16 Ramadhan 2 H: Penguasaan Wilayah Strategis Badar

3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SESAMPAINYA di Badar, kaum Muslimin berkemah di kawasan al-‘Udwah ad-Dunya, wilayah yang memiliki beberapa sumur air. Posisi ini strategis, namun belum tentu yang paling menguntungkan dalam kondisi perang terbuka.

Seorang sahabat Anshar, Al-Hubab bin al-Mundhir, menghadap Rasulullah ﷺ dan bertanya dengan penuh adab,
“Wahai Rasulullah, apakah tempat ini dipilih berdasarkan wahyu dari Allah, sehingga kita tidak boleh maju atau mundur setapak pun? Ataukah ini sekadar strategi perang?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Ini adalah strategi perang.”

BACA JUGA:  17 Ramadhan 2 H: Kekalahan Quraisy Menjelang Waktu Ashar di Badar

Mendengar itu, Hubab menyampaikan pendapatnya, “Kalau begitu, menurutku bukan di sini tempatnya. Kita sebaiknya maju ke mata air yang paling dekat dengan musuh, lalu menetap di sana. Sumur-sumur di belakangnya kita timbun, dan kita bangun sebuah kolam yang dipenuhi air. Dengan begitu, kita bisa minum, sementara mereka tidak.”

Rasulullah ﷺ memuji usulan tersebut dan menerima pendapatnya. Kaum Muslimin pun segera berpindah dan melaksanakan strategi itu. Keputusan ini menunjukkan keterbukaan Nabi ﷺ terhadap musyawarah dan pertimbangan taktis di medan perang.

Kemudian muncul usulan lain dari Saad bin Muadz. Ia berkata,
“Wahai Nabi Allah, bagaimana jika kami membangun sebuah tempat perlindungan kecil untukmu di dekat kolam itu? Kami siapkan pula tunggangan untukmu. Biarkan kami menghadapi musuh di medan perang.”

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54johp4400l6&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8k5u62pusnw

Saad melanjutkan,
“Jika Allah memberi kemenangan kepada kami, itulah yang kita harapkan. Namun jika terjadi sebaliknya, engkau dapat menaiki tunggangan itu dan kembali kepada kaum Muslimin yang berada di belakang.”

Rasulullah ﷺ memuji Saad dan mendoakan kebaikan untuknya. Usulan itu pun diterima, dan dibangunlah sebuah tempat perlindungan (arish) bagi beliau di lokasi tersebut.

BACA JUGA:  17 Ramadhan 2 H: Malam dan Awal Badar

Sementara itu, di kubu Quraisy terjadi perdebatan. Sebagian dari mereka sebenarnya cenderung untuk kembali ke Mekah setelah kafilah mereka selamat. Namun Abu Jahl bersikeras melanjutkan perjalanan ke Badar. Ia membakar semangat kesombongan dan fanatisme jahiliyah, sehingga pasukan Quraisy tetap maju untuk berperang.

Dengan demikian, pada 16 Ramadhan 2 H, kedua pasukan telah menempati posisi masing-masing. Kaum Muslimin menguasai sumber air secara strategis, sementara Quraisy melangkah maju dengan dorongan gengsi dan kebanggaan kabilah—sebuah ketegangan yang segera memuncak keesokan harinya. []

Sumber: Nizar Abazhah, Perang Muhammad, Zaman, 2014

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *