PERANG Badar terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Itulah puasa Ramadhan pertama bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Di tengah terik siang, mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Namun pertanyaan yang jarang diajukan adalah: bagaimana mereka mengisi malam-malam Ramadhan di medan pertempuran?
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkisah bahwa pada malam Ramadhan di Badar, tidak ada penunggang kuda yang benar-benar siap tempur kecuali Al-Miqdad. Selebihnya adalah pasukan dengan perlengkapan terbatas, kelelahan setelah perjalanan panjang, dan berpuasa di siang hari.
Malam itu, Ali menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia lupakan. Sebagian besar pasukan tertidur untuk mengumpulkan tenaga. Namun di bawah sebatang pohon, Rasulullah ﷺ berdiri sendirian dalam shalatnya. Beliau terus beribadah hingga waktu subuh tiba.
Dalam menggambarkan suasana itu, Ibn Kathir menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ terus-menerus shalat di bawah pohon tersebut. Dalam sujudnya, beliau berdoa dan mengulang-ulang kalimat:
“Ya Hayyu, ya Qayyum.”
(Wahai Yang Mahahidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri.)
Doa itu diulang berkali-kali, penuh pengharapan dan ketundukan. Air mata beliau mengalir, membasahi tanah Badar. Malam Ramadhan itu tidak diisi dengan strategi perang semata, tetapi dengan munajat panjang kepada Rabb semesta alam.
Beliau berdoa,
“Ya Allah, sesungguhnya aku selalu mengingat janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau menghendaki, Engkau tentu tidak akan diibadahi.”
Dalam kerendahan hati yang mendalam, beliau memohon,
“Ya Allah, janganlah Engkau meninggalkanku. Ya Allah, janganlah Engkau mengacuhkanku. Ya Allah, janganlah Engkau menghinaku.”
Beliau juga berdoa,
“Ya Allah, kaum Quraisy telah datang dengan membawa tunggangan terbaik mereka. Mereka membantah dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, sungguh kami mengharapkan pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan.”
Munajat itu begitu panjang dan penuh tangis hingga selendang beliau terjatuh dari pundaknya. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mendatangi beliau, mengambil selendang tersebut, lalu meletakkannya kembali di atas pundak Rasulullah ﷺ seraya menenangkan beliau.
BACA JUGA: Rasulullah ﷺ Sahur Bersama Zaid bin Tsabit
Di saat itulah turun firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 9:
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(-nya) bagimu (seraya berfirman), ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.’” (Al-Anfal [8]: 9)
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu menggambarkan suasana malam itu dengan ungkapan yang menyayat hati. Ia berkata bahwa ia tidak pernah mendengar suara seseorang yang mencari sesuatu yang hilang dengan penuh kepedihan, melebihi munajat Rasulullah ﷺ pada malam Ramadhan di Badar:
“Ya Allah, sungguh aku meminta kembali apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.”
Demikianlah malam-malam Ramadhan di medan Badar. Siang hari dipenuhi kesiapan menghadapi musuh, sementara malamnya dipenuhi tangisan dan doa. Di sana terlihat dengan jelas bahwa kemenangan kaum Muslimin bukan semata-mata karena kekuatan senjata, melainkan karena ketergantungan total kepada Allah. []
Sumber: Abu Al-Qa’qa Muhammad ibn Shalih, Mudahnya Shalat Malam, Mizana, 2010
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

