Stres Ekonomi Pengaruhi Kesehatan Jiwa?

6 Min Read
Foto: Freepik

TIDAK semua penyakit berawal dari virus.

Tidak semua luka berasal dari benturan.

Sebagian luka lahir dari tekanan hidup yang berlangsung terlalu lama.

Salah satunya adalah tekanan ekonomi.

Setiap pagi seseorang bangun dengan pikiran yang sama.

Tagihan listrik.

Biaya sekolah anak.

Cicilan kendaraan.

BACA JUGA:  Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?

Harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Sementara penghasilan tidak selalu bertambah.

Ada yang kehilangan pekerjaan.

Ada yang usahanya sepi.

Ada yang harus bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang sederhana.

Dari luar, mereka tampak baik-baik saja.

Masih tersenyum.

Masih bercanda.

Masih menjalankan aktivitas seperti biasa.

Namun di dalam dirinya, ada pertempuran yang tidak terlihat.

Pikiran yang terus bekerja.

Kekhawatiran yang tidak kunjung selesai.

Ketakutan terhadap masa depan.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai financial stress atau stres finansial.

Yaitu tekanan psikologis yang muncul akibat kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi atau ketidakpastian kondisi keuangan.

Stres ekonomi bukan sekadar persoalan uang.

Ia adalah persoalan kesehatan jiwa.

Ketika seseorang menghadapi tekanan ekonomi yang berkepanjangan, otak akan menganggap situasi tersebut sebagai ancaman.

Tubuh kemudian mengaktifkan sistem pertahanan.

Kelenjar adrenal melepaskan hormon kortisol dan adrenalin.

Denyut jantung meningkat.

Tekanan darah naik.

Tubuh berada dalam kondisi siaga.

https://s.shopee.co.id/2BCiKTbPUr

Profesor Robert Sapolsky, ahli neuroendokrinologi dari Stanford University, menjelaskan bahwa stres yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu fungsi otak, sistem kekebalan tubuh, dan kesehatan mental seseorang.

Masalahnya, ancaman ekonomi sering kali tidak berlangsung sehari atau dua hari.

Kadang berlangsung berbulan-bulan.

Bahkan bertahun-tahun.

Akibatnya, tubuh terus berada dalam kondisi tertekan.

Kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan tidur, kelelahan, mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan.

Seseorang mulai sulit menikmati hidup.

Pikiran terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Hal-hal kecil menjadi pemicu emosi.

Kesabaran menipis.

Semangat hidup perlahan menurun.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health menemukan bahwa individu yang mengalami kesulitan keuangan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan mereka yang kondisi ekonominya lebih stabil.

Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dan ekonomi seseorang.

Dampak stres ekonomi juga sering terlihat dalam kehidupan keluarga.

Suami menjadi lebih mudah tersinggung.

Istri merasa terbebani.

Anak-anak merasakan suasana rumah yang tidak nyaman.

Komunikasi yang sebelumnya hangat berubah menjadi tegang.

Masalah kecil berkembang menjadi konflik besar.

Padahal akar masalahnya sering kali bukan kurangnya kasih sayang.

Melainkan tekanan hidup yang tidak berhasil dikelola.

Psikolog keluarga John Gottman menjelaskan bahwa tekanan eksternal seperti masalah keuangan dapat meningkatkan frekuensi konflik rumah tangga apabila pasangan tidak memiliki komunikasi yang sehat.

Karena itu, menjaga kesehatan mental keluarga tidak hanya tentang cinta.

Tetapi juga tentang kemampuan menghadapi tekanan bersama-sama.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya rasa putus asa.

Seseorang mulai merasa gagal.

Merasa tidak berguna.

Otak Manusia, Ciri-ciri Awal Diabetes, Ciri Orang Rentan Terkena Diabetes

Merasa hidupnya tidak memiliki harapan.

Padahal kondisi ekonomi hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.

Bukan ukuran nilai diri seseorang.

Dalam perspektif Islam, kesulitan ekonomi merupakan salah satu ujian kehidupan yang telah Allah tetapkan bagi manusia.

Allah berfirman:

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang beriman akan terbebas dari kesulitan.

Sebaliknya.

Allah menjelaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia.

Namun selalu ada kabar gembira bagi mereka yang mampu bersabar dan terus berikhtiar.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal.

Beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Burung tidak hanya berdiam diri di sarangnya.

Ia terbang.

Ia berusaha.

Ia mencari.

Kesabaran, Stres Ekonomi
Foto: Freepik

Lalu bertawakal.

Begitu pula manusia.

Ketika menghadapi tekanan ekonomi, yang perlu dilakukan bukan hanya mengeluh.

Tetapi menyusun langkah.

Mengatur keuangan.

Mencari peluang.

Meningkatkan keterampilan.

Membangun komunikasi dengan keluarga.

Dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila tekanan mulai mengganggu kesehatan mental.

BACA JUGA:  Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?

Stres ekonomi memang nyata.

Dampaknya juga nyata.

Namun kesulitan hari ini tidak menentukan seluruh masa depan.

Badai pasti berlalu.

Keadaan dapat berubah.

Rezeki dapat datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Karena itu, jangan biarkan kesulitan ekonomi merampas harapan.

Jaga kesehatan jiwa.

Rawat optimisme.

Perkuat ikhtiar.

Dan tetap yakin bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *