BULAN Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid ramai, tilawah terdengar di mana-mana, dan banyak orang yang sebelumnya jarang beribadah mulai kembali mendekat kepada Allah. Namun ada satu fenomena yang cukup sering terjadi: seseorang melaksanakan puasa penuh sebulan, tetapi tidak melaksanakan shalat lima waktu.
Pertanyaannya, bagaimana Islam memandang kondisi ini?
Shalat Adalah Tiang Agama
Dalam ajaran Islam, shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi kewajiban utama yang menjadi fondasi agama. Puasa memang termasuk rukun Islam, tetapi shalat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat.
BACA JUGA: Puasa atas Nama Orang yang Telah Wafat
Jika shalatnya baik, maka amal lainnya akan ikut baik. Namun jika shalatnya rusak atau ditinggalkan, maka amalan lain pun terancam tidak bernilai sempurna.
Puasa Tanpa Shalat, Apakah Sah?
Secara fikih, puasa seseorang tetap sah jika syarat dan rukunnya terpenuhi—meskipun ia tidak shalat. Artinya, dari sisi hukum lahiriah, puasanya dianggap valid.
Namun dari sisi pahala dan kesempurnaan ibadah, tentu sangat berbeda. Puasa bertujuan membentuk ketakwaan. Bagaimana mungkin ketakwaan tumbuh jika kewajiban utama justru diabaikan?
Puasa menahan lapar dan haus, sedangkan shalat adalah bentuk komunikasi langsung dengan Allah lima kali sehari. Jika seseorang mampu menahan makan dan minum selama belasan jam, tetapi tidak mampu meluangkan beberapa menit untuk shalat, ada yang perlu direnungkan.
Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Beberapa alasan yang sering muncul antara lain:
-
Kebiasaan yang belum terbentuk – Puasa terasa “musiman”, sedangkan shalat membutuhkan konsistensi sepanjang tahun.
-
Lingkungan sosial – Banyak orang berpuasa karena tekanan sosial atau budaya, bukan kesadaran pribadi.
-
Kurangnya pemahaman – Ada yang mengira puasa sudah cukup mewakili ketaatan di bulan Ramadhan.
-
Rasa malas dan menunda – Shalat sering ditunda hingga akhirnya terlewat.
Padahal Ramadhan justru momentum terbaik untuk memperbaiki shalat, bukan hanya memperbaiki pola makan.
Bahaya Meremehkan Shalat
Shalat bukan ibadah tambahan. Ia pembeda antara iman dan kekufuran menurut banyak ulama. Meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar.
Puasa melatih pengendalian diri, tetapi shalat menjaga hubungan ruhani dengan Allah. Tanpa shalat, puasa bisa kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi aktivitas fisik menahan lapar dan haus.
Bahkan Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Salah satu penyebabnya adalah karena ia tidak memperbaiki kualitas keimanan dan amal lainnya.
Ramadhan Adalah Titik Awal, Bukan Sekadar Rutinitas
Jika seseorang sudah mampu berpuasa, itu tanda ia masih memiliki iman dan keinginan untuk taat. Jangan berhenti di situ. Jadikan puasa sebagai pintu masuk untuk memperbaiki shalat.
Mulailah dengan satu waktu shalat tepat waktu. Lalu tambah menjadi dua, tiga, hingga lima. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Allah melihat proses dan kesungguhan hati.
BACA JUGA: Hukum Berbuat Dosa Ketika Puasa
Puasa tanpa shalat ibarat membangun dinding tanpa pondasi. Secara kasat mata mungkin terlihat berdiri, tetapi rapuh dan mudah runtuh.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang memperbaiki seluruh hubungan kita dengan Allah. Jika sudah mampu berpuasa, maka sebenarnya kita juga mampu untuk shalat.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan sekadar lapar dan haus yang ditahan, tetapi sujud yang tulus dan hati yang benar-benar kembali kepada-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

