkan ikut menyaksikan dan mengambil bagian dalam penghormatan terakhir kepada Rasulullah ﷺ. Ali kemudian mengizinkannya masuk.
Dengan demikian, orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut adalah:
– Ali bin Abi Thalib.
– Al-Abbas bin Abdul Muthalib.
– Al-Fadhl bin Al-Abbas.
– Qutham bin Al-Abbas.
– Usamah bin Zaid.
– Syuqran, mantan budak Rasulullah ﷺ.
– Aus bin Khauli, sahabat Anshar yang diizinkan masuk.
Perlu diperhatikan, tidak semua orang tersebut melakukan pekerjaan memandikan secara langsung. Masing-masing memiliki peran berbeda dalam prosesnya.
Mengapa Rasulullah ﷺ Dimandikan dengan Tetap Mengenakan Pakaian?
Salah satu hal menarik dalam peristiwa ini adalah Rasulullah ﷺ tidak dilepaskan pakaiannya ketika dimandikan.
Biasanya, jenazah seorang Muslim dimandikan dengan membuka pakaian yang dikenakannya, kemudian menutup auratnya menggunakan kain. Namun, dalam peristiwa wafatnya Rasulullah ﷺ, para sahabat memandikan beliau dengan tetap mengenakan gamis.
Riwayat dari Aisyah menyebutkan bahwa para sahabat sempat berbeda pendapat. Sebagian mempertanyakan apakah pakaian Rasulullah ﷺ harus dilepaskan sebagaimana jenazah pada umumnya atau beliau dimandikan dengan tetap mengenakannya.
Kemudian, dalam riwayat sejarah tersebut, mereka mendengar seruan dari arah rumah yang memerintahkan agar Rasulullah ﷺ dimandikan dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Akhirnya, mereka pun melaksanakan pemandian dengan cara tersebut.
Ali memasukkan tangannya dari bawah pakaian untuk membersihkan tubuh Rasulullah ﷺ, tanpa membuka pakaian beliau. Air dituangkan oleh Usamah dan Syuqran, sementara Al-Abbas, Al-Fadhl, dan Qutham membantu menggerakkan tubuh beliau.
Siapa yang Turun ke Liang Lahad Rasulullah ﷺ?
Setelah proses pemandian selesai, jenazah Rasulullah ﷺ kemudian dikafani dan dipersiapkan untuk dimakamkan.
Dalam sejumlah riwayat sejarah, ada empat orang yang disebut turun ke liang lahad untuk meletakkan jasad Rasulullah ﷺ, yaitu:
– Ali bin Abi Thalib.
– Al-Fadhl bin Al-Abbas.
– Qutham bin Al-Abbas.
– Syuqran, mantan budak Rasulullah ﷺ.
Syuqran juga disebut memiliki kenangan khusus bersama Rasulullah ﷺ. Dalam salah satu riwayat, ia memasukkan sehelai kain yang biasa digunakan Rasulullah ﷺ ke dalam liang lahad beliau. Ia tidak ingin kain tersebut dipakai orang lain setelah Rasulullah ﷺ wafat. Riwayat ini disebutkan dalam pembahasan pemakaman Rasulullah ﷺ, meskipun kekuatan sanad sebagian rincian kisah tersebut diperselisihkan.
Adapun orang yang menggali liang lahad Rasulullah ﷺ adalah Abu Thalhah Al-Anshari. Ia dikenal sebagai orang yang biasa membuat liang lahad untuk penduduk Madinah.
Pelajaran dari Pengurusan Jenazah Rasulullah ﷺ
Peristiwa ini menyimpan pelajaran yang sangat menyentuh. Orang-orang yang mendapatkan kehormatan untuk memandikan Rasulullah ﷺ adalah keluarga dan sahabat terdekat beliau.
Ali bin Abi Thalib, yang begitu dekat dengan Rasulullah ﷺ sejak kecil, mendapatkan tugas yang sangat berat sekaligus mulia. Ia harus memandikan sosok yang dicintainya dalam keadaan telah wafat.
Bayangkan betapa berat perasaan para sahabat ketika harus mengurus jenazah manusia yang selama ini menjadi panutan dan pemimpin mereka.
Namun, mereka tetap menjalankan kewajiban tersebut dengan penuh penghormatan.
Jadi, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang memimpin langsung pemandian jenazah Rasulullah ﷺ, dibantu Al-Abbas, Al-Fadhl, Qutham, Usamah bin Zaid, dan Syuqran. Aus bin Khauli juga diizinkan hadir sebagai wakil kaum Anshar.
Sebuah peristiwa sejarah yang mengingatkan kita betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Kecintaan yang tidak hanya terlihat ketika beliau masih hidup, tetapi juga dalam penghormatan terakhir saat beliau meninggalkan dunia.
Semoga Allah meridai Rasulullah ﷺ dan seluruh sahabat beliau. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE






Tulis komentar