Ikhlas yang Ingin Diwujudkan dalam Berdakwah

5 Min Read
Foto: Freepik

MENURUT para ulama salaf, ikhlas memiliki beberapa tingkatan. Setiap tingkatan menunjukkan kedalaman hati seorang hamba dalam memurnikan amalnya hanya untuk Allah.

—

1. Melupakan Amal yang Telah Dikerjakan

Tingkatan pertama adalah melupakan amal setelah ia selesai melakukannya. Seseorang tidak lagi sibuk menoleh pada amalnya, tidak memperhitungkannya, dan tidak merasa perlu mengingat-ingatnya untuk dibanggakan atau dijadikan sandaran.

Ia beramal dengan lapang dada dan sukarela, semata-mata karena Allah, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun penilaian manusia.

Agar selamat dari penyakit yang merusak keikhlasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a. Menyadari bahwa segala kehendak berada di bawah kehendak Allah

Allah berfirman:

 وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwīr [81]: 29)

Ayat ini mengingatkan bahwa kemampuan beramal dan keinginan untuk berbuat baik pun terjadi karena kehendak Allah. Seorang hamba perlu mengenal Rabb-nya, mengenal dirinya, dan memahami bahwa kehendaknya tidak berdiri sendiri.

b. Tidak merasa berhak menuntut balasan atas keikhlasan

Menganggap bahwa keikhlasan adalah “milik” pribadi lalu merasa pantas menuntut balasan dapat menjadi bentuk kesombongan halus. Padahal amal dan keikhlasan itu sendiri terjadi karena taufik dan petunjuk Allah.

Jika Allah membalas amal tersebut, itu semata-mata karunia-Nya. Mengharapkan balasan dari selain Allah bahkan merupakan tanda penyimpangan niat.

c. Membiasakan diri melihat kekurangan diri

Introspeksi terhadap aib dan kekurangan diri akan menjaga hati dari rasa puas dan bangga terhadap amal. Kesadaran bahwa hak Allah belum sepenuhnya tertunaikan membuat seseorang tetap rendah hati dalam beribadah dan berdakwah.

https://shopee.co.id/product/8684533/22033682582?affiliate_seller_voucher_token=8bCnE5QAmVQpUat8szgbovNfnYRFJkDaLJHbVu7gbF&d_id=a86d2&gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVEg0SDd3VWo1MDQyT052d3EvY1B4YXYwMEtTZ094UGQ5aWpyWndlaEJCMkJnTDBjSlBNVXJFU0Y1R053eXVieFNvNEhyenVYaWtGVHlXTE9MTDJtT3NBT0h1SzlFK3FIbEhYMnVDV3EyeThxLzN3NUdINUNTdWpNZUFVQ3dzZHB3PT0&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54ndvn7m00q6&utm_campaign=id_Tm6qJgXWLh&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=eb381z8mw49n

2. Malu terhadap Amal Sendiri

Tingkatan kedua adalah merasa malu terhadap amalnya, meskipun ia telah berusaha ikhlas. Ia berusaha menyembunyikan amalnya dari pandangan manusia dan menganggap bahwa kemampuan beramal adalah karunia Allah semata.

Ia juga merasa amalnya terlalu sedikit dibanding nikmat Allah yang begitu besar. Hatinya diliputi kekhawatiran apakah amal tersebut diterima atau tidak.

Allah berfirman:

 وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (Al-Mu’minūn [23]: 60)

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun tetap khawatir amalnya tidak diterima.

Rasa khawatir ini mendidik jiwa untuk berhati-hati, teliti, dan tidak terpedaya oleh amal sendiri. Ia menjadi benteng dari ujub dan rasa puas diri.

—

3. Beramal untuk Merealisasikan Ubudiyah

Tingkatan tertinggi adalah beramal semata-mata untuk merealisasikan makna penghambaan (ubudiyah). Seorang hamba menyambut perintah dan menjauhi larangan bukan karena dorongan duniawi, melainkan untuk menegakkan penghambaan kepada Allah.

Penghambaan itu terwujud dengan mengikuti apa yang disyariatkan-Nya.

Hasan al-Banna menjelaskan bahwa ikhlas adalah ketika seorang Muslim dalam perkataan, amal, dan perjuangannya hanya menghendaki wajah Allah, mencari ridha dan pahala-Nya, tanpa terikat oleh ambisi harta, jabatan, atau popularitas.

BACA JUGA:  Dua Puluh Tahun Berdoa

Allah berfirman:

 قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang yang pertama berserah diri.”
(Al-An‘ām [6]: 162–163)

Pada titik ini, seorang da’i menjadi tentara akidah dan fikrah, bukan tentara ambisi dan kepentingan pribadi. Seluruh hidupnya terarah pada satu tujuan: Allah semata.

—

Penutup

Ikhlas dalam dakwah bukan sekadar niat di awal, tetapi proses penjagaan hati sepanjang perjalanan. Ia dimulai dengan melupakan amal, dilanjutkan dengan rasa malu dan khawatir atas penerimaannya, dan mencapai puncaknya ketika seluruh hidup dipersembahkan sebagai wujud ubudiyah.

Inilah ikhlas yang hendak diwujudkan dalam amal dan kerja dakwah sepanjang masa. []

Sumber: Ali Abdul Halim Mahmud, Ikhlas Kami Takkan Terbeli, penerbit Eraintermedia, 2020

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *