DARI Muawiyah bin Abu Sufyan diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang menegakkan perintah Allah. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka, hingga datang ketetapan Allah, sementara mereka tetap menang di atas manusia.”
Sejarah panjang umat Islam membuktikan sabda tersebut. Umat ini pernah melewati fase-fase kegelapan. Pada masa-masa itu, musuh-musuh Islam menguasai wilayah-wilayah vital, merampas harta, merusak kehormatan, dan menumpahkan darah kaum Muslimin. Mayoritas umat mengalami kelelahan dan frustasi.
Namun, di setiap masa suram itu, Allah menghadirkan para pembaharu dan pejuang yang menghidupkan kembali harapan.
Ketika Pasukan Salib menduduki wilayah Syam dan melakukan kerusakan, Allah menyiapkan Imad ad-Din Zengi. Ia bangkit melawan dan melemahkan kekuatan mereka hingga kemenangan diraih. Sepeninggalnya, perjuangan dilanjutkan oleh Nur ad-Din Mahmud yang dikenal karena keberanian, keadilan, dan kebijaksanaannya. Ia berhasil mengalahkan pasukan Salib dalam Perang Tal Harim tahun 559 H.
Puncaknya, Allah memberikan kemenangan besar melalui tangan Salahuddin al-Ayyubi dalam Perang Hittin. Baitul Maqdis dibebaskan dan dikembalikan kepada kaum Muslimin. Perang Salib kemudian diakhiri secara tuntas oleh Baibars dari Bani Mamluk.
Ketika bangsa Tartar melakukan kehancuran yang nyaris tak terlukiskan, manusia mengira mereka tak terkalahkan. Namun Allah menghadirkan Saif ad-Din Qutuz yang mematahkan kekuatan mereka dalam Perang Ain Jalut tahun 658 H. Setelah itu, banyak dari bangsa Tartar yang akhirnya memeluk Islam.
Ujian-ujian lain pun melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Al-Walid bin Abdul Malik yang memperluas wilayah Islam, Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sebagai khalifah kelima karena kezuhudannya, serta Harun al-Rasyid yang memadukan ibadah dan jihad dalam kepemimpinannya.
Pada era Turki Utsmani, Murad I memperluas wilayah hingga Bulgaria, dan Mehmed II membebaskan Konstantinopel.
BACA JUGA: Malam-malam Puasa Ramadhan Rasulullah ﷺ di Badar
Di masa kini, ujian panjang di Palestina melahirkan gelombang perlawanan yang mengguncang peta kekuatan global. Cobaan demi cobaan kembali melahirkan sosok dan generasi yang menyalakan harapan di tengah keterpurukan.
Sejarah menunjukkan satu pola yang sama: setiap krisis melahirkan pembaharu. Setiap tekanan melahirkan kekuatan baru.
Lalu, dari mana lahir generasi seperti itu?
Ramadhan adalah madrasahnya. Puasa menempa jiwa, menguatkan mental, melatih kesabaran, dan membangun kemauan. Dari rahim latihan spiritual inilah lahir generasi yang mampu berdiri tegak di tengah badai zaman. []
Sumber: Ali Muhammad Jarisyah, 5 Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

