LEBARAN di era 90-an hingga awal 2000-an punya rasa yang sulit dijelaskan, tapi begitu mudah dirindukan. Ada kehangatan yang sederhana. Tidak serba instan. Tidak serba digital. Semuanya terasa lebih hidup, lebih dekat, dan lebih berkesan.
Sejak malam takbiran, suasana sudah berbeda. Anak-anak berlarian membawa obor atau ikut pawai keliling kampung. Suara bedug bersahut-sahutan. Takbir berkumandang dari masjid dan mushola, kadang dengan pengeras suara yang sedikit pecah, tapi justru di situlah letak kehangatannya. Langit malam terasa syahdu, ditemani gema kalimat “Allahu Akbar” yang panjang dan tulus.
Pagi harinya, semua bangun lebih awal. Mandi, pakai baju terbaik—meski kadang bukan yang baru, tapi tetap disetrika rapi. Jalan kaki ke lapangan atau masjid untuk shalat Id. Bertemu tetangga, saling senyum, saling sapa. Tidak ada yang sibuk dengan layar. Semua hadir sepenuhnya.
Momen setelah shalat Id adalah puncaknya. Saling bersalaman. Saling memaafkan. Anak-anak berbaris, mencium tangan orang tua, lalu satu per satu mendapatkan amplop kecil berisi uang. Nominalnya mungkin tidak besar. Tapi rasanya? Luar biasa bahagianya.
Di rumah, aroma masakan khas langsung menyambut. Opor ayam, ketupat, rendang, sambal goreng ati. Semua dimasak bersama, sejak malam sebelumnya. Tidak beli jadi. Ada proses. Ada cerita. Ada kebersamaan yang mengikat.
Silaturahim pun dilakukan dengan penuh kesungguhan. Dari rumah ke rumah. Jalan kaki atau naik sepeda. Kadang berdesakan di motor bertiga atau berempat. Tidak ada GPS. Tidak ada chat “lagi di mana?”. Semua mengandalkan kebiasaan dan kedekatan.
Yang paling terasa adalah kebersamaan itu sendiri. Tidak ada distraksi berlebihan. Tidak ada keinginan untuk sekadar “posting”. Momen dijalani, bukan dipamerkan. Tawa terdengar nyata, bukan sekadar emoji.
BACA JUGA: Lebaran Tiba Penyakit pun Tiba? Bekam Solusinya?
Masuk era 2000-an, perlahan teknologi mulai hadir. SMS ucapan Lebaran jadi tren. Nada dering takbiran dari ponsel mulai terdengar. Tapi suasana hangat itu masih terasa. Masih ada kunjungan langsung. Masih ada canda tawa tanpa sekat layar.
Sekarang, banyak hal berubah. Lebaran tetap ada. Tradisinya masih sama. Tapi rasanya sering berbeda. Lebih cepat. Lebih praktis. Kadang lebih sepi, meski ramai di media sosial.
Mungkin yang hilang bukan suasananya, tapi cara kita menjalaninya.
Kalau ingin merasakan kembali “vibe” itu, kuncinya sederhana: hadir sepenuhnya. Datangi orang-orang. Kurangi layar. Perbanyak sapa. Karena ternyata, yang paling dirindukan dari Lebaran tempo dulu bukan kemewahannya, tapi kehangatan yang tulus dan kebersamaan yang nyata. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

