DALAM Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka pernah mengisahkan sebuah perbincangan dengan ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah.
Pada 10 April 1972, Hamka menziarahi ayahnya yang ketika itu telah berusia 86 tahun. Dalam pertemuan tersebut, sang ayah menyampaikan pandangannya tentang makna Lailatul Qadr.
Menurutnya, Lailatul Qadr pada hakikatnya hanya terjadi sekali, yakni pada malam pertama ketika Al-Qur’an mulai diturunkan. Malam itulah yang menjadi peristiwa agung dalam sejarah wahyu.
Adapun ibadah yang diperkuat pada bulan Ramadhan—khususnya pada sepuluh malam terakhir—dipahami sebagai bentuk peringatan dan pemuliaan terhadap malam turunnya Al-Qur’an tersebut.
Setiap tahun kaum Muslimin mengenang dan menghidupkan malam itu, agar hati semakin teguh memegang petunjuk yang Allah turunkan melalui Al-Qur’an.
Dengan demikian, penguatan ibadah pada malam-malam Ramadhan bukan sekadar menanti sebuah peristiwa yang berulang, tetapi juga menghidupkan ingatan spiritual terhadap turunnya wahyu yang membimbing kehidupan manusia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


