Penyusuan Anak: Pengalaman dari Imam Haramain dan Ratu Elizabeth II

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI tengah berkembangnya teknologi pangan dan beragam produk susu modern, Al-Qur’an telah lebih dahulu memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan penyusuan anak. Perhatian itu bahkan dituangkan secara khusus dalam ayat yang panjang dan rinci.

Allah SWT berfirman:

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al-Baqarah: 233).

Sekilas, ayat ini tampak berbicara tentang kewajiban seorang ibu dan tanggung jawab seorang ayah. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ayat tersebut sesungguhnya mengungkap satu pesan besar: Allah ingin menjamin hak seorang anak untuk memperoleh asupan terbaik bagi pertumbuhan fisik, mental, dan emosionalnya.

Karena Allah lebih dekat kepada manusia daripada dirinya sendiri, maka Dia lebih mengetahui apa yang dibutuhkan seorang anak daripada kedua orang tuanya. Perintah penyusuan selama dua tahun bukan sekadar aturan biologis, melainkan bagian dari penjagaan Ilahi terhadap generasi manusia.

BACA JUGA:  Anak-anak Berlarian Menyambut Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah

Mengapa Dua Tahun?

Para ulama dan ahli kesehatan sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap masa penyusuan.

Dalam tafsir para ulama dijelaskan bahwa ASI bukan hanya sumber nutrisi yang sempurna, tetapi juga sarana pembentukan ikatan emosional antara ibu dan anak. Kontak fisik, sentuhan, kehangatan, serta kedekatan selama proses menyusui berperan penting dalam perkembangan psikologis seorang anak.

Penelitian modern kemudian menguatkan hal tersebut. Berbagai studi menunjukkan bahwa ASI mengandung zat-zat yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh susu buatan, terutama dalam membangun sistem kekebalan tubuh dan perkembangan otak.

Namun perhatian Islam terhadap penyusuan ternyata tidak berhenti pada aspek kesehatan. Para ulama klasik bahkan membahas pengaruh penyusuan terhadap pembentukan karakter dan kepribadian seseorang.

https://s.shopee.co.id/3Vf1tnluRU

Kekhawatiran Seorang Ayah Ulama

Salah satu kisah yang sering dikutip dalam literatur tarbiyah adalah kisah keluarga Abu Muhammad Al-Juwaini, ayah dari Imam Haramain Abdul Malik Al-Juwaini, ulama besar yang kelak menjadi guru dari Imam Al-Ghazali.

Ketika putranya lahir, Abu Muhammad berpesan kepada istrinya agar tidak membiarkan perempuan lain menyusui anak mereka.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Para ulama pada masa itu meyakini bahwa penyusuan bukan hanya proses pemindahan nutrisi, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap pembentukan tabiat dan jiwa anak.

Suatu hari, istrinya jatuh sakit sehingga air susunya berhenti mengalir. Bayi kecil itu menangis kehausan. Mendengar tangisan tersebut, seorang perempuan tetangga yang merasa iba masuk ke rumah dan menyusui bayi itu beberapa saat.

Tak lama kemudian Abu Muhammad Al-Juwaini pulang.

Ketika melihat putranya sedang disusui oleh perempuan lain, ia segera menghentikan proses tersebut. Setelah perempuan itu pergi, ia berusaha mengeluarkan susu yang telah diminum anaknya.

Kemudian ia berkata:

“Aku lebih rela anak ini meninggal ketika masih kecil daripada rusak perangainya karena meminum susu perempuan yang tidak diketahui ketaatannya kepada Allah.”

Pernyataan itu mungkin terdengar sangat keras bagi ukuran zaman sekarang. Namun kalimat tersebut menunjukkan betapa seriusnya perhatian para ulama terhadap proses penyusuan.

Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi Imam Haramain Abdul Malik Al-Juwaini, salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ketika beliau merasakan gejolak emosi yang kuat dalam dirinya, beliau pernah mengaitkannya dengan peristiwa penyusuan tersebut. Terlepas dari bagaimana validitas penilaian pribadi itu, kisah ini menunjukkan kuatnya keyakinan para ulama mengenai pentingnya fase penyusuan dalam pembentukan karakter manusia.

Ketika Tradisi Bertemu Sains Modern

Menariknya, perhatian terhadap penyusuan bukan hanya ditemukan dalam tradisi Islam.

Dalam sejarah modern Inggris, dikenal bahwa Ratu Elizabeth II memilih menyusui anak-anaknya sendiri, sesuatu yang pada masa itu tidak selalu lazim di kalangan bangsawan Eropa. Di lingkungan kerajaan, penggunaan pengasuh dan perawat anak merupakan tradisi yang telah berlangsung berabad-abad.

Namun praktik menyusui langsung oleh ibu kandung semakin mendapat perhatian karena manfaat kesehatan dan psikologisnya yang besar bagi anak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin maju peradaban manusia, semakin banyak temuan ilmiah yang justru menguatkan nilai-nilai yang telah diajarkan jauh sebelumnya.

BACA JUGA: Lengkap dan Tuntas: Liku-liku Orang Tua bersama Anak-anaknya dalam Al-Qur’an

Penyusuan sebagai Investasi Peradaban

Ayat tentang penyusuan dalam Surah Al-Baqarah tidak hanya berbicara tentang ibu dan bayi.

Di dalamnya terdapat pembagian tanggung jawab yang jelas. Ibu bertugas menyusui, sedangkan ayah bertanggung jawab menyediakan nafkah dan kebutuhan yang layak bagi ibu.

Artinya, keberhasilan penyusuan bukan semata tugas seorang perempuan. Ia adalah proyek keluarga.

nama anak, nama bayi, peradaban, Penyusuan Anak
Foto: Freepik

Al-Qur’an bahkan memberikan berbagai solusi ketika kondisi ideal tidak dapat tercapai. Jika ibu sakit, jika terjadi perceraian, atau jika dibutuhkan perempuan lain untuk menyusui, semua itu diatur dengan prinsip musyawarah, keadilan, dan kemaslahatan anak.

Fokus utamanya tetap sama: jangan sampai anak menjadi korban dari konflik, kemiskinan, atau ketidakmampuan orang tuanya.

Di sinilah tampak betapa besar perhatian Islam terhadap generasi masa depan. Sebelum berbicara tentang pendidikan sekolah, kurikulum, atau teknologi pembelajaran, Al-Qur’an terlebih dahulu berbicara tentang ASI.

Karena pembangunan manusia ternyata dimulai jauh sebelum seorang anak mampu membaca dan menulis. Ia dimulai dari pelukan seorang ibu, dari tetesan air susu yang mengalir, dan dari kasih sayang yang ditanamkan sejak hari-hari pertama kehidupan.

Penyusuan bukan sekadar proses biologis. Ia adalah investasi peradaban yang pengaruhnya dapat menjangkau puluhan tahun ke depan, bahkan membentuk karakter generasi yang akan memimpin masyarakat di masa mendatang.

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *