7 Penyebab Umat Muslim Ibadahnya Menurun Justru di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

BULAN Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah secara khusus menurunkan satu surat tentang kemuliaan malam tersebut, yaitu dalam Al-Qur’an surat Al-Qadr.

Namun ironisnya, realita yang sering terjadi justru sebaliknya. Di 10 hari terakhir Ramadhan — saat Rasulullah ﷺ semakin mengencangkan ibadahnya — sebagian umat Muslim malah mengalami penurunan semangat. Masjid yang awalnya penuh, mulai renggang. Tilawah yang semula lancar setiap hari, mulai tersendat. Qiyamul lail yang dulu rutin, kini terasa berat.

Mengapa ini bisa terjadi?

Berikut beberapa penyebabnya.

BACA JUGA: Perbedaan Awal Ramadhan pada Era Muawiyah

1. Kelelahan Fisik dan Mental di Pertengahan Ramadhan

Pada awal Ramadhan, semangat biasanya masih membara. Target khatam Al-Qur’an disusun. Jadwal shalat tarawih dijaga. Sedekah ditingkatkan.

Namun memasuki hari ke-20 ke atas, tubuh mulai lelah. Pola tidur berubah. Aktivitas kerja tetap berjalan. Kurang istirahat membuat energi menurun.

Padahal justru di 10 hari terakhir, Rasulullah ﷺ disebut dalam hadits riwayat Aisyah bahwa beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Artinya, secara sunnah, 10 hari terakhir adalah puncak ibadah — bukan masa penurunan.

2. Fokus Bergeser ke Persiapan Lebaran

Inilah realita sosial yang sering terjadi.

Memasuki akhir Ramadhan, perhatian banyak orang beralih pada:

  • Belanja baju baru

  • Menyiapkan kue lebaran

  • Mudik

  • Membersihkan rumah

  • Mengurus THR

Aktivitas duniawi yang sebenarnya mubah ini tanpa sadar menggerus waktu dan energi untuk ibadah.

Padahal inti Ramadhan bukan pada perayaannya, melainkan pada peningkatan ketakwaan.

3. Merasa “Sudah Cukup” Beribadah di Awal

Ada perasaan tidak disadari dalam diri sebagian orang:
“Alhamdulillah, sudah tarawih full 15 hari.”
“Sudah hampir khatam.”
“Sudah banyak sedekah.”

Rasa puas ini bisa menjadi jebakan spiritual. Ibadah berubah dari perjalanan menuju Allah menjadi sekadar checklist target pribadi.

Padahal dalam Islam, amal terbaik adalah yang istiqamah hingga akhir.

https://s.shopee.co.id/70Dwx254QD

4. Godaan Gadget dan Media Sosial

Menjelang lebaran, media sosial dipenuhi:

  • Promo diskon

  • Konten resep

  • Tren outfit lebaran

  • Persiapan mudik

  • Hiburan khusus Ramadhan

Tanpa sadar waktu tilawah tergantikan scrolling. Waktu qiyamul lail tergeser oleh tontonan.

Padahal Allah menjanjikan Lailatul Qadar di malam-malam ganjil 10 hari terakhir. Betapa meruginya jika malam penuh kemuliaan itu terlewat hanya karena layar ponsel.

5. Tidak Memahami Keutamaan 10 Hari Terakhir

Sebagian orang belum memahami betapa dahsyatnya nilai 10 hari terakhir Ramadhan.

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ beri’tikaf di masjid pada 10 malam terakhir untuk mencari Lailatul Qadar.

Malam yang lebih baik dari seribu bulan berarti lebih baik dari sekitar 83 tahun ibadah.

Artinya, satu malam bisa mengubah “neraca akhirat” seseorang.

Jika pemahaman ini kuat, semestinya justru energi spiritual meningkat menjelang akhir.

6. Setan Sudah “Menyiapkan Strategi”

Memang dalam Ramadhan, setan dibelenggu. Namun bukan berarti hawa nafsu hilang.

Nafsu malas, rasa jenuh, dan kecenderungan duniawi tetap ada. Bahkan bisa jadi di akhir Ramadhan, justru ujian keikhlasan muncul.

Apakah kita beribadah karena semangat awal saja?
Ataukah benar-benar karena ingin meraih ridha Allah hingga akhir?

7. Tidak Punya Target Khusus di 10 Hari Terakhir

Banyak orang membuat target Ramadhan secara umum, tapi tidak membuat strategi khusus untuk 10 hari terakhir.

Padahal idealnya:

  • Menambah porsi qiyamul lail

  • Memperbanyak doa

  • Fokus mencari malam ganjil

  • Mengurangi aktivitas yang tidak perlu

Tanpa perencanaan, hari-hari terakhir akan berlalu begitu saja.

BACA JUGA: Istilah-Istilah yang Hanya di Bulan Ramadhan, Ini Artinya

Refleksi: Jangan Sampai Kita Rugi di Garis Finish

Bayangkan seorang pelari maraton yang sudah berlari 40 kilometer, tapi menyerah 200 meter sebelum garis finish.

Begitulah orang yang menurun ibadahnya di 10 hari terakhir Ramadhan.

Justru di sinilah puncaknya. Justru di sinilah kemungkinan Lailatul Qadar. Justru di sinilah ampunan Allah terbuka selebar-lebarnya.

Ramadhan itu seperti tamu agung. Awalnya kita sambut dengan meriah. Tapi jangan sampai saat tamu hendak pulang, kita justru tidak lagi memperhatikannya.

Menurunnya ibadah di 10 hari terakhir Ramadhan bukan karena kurangnya kesempatan, tetapi karena lemahnya kesadaran dan manajemen diri.

Mari kita balik keadaan. Jika awal Ramadhan penuh semangat, maka akhir Ramadhan harus lebih kuat lagi. Karena belum tentu kita bertemu Ramadhan berikutnya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *