Ousmane Dembélé, Si Rendah Hati Juara UCL

5 Min Read
Foto: Islampos

MALAM  itu, lampu stadion menyala terang.

Sorak-sorai mengguncang langit Eropa.

Paris Saint-Germain akhirnya meraih trofi Liga Champions yang selama ini mereka impikan.

Di tengah lautan kegembiraan itu, ada satu sosok yang menarik perhatian.

Bukan karena selebrasinya yang berlebihan.

Bukan karena pidatonya yang penuh pujian untuk diri sendiri.

Melainkan karena kerendahhatiannya.

Ousmane Dembélé berdiri sebagai salah satu pahlawan PSG.

Namun ketika ditanya tentang keberhasilannya, ia tidak berbicara tentang dirinya.

BACA JUGA:  InsyaAllah: Ketika Cristiano Ronaldo Menyebut Nama Tuhan dalam Mimpi 1.000 Gol

Ia berkata bahwa semua itu adalah hasil kerja tim.

Ia bahkan menyebut penghargaan pribadi hanyalah bonus.

Fokus utamanya adalah memenangkan trofi bersama rekan-rekannya.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi pusat perhatian, Dembélé justru memilih berbagi cahaya.

https://s.shopee.co.id/14Qk9mkxt

Ia tahu bahwa kemenangan tidak pernah lahir dari satu kaki.

Tidak juga dari satu nama.

Anak Muslim yang Membawa Iman dalam Perjalanan Hidupnya

Dembélé lahir dari keluarga Muslim.

Ayahnya berasal dari Mali.

Ibunya memiliki darah Mauritania dan Senegal.

Sejak kecil, Islam bukan sekadar identitas baginya.

Islam menjadi bagian dari cara ia menjalani hidup.

Di tengah kerasnya dunia sepak bola modern, ia tetap menjaga keyakinannya.

Ia dikenal menjalankan Ramadan.

Ia menjaga makanan halal.

Ia juga tidak mengonsumsi alkohol karena keyakinan agamanya.

Ada sesuatu yang indah dari seorang atlet kelas dunia yang tetap memegang prinsipnya.

Dunia menawarkan banyak gemerlap.

Namun tidak semua orang mampu tetap berpijak ketika sorotan datang dari segala arah.

Dembélé berusaha menjadi salah satunya.

Seorang Muslim yang berlari kencang di lapangan.

Tetapi tidak membiarkan dunia membawa hatinya terlalu jauh.

Masjid untuk Kampung Ibunya

Kebaikan sering kali tidak berisik.

Ia tidak selalu hadir dalam konferensi pers.

Ia tidak selalu muncul di halaman depan media.

Kadang ia bersembunyi dalam amal yang dilakukan diam-diam.

Salah satu kisah yang sering disebut tentang Dembélé adalah kontribusinya dalam pembangunan masjid di daerah asal keluarga ibunya di Mauritania setelah keberhasilan bersama Timnas Prancis.

Bagi sebagian orang, hadiah kemenangan mungkin menjadi kendaraan untuk membeli kemewahan baru.

Namun bagi Dembélé, sebagian keberhasilan itu menjadi jalan untuk membangun rumah ibadah.

Ousmane Dembele

Sebuah tempat yang kelak akan dipenuhi lantunan Al-Qur’an.

Tempat orang-orang bersujud.

Tempat doa-doa naik ke langit.

Mungkin itulah salah satu bentuk syukur yang paling indah.

Mengubah nikmat menjadi manfaat.

Belajar dari Masa Lalu

Perjalanan Dembélé tidak selalu mulus.

Ia pernah dikritik.

Pernah dianggap kurang disiplin.

Pernah berkali-kali dihantam cedera.

Banyak orang meragukan masa depannya.

Banyak yang mengira kariernya akan tenggelam sebelum mencapai puncak.

Namun hidup mengajarkan bahwa manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah salah.

Melainkan yang mau memperbaiki diri.

Seiring waktu, Dembélé tumbuh lebih dewasa.

Kelahiran putrinya disebut menjadi salah satu titik perubahan penting dalam hidupnya.

Ia menjadi lebih tenang.

Lebih fokus.

Lebih bertanggung jawab.

Ada pelajaran besar di sana.

Bahwa kedewasaan bukan datang karena usia.

Tetapi karena kesediaan untuk belajar.

Tidak Mengejar Kemuliaan untuk Diri Sendiri

Yang menarik dari Dembélé adalah cara ia memandang kesuksesan.

Ketika performanya melejit.

Ketika gol-golnya membantu PSG menaklukkan Eropa.

Ketika penghargaan individu mulai berdatangan.

Ia tetap berbicara tentang tim.

Tentang keluarga.

Tentang orang-orang yang mendukungnya.

Saat menerima penghargaan besar, ia bahkan mengaku terharu ketika berbicara tentang keluarganya.

Bukan tentang statistik.

Bukan tentang popularitas.

Melainkan tentang orang-orang yang berjalan bersamanya sejak awal.

Hati yang bersyukur memang sering kembali kepada asalnya.

Kepada mereka yang mendoakan.

Kepada mereka yang menguatkan.

Kepada Allah yang membuka jalan.

BACA JUGA: Kenan Yıldız dan Penolakannya terhadap Tato

Pelajaran dari Seorang Juara

Ousmane Dembélé mengajarkan bahwa seseorang bisa menjadi bintang tanpa kehilangan kesederhanaan.

Bisa terkenal tanpa menjadi sombong.

Bisa kaya tanpa melupakan kampung halaman.

Bisa memenangkan Liga Champions tanpa merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Di lapangan, ia berlari mengejar bola.

Di luar lapangan, ia berusaha menjaga nilai-nilai yang diyakininya.

Dan mungkin itulah kemenangan yang lebih besar.

Karena trofi akan berdebu.

Medali akan tersimpan dalam lemari.

Sorak-sorai suatu hari akan reda.

Tetapi kerendahhatian, keimanan, dan kebaikan yang ditinggalkan seseorang akan terus hidup jauh lebih lama daripada gemerlap sebuah malam final. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *