BERSUCI (thaharah) adalah kunci utama sahnya ibadah, terutama shalat. Tidak sedikit orang yang rajin shalat, namun kurang memperhatikan cara bersucinya. Padahal, kesalahan kecil dalam thaharah bisa berdampak besar pada diterima atau tidaknya ibadah. Sayangnya, banyak kesalahan dalam bersuci yang sudah dianggap “biasa” karena dilakukan turun-temurun tanpa dikoreksi.
1- Salah satu kesalahan paling umum adalah wudhu yang terburu-buru.
Banyak orang membasuh anggota wudhu hanya sekadar terkena air, tanpa memastikan air mengalir ke seluruh bagian yang wajib. Misalnya, bagian siku yang tidak rata, tumit yang kering, atau sela-sela jari yang tidak terkena air. Nabi ﷺ bahkan memperingatkan: “Celakalah tumit-tumit yang kering dari api neraka.” Ini menunjukkan bahwa kelalaian kecil dalam wudhu bisa berbuntut serius.
BACA JUGA: Macam-Macam Air Menurut Fikih
2- Kesalahan berikutnya adalah tidak menjaga urutan wudhu.
Ada yang membasuh kaki lebih dulu sebelum tangan, atau mengusap kepala sebelum membasuh wajah. Padahal, tertib dalam wudhu merupakan kewajiban menurut mayoritas ulama. Jika urutan ini tidak dijaga, wudhu bisa menjadi tidak sah menurut banyak pendapat.
3- Kesalahan lain yang sering terjadi adalah asal-asalan dalam istinja (bersuci setelah buang air).
Ada yang hanya mengandalkan tisu tipis tanpa memastikan najis benar-benar hilang. Ada pula yang terlalu berlebihan sampai menyakiti diri sendiri karena was-was. Keduanya keliru, karena Islam mengajarkan keseimbangan: najis harus hilang, tetapi tanpa sikap berlebihan.
Banyak juga yang keliru dalam tayammum. Misalnya, menepuk tanah lebih dari yang disyariatkan, atau mengusap wajah dan tangan tanpa niat. Padahal, tayammum adalah ibadah pengganti wudhu yang juga memiliki syarat dan rukun tertentu, bukan sekadar “simbolis”.
BACA JUGA: Kenapa Kita Harus Belajar Fiqih?
4- Kesalahan terakhir yang tak kalah penting adalah menganggap sepele hadas kecil.
Ada yang merasa wudhunya masih sah meski tertidur lelap, keluar angin, atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis (menurut mazhab tertentu). Kurangnya pemahaman ini membuat banyak orang beribadah dalam keadaan yang sebenarnya tidak suci.
Bersuci bukan hanya soal air, tetapi soal ketaatan. Jika thaharah diperbaiki, maka shalat dan ibadah lainnya pun akan lebih berkualitas. Karena itu, belajar fiqih bersuci adalah kebutuhan setiap muslim, bukan sekadar pelengkap. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
