TIDAKKAH sedikit istri yang bertanya-tanya.
“Bukankah suami capek seharian bekerja?”
“Kenapa bukan istirahat dulu, malah ingin jima’?”
Pertanyaan ini wajar.
Namun dalam Islam, keinginan itu bukan sekadar dorongan fisik.
Ada dimensi psikologis, ruhani, dan fitrah yang sering tidak disadari.
Pertama, jima’ adalah cara lelaki melepas lelah, bukan menambah lelah.
Bagi sebagian besar laki-laki, kedekatan dengan istri adalah bentuk relaksasi paling dalam.
Bukan hanya tubuh yang beristirahat, tapi jiwa ikut tenang.
Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa jima’ yang halal dapat menguatkan tubuh, menenangkan jiwa, dan melapangkan hati, selama dilakukan dengan niat yang benar.
Ia bukan sekadar syahwat, tapi kebutuhan fitrah yang Allah tanamkan.
Kedua, lelaki memikul beban yang tidak selalu ia ceritakan.
Di luar rumah, ia dituntut kuat.
Menjadi pencari nafkah.
Menahan emosi.
Menghadapi tekanan.
Menjaga harga diri.
Ketika pulang ke rumah, ia ingin kembali menjadi dirinya yang utuh.
Dan istri adalah satu-satunya tempat ia boleh lemah.
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata,
“Termasuk adab suami kepada istrinya adalah memperlakukan hubungan badan sebagai bentuk kasih sayang, bukan sekadar pemenuhan syahwat.”
Artinya, jima’ bukan sekadar soal biologis, tapi sarana menyambung cinta.
Ketiga, jima’ adalah bahasa cinta lelaki.
Tidak semua lelaki pandai merangkai kata.
Tidak semua bisa mengungkapkan rindu lewat kalimat manis.
Sebagian hanya bisa berkata melalui sentuhan.
Ulama salaf memahami ini.
Mereka tidak memandang jima’ sebagai sesuatu yang kotor.
Justru sebagai ibadah jika diniatkan benar.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dalam hubungan suami istri ada pahala.
Para sahabat heran.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tampak duniawi berpahala?
Jawabannya jelas:
Karena dilakukan di jalan halal.
Karena menjaga diri dari yang haram.
Karena menenangkan pasangan.
Keempat, kelelahan lelaki sering bersifat mental, bukan fisik.
Tubuhnya memang capek.
Tapi yang lebih lelah adalah pikirannya.
Jima’ memberi pelepasan hormon yang menenangkan.
Membuat tidur lebih nyenyak.
Mengembalikan rasa dihargai dan diterima.
Ibnu Abbas رضي الله عنهما pernah menasihati,
“Sesungguhnya aku berhias untuk istriku sebagaimana aku ingin ia berhias untukku.”
Ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri adalah timbal balik, bukan tuntutan sepihak.
BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Jima dengan Suara Berisik?
Kelima, istri adalah rumah bagi suami.
Tempat ia pulang.
Tempat ia merasa aman.
Tempat ia merasa dicintai tanpa syarat.
Maka ketika suami ingin jima’ sepulang kerja, sering kali itu bukan soal nafsu semata.
Itu isyarat:
“Aku lelah.”
“Aku butuh kamu.”
“Aku ingin tenang.”
Namun, Islam juga mengajarkan adab.
Suami tetap wajib lembut.
Memahami kondisi istri.
Tidak memaksa.
Karena cinta tidak pernah lahir dari tekanan.
Jika dua-duanya saling memahami,
jima’ bukan sekadar pemenuhan biologis,
melainkan ibadah yang menguatkan rumah tangga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

