TIDAK semua rasa sakit terlihat.
Ada luka yang tidak berdarah.
Ada beban yang tidak tampak.
Ada kesedihan yang tersembunyi di balik senyuman.
Banyak orang terlihat sehat.
Tekanan darah normal.
Gula darah baik.
Pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan masalah berarti.
Tubuh masih kuat bekerja.
Masih mampu beraktivitas.
Masih mampu tertawa bersama teman.
Namun ketika malam tiba.
Saat suasana menjadi sepi.
Saat tidak ada lagi yang harus disibukkan.
Muncul sebuah perasaan yang sulit dijelaskan.
Hati terasa berat.
Pikiran terasa penuh.
Jiwa terasa lelah.
BACA JUGA: Kenapa Harus Biasa Berbekam Sejak Muda?
Ada sesuatu yang hilang.
Tetapi tidak tahu apa yang hilang.
Ada kekosongan.
Ada kegelisahan.
Ada rasa tidak nyaman yang terus mengikuti ke mana pun pergi.
Lalu muncul pertanyaan.
Mengapa ini terjadi?
Bukankah tubuh saya sehat?
Bukankah hidup saya baik-baik saja?
Jawabannya tidak selalu sederhana.
Karena manusia bukan hanya tubuh.
Manusia juga memiliki pikiran.
Memiliki perasaan.
Dan memiliki hati.

Ketika tubuh sakit, biasanya kita mudah mengenalinya.
Demam.
Batuk.
Nyeri.
Luka.
Semuanya terlihat jelas.
Tetapi ketika yang sakit adalah pikiran atau hati, gejalanya sering kali lebih samar.
Kadang muncul dalam bentuk kecemasan.
Kadang berupa kesedihan yang berkepanjangan.
Kadang berupa rasa takut yang sulit dijelaskan.
Kadang berupa kehilangan semangat hidup.
Bahkan ada yang merasa hidup berjalan tanpa arah.
Dalam dunia psikologi, kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan gangguan psikologis.
Stres yang menumpuk.
Kecemasan yang tidak terselesaikan.
Trauma masa lalu.
Kelelahan mental.
Atau tekanan hidup yang berlangsung terlalu lama.
Semua itu dapat membuat seseorang merasa berat menjalani hari-harinya.
Meskipun tubuhnya sehat.
Meskipun wajahnya terlihat baik-baik saja.
Namun tidak semua hati yang berat berasal dari gangguan psikologis.
Ada juga sisi lain yang perlu diperhatikan.
Yaitu kondisi spiritual.
Manusia memiliki kebutuhan ruhani sebagaimana ia memiliki kebutuhan jasmani.
Tubuh membutuhkan makanan.
Pikiran membutuhkan ketenangan.
Dan ruh membutuhkan hubungan dengan Allah.
Ketika seseorang terlalu sibuk mengejar dunia.
Ketika ibadah mulai ditinggalkan.
Ketika zikir semakin jarang dilakukan.
Ketika Al-Qur’an hanya menjadi pajangan.
Maka hati perlahan kehilangan sumber cahayanya.
Tubuh mungkin tetap sehat.
Tetapi hati mulai merasa kosong.
Dalam Islam, hati memiliki kedudukan yang sangat penting.
Hati adalah pusat ketenangan.
Pusat keikhlasan.
Pusat keyakinan.
Ketika hati jauh dari Allah, kegelisahan sering kali semakin mudah masuk.
Bukan karena Allah meninggalkan hamba-Nya.
Tetapi karena hamba-Nya menjauh dari sumber ketenangan itu sendiri.
Di sinilah pentingnya membedakan antara gangguan psikologis dan gangguan spiritual.
Gangguan psikologis sering berkaitan dengan cara seseorang berpikir, merasakan, dan merespons kehidupan.
Sedangkan gangguan spiritual berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Rabb-nya.
Keduanya memiliki ciri yang berbeda.
Namun sering kali saling memengaruhi.
Seseorang yang mengalami stres berat bisa menjadi malas beribadah.
Sebaliknya, seseorang yang jauh dari Allah bisa menjadi lebih rapuh dalam menghadapi tekanan hidup.
Karena itu, tidak bijak jika semua masalah hati langsung dianggap gangguan spiritual.
Dan tidak tepat pula jika semua kegelisahan hanya dianggap masalah psikologis.

Setiap kondisi perlu dipahami secara utuh.
Perlu dilihat secara menyeluruh.
Tubuh.
Pikiran.
Dan hati.
Kadang seseorang membutuhkan istirahat.
Kadang membutuhkan konseling.
Kadang membutuhkan teman untuk mendengarkan.
Dan kadang membutuhkan lebih banyak sujud di sepertiga malam.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Berobat ketika sakit.
Berikhtiar ketika menghadapi masalah.
Dan bertawakal setelah melakukan usaha terbaik.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Karena itu, jika hari ini Anda merasa hati terasa berat meskipun tubuh sehat, jangan langsung menghakimi diri sendiri.
Jangan menganggap diri lemah.
Jangan merasa gagal.
Cobalah berhenti sejenak.
Dengarkan diri Anda.
Perhatikan apa yang sedang terjadi di dalam hati.
Apakah ada luka yang belum sembuh?
Apakah ada beban yang dipendam terlalu lama?
Apakah ada hubungan dengan Allah yang perlu diperbaiki?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sering kali menjadi awal dari proses penyembuhan.
Karena kesehatan sejati bukan hanya ketika tubuh bebas dari penyakit.
Tetapi ketika pikiran merasa tenang.
Ketika hati merasa lapang.
Dan ketika jiwa menemukan kedamaian dalam kedekatannya dengan Allah.
Sebab tubuh yang sehat adalah nikmat.
Namun hati yang tenang adalah anugerah yang jauh lebih besar. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


