Rumah Dekat Masjid, namun Hatinya Jauh

Umar Faqih
4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

MASJID itu berdiri tak jauh dari rumah.
Langkah kaki hanya butuh beberapa menit.
Bahkan kadang, suara adzan masuk lewat jendela.
Menyentuh dinding.
Menggetarkan udara.

Tapi tidak selalu menyentuh hati.

Banyak orang tinggal dekat dengan masjid.
Namun shalat berjamaah terasa sangat jauh.
Bukan karena kaki yang lumpuh.
Bukan karena jalan yang terhalang.
Melainkan karena hati yang tak terpanggil.

Adzan berkumandang.
“Allahu Akbar.”
Kalimat yang seharusnya membangunkan jiwa.
Menggugah iman.
Menarik tubuh untuk segera berdiri.

BACA JUGA: Kata Mutiara Islam tentang Masjid, Tempat yang Paling Dicintai Allah

Namun sebagian hanya mendengarnya sebagai suara.
Bukan panggilan.
Bukan undangan.
Hanya bunyi yang lewat, lalu hilang.

Rumahnya dekat.
Tapi tempat sujudnya jauh.

Ada yang berkata, “Nanti saja.”
Ada yang beralasan, “Masih ada waktu.”
Ada yang merasa, “Shalat di rumah juga sah.”
Semua benar.
Tapi tidak semuanya menenangkan hati.

Sebab berjamaah bukan sekadar sah.
Ia tentang kehadiran.
Tentang kebersamaan.
Tentang hati yang hidup dan ingin didekatkan kepada Allah.

Masjid bukan hanya bangunan.
Ia rumah Allah di bumi.
Ia tempat jiwa-jiwa lelah bersandar.
Ia tempat iman dirawat agar tidak mati pelan-pelan.

Namun apa jadinya,
jika rumah Allah berdiri megah,
sementara hati kita kosong dan enggan melangkah?

Ada jarak yang lebih jauh dari kilometer.
Yaitu jarak antara telinga dan hati.
Adzan masuk ke telinga.
Tapi berhenti sebelum sampai ke dada.

Mungkin karena hati terlalu sibuk.
Dengan dunia.
Dengan layar.
Dengan urusan yang terasa mendesak,
padahal semuanya fana.

Hati yang jarang diajak ke masjid,
lama-lama kehilangan rindu.
Ia tidak lagi merasa kehilangan saat tertinggal shalat berjamaah.
Tidak lagi merasa sepi saat azan berlalu tanpa langkah.

Padahal para salaf dulu,
jika mendengar adzan,
wajah mereka berubah.
Seolah ada janji yang harus segera dipenuhi.
Seolah ada pertemuan yang tak boleh ditunda.

Mereka tahu,
hati yang hidup akan selalu mencari Allah.
Dan salah satu jalannya adalah berjamaah.

Bukan masjid yang butuh kita.
Tapi kitalah yang butuh masjid.
Butuh lantainya yang dingin.
Butuh shaf yang rapat.
Butuh doa yang diaminkan bersama.

Jika hari ini langkah terasa berat,
mungkin bukan kaki yang lelah.
Tapi hati yang sakit.
Hati yang perlu disembuhkan.

BACA JUGA:  Kenapa ya Uang 50 Ribu Dibawa ke Masjid Terasa Besar Banget tapi kalau Dibawa ke Kafe Jadi Terasa Kecil?

Mulailah dengan memaksa diri.
Karena kadang,
ketaatan mendahului keikhlasan.
Dan dari langkah yang dipaksa itu,
Allah tumbuhkan cinta.

Sebab hati yang sering diajak memenuhi panggilan Allah,
pelan-pelan akan terbiasa.
Dan suatu hari nanti,
ia akan berlari sendiri ke masjid.

Saat itu,
rumah memang tetap dekat.
Namun hati,
akhirnya pulang. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *