Apa yang Harus Dilakukan oleh Orang Tua saat Bayi Lahir?

Dini Koswarini
7 Min Read
Foto: Freepik

KELAHIRAN seorang anak adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada seorang hamba. Islam tidak hanya memandang kelahiran sebagai peristiwa biologis semata, tetapi juga sebagai amanah besar yang harus disambut dengan penuh syukur, doa, dan tuntunan syariat.

Lalu, apa saja yang dianjurkan dilakukan ketika seorang bayi lahir menurut ajaran Islam?

Sebelum Bayi Lahir: Perbanyak Doa

Sepanjang pengetahuan para ulama, tidak ada amalan khusus yang disyariatkan satu atau dua hari sebelum persalinan untuk menyambut kelahiran bayi. Namun, orang tua sangat dianjurkan memperbanyak doa kepada Allah agar proses persalinan dimudahkan, ibu dan bayi diberikan keselamatan, serta anak yang lahir menjadi pribadi yang saleh atau salehah.

Allah mengabadikan doa istri Imran dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu. Karena itu terimalah nazarku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

BACA JUGA:  Bisa Berbicara Sejak Bayi: Mukjizat Nabi Isa

Ketika ia melahirkannya, ia berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan… Aku memberinya nama Maryam, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan keturunannya dari godaan setan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 35–36)

Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya mendoakan anak bahkan sejak sebelum dan sesudah kelahirannya.

1. Melakukan Tahnik dan Mendoakan Bayi

Salah satu sunnah pertama yang dianjurkan setelah bayi lahir adalah tahnik, yaitu memasukkan sedikit makanan manis—terutama kurma yang telah dikunyah halus—ke langit-langit mulut bayi.

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku dikaruniai seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menamainya Ibrahim, melakukan tahnik dengan kurma, mendoakan keberkahan baginya, kemudian mengembalikannya kepadaku.” (HR. Bukhari no. 5150 dan Muslim no. 2145)

Tahnik bukan sekadar tradisi, tetapi sunnah Nabi ﷺ yang mengandung doa keberkahan bagi kehidupan sang bayi.

https://s.shopee.co.id/9AMNV2PCRN

2. Memberikan Nama yang Baik

Islam sangat menganjurkan memberikan nama yang baik kepada anak.

Pemberian nama boleh dilakukan pada hari pertama kelahiran ataupun hari ketujuh.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Malam ini telah lahir seorang anak laki-laki bagiku, dan aku menamainya dengan nama ayahku, Ibrahim.” (HR. Muslim no. 2315)

Sementara itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

Rasulullah ﷺ mengaqiqahi Hasan dan Husain pada hari ketujuh serta memberi nama kepada keduanya. (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim; dinilai sahih oleh Ibnu Hajar)

Nama adalah doa yang akan melekat sepanjang hidup seorang anak. Karena itu, pilihlah nama yang memiliki makna baik dan tidak bertentangan dengan syariat.

3. Melaksanakan Aqiqah

Di antara sunnah yang sangat dianjurkan adalah menyelenggarakan aqiqah.

Salman bin Amir radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Untuk anak laki-laki ada aqiqah. Sembelihlah hewan untuknya dan hilangkan gangguan darinya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah; sahih)

Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur rambutnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i; sahih)

Hikmah Aqiqah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan beberapa hikmah aqiqah, di antaranya:

Sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah sejak awal kehidupan seorang anak.
Menjadi “tebusan” bagi bayi sehingga kelak ia dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya.
Menghidupkan syiar pengorbanan sebagaimana Allah menebus Nabi Ismail dengan seekor domba.

Selain itu, aqiqah juga menjadi sarana mempererat silaturahmi melalui jamuan makan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.

4. Khitan (Sunat)

Khitan termasuk bagian dari fitrah, yaitu ajaran yang sesuai dengan kesucian manusia.

Bagi anak laki-laki, banyak ulama berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib, karena berkaitan dengan kesucian yang menjadi syarat sah shalat.

Ibunda Imam Syafi‘i, Kisah Ibu bersama Anaknya
Foto: Freepik

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Lima perkara termasuk fitrah: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 257)

Pelaksanaan khitan tidak harus dilakukan pada hari ketujuh. Waktunya dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak dan pertimbangan medis.

5. Mengumandangkan Azan di Telinga Kanan

Sebagian ulama menyebutkan bahwa termasuk sunnah menyambut kelahiran bayi adalah mengumandangkan azan di telinga kanan bayi.

Tujuannya agar kalimat pertama yang didengar sang anak adalah kalimat tauhid dan pengagungan kepada Allah.

Adapun mengenai iqamah di telinga kiri, para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat hadis yang sahih yang dapat dijadikan landasan untuk mengamalkannya. Karena itu, amalan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam sunnah.

6. Mencukur Rambut Bayi dan Bersedekah

Pada hari ketujuh, disunnahkan mencukur rambut bayi.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa setelah rambut dicukur, kepala bayi diberi wewangian seperti za’faran (saffron).

BACA JUGA:  Menimbang Risiko Perjalanan bagi Bayi di Bawah 3 Bulan

Setelah itu, orang tua dianjurkan bersedekah dengan emas atau perak seberat rambut yang telah dicukur.

Apabila sulit menimbang rambut tersebut, para ulama membolehkan memperkirakan beratnya, lalu bersedekah dengan uang senilai harga emas atau perak yang sebanding.

Menyambut Amanah dengan Syukur

Kelahiran seorang anak bukan hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga tanggung jawab besar. Islam mengajarkan agar kebahagiaan itu diwujudkan dalam bentuk ibadah, doa, dan pengamalan sunnah Rasulullah ﷺ.

Mulai dari memperbanyak doa, melakukan tahnik, memberikan nama yang baik, melaksanakan aqiqah, mengkhitankan anak laki-laki, mengumandangkan azan di telinga kanan, hingga mencukur rambut dan bersedekah, semuanya merupakan bentuk syukur kepada Allah atas karunia yang sangat berharga.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang beriman, bertakwa, berbakti kepada kedua orang tuanya, serta menjadi penyejuk hati di dunia dan pemberat amal saleh di akhirat. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab. []

SUMBER: ISLAMQA

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *