Dari Langgar Desa ke Cendana: Jejak Sunyi Ibadah Presiden Soeharto di Setiap Ramadan

3 Min Read
Foto: channel8.co.id

PRESIDEN Soeharto lahir dari tanah desa yang sederhana.
Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan azan dan doa.
Sejak kecil, ia mengenal sajadah dan suara mengaji.

Sebagai Muslim, ia salat.
Ia berpuasa.
Ia menunaikan zakat.
Ia membaca Al-Qur’an.
Bukan karena jabatan.
Tetapi karena keyakinan.

Dalam buku Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto dikisahkan masa kecilnya.
Sore hari, ia berjalan ke langgar.
Langkahnya ringan.
Di tangannya, mushaf atau iqra kecil.
Di sana, ia belajar membaca ayat demi ayat.

BACA JUGA: Kisah Haru Mbak Tutut: Diajari Masukkan Benang ke Lubang Jarum oleh Bu Tien Soeharto

Baginya, mengaji bukan sekadar pelajaran.
Itu kewajiban keluarga.
Itu napas rumahnya.

Langgar menjadi rumah kedua.
Terutama saat Ramadan tiba.
Malam terasa panjang.
Usai tarawih, ia tak segera pulang.
Ia tinggal.
Mengulang bacaan.
Menekuri huruf-huruf dalam Al-Quran.
Kadang hingga sahur menjelang.

Waktu berlalu.
Anak desa itu menjadi presiden.
Namun ada yang tak berubah.
Ritme ibadahnya tetap terjaga.

Di kediamannya di Jalan Cendana, pintu dibuka saat Ramadan.
Warga berdatangan.
Bukan untuk urusan negara.
Tetapi untuk salat tarawih berjamaah.

Ia berdiri di saf yang sama.
Tak ada jarak kuasa di antara mereka.
Hanya imam.
Dan makmum.

https://s.shopee.co.id/8KjNfTuXxD

Suasana itu dirindukan warga.
Anak-anaknya pun ikut serta.
Mbak Tutut.
Mbak Titiek.
Mbak Mamiek.
Mas Ari.
Sigit.
Nama-nama yang akrab di telinga masyarakat.

Jika ia berhalangan, tarawih tetap berjalan.
Rumah itu tetap menyala oleh doa.

Setelah tak lagi menjabat, langkahnya justru lebih sering terlihat.
Saf-saf terasa lebih dekat.
Waktunya lebih lapang untuk ibadah.

Seorang warga pernah bercerita kepada Voice of America.
Tentang malam-malam yang hangat di Cendana.
Tentang presiden yang tetap datang sebagai makmum.

BACA JUGA: Presiden Soeharto: Kalau Ajal Saya Sampai

Penulis buku Pak Harto: The Untold Stories, Teguh Juwarno, juga mengisahkan hal serupa.
Di masa senja hidupnya, hari-hari diisi ibadah.
Ditemani anak dan cucu.
Tarawih tetap ditegakkan.
Doa tetap dilangitkan.

Dari langgar kecil di desa.
Hingga rumah besar di ibu kota.
Jejak itu sama.

Seorang anak yang mencintai Al-Qur’an.
Seorang ayah yang menjaga saf.
Seorang pemimpin yang kembali menjadi hamba. []

SUMBER: CHANNEL8.CO.ID

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *