Bolehkah Mengulang Shalat karena Merasa Kurang Khusyuk?

Umar Faqih
6 Min Read
Foto: Islampos AI

KHUSYUK merupakan salah satu tujuan penting dalam shalat. Ketika seorang muslim berdiri di hadapan Allah SWT, ia diperintahkan untuk menghadirkan hati, menjaga konsentrasi, dan menghayati setiap bacaan serta gerakan yang dilakukan.

Namun, dalam kenyataannya, tidak sedikit orang yang merasa pikirannya melayang saat shalat. Ada yang teringat pekerjaan, urusan keluarga, atau berbagai aktivitas yang baru saja dilakukan. Setelah salam, muncul perasaan tidak puas karena merasa shalatnya kurang khusyuk. Akhirnya timbul pertanyaan, apakah shalat tersebut perlu diulang?

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang khusyuk dan kapan seseorang diwajibkan mengulang shalat.

BACA JUGA: Shalat Sendirian, Haruskah Qomat Terlebih Dahulu?

Khusyuk Adalah Kesempurnaan Shalat

Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Ayat ini menunjukkan bahwa khusyuk merupakan sifat yang sangat dipuji oleh Allah. Shalat yang dilakukan dengan hati yang hadir tentu lebih utama daripada shalat yang dikerjakan dengan pikiran yang lalai.

Khusyuk membuat seseorang lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah. Ia memahami bacaan yang diucapkan dan menyadari bahwa dirinya sedang bermunajat kepada Rabb semesta alam.

Namun, penting dipahami bahwa khusyuk adalah penyempurna shalat, bukan termasuk rukun shalat yang jika kurang otomatis membatalkan ibadah tersebut.

https://s.shopee.co.id/1qZjee8p59

Apakah Shalat Harus Diulang?

Secara umum, shalat tidak perlu diulang hanya karena merasa kurang khusyuk.

Selama semua syarat, rukun, dan kewajiban shalat telah dipenuhi, maka shalat tetap sah. Rasa kurang fokus atau munculnya lintasan pikiran tidak otomatis membatalkan shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setan datang kepada salah seorang di antara kalian ketika sedang shalat, lalu ia membisikkan sesuatu hingga orang itu tidak mengetahui lagi berapa rakaat yang telah ia kerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa gangguan dalam shalat memang ada. Setan berusaha menghilangkan kekhusyukan seorang hamba. Namun Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan untuk mengulang shalat hanya karena gangguan tersebut. Beliau justru mengajarkan cara mengatasinya, seperti melakukan sujud sahwi apabila terjadi keraguan mengenai jumlah rakaat.

Kapan Shalat Harus Diulang?

Mengulang shalat dianjurkan apabila memang terdapat sebab yang membuat shalat tidak sah.

Misalnya:

-Tidak memiliki wudhu ketika shalat.
-Menghadap ke arah yang salah tanpa alasan yang dibenarkan.
-Meninggalkan salah satu rukun shalat dengan sengaja.
-Terkena najis yang diketahui selama shalat dan tidak dihilangkan.
-Batal wudhu di tengah pelaksanaan shalat.

Dalam kondisi seperti ini, shalat memang harus diulang karena syarat atau rukunnya tidak terpenuhi.

Adapun jika masalahnya hanya kurang khusyuk, maka shalat tetap sah selama syarat dan rukunnya telah dipenuhi.

Jangan Terjebak Waswas

Salah satu penyebab seseorang sering mengulang shalat adalah karena waswas.

Waswas adalah bisikan setan yang membuat seseorang selalu merasa ibadahnya kurang sempurna. Akibatnya, ia terus mengulang wudhu, mengulang takbir, bahkan mengulang shalat berkali-kali tanpa alasan syar’i.

Para ulama menjelaskan bahwa sikap seperti ini tidak boleh dipelihara. Semakin seseorang mengikuti waswas, semakin kuat gangguan tersebut.

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa waswas merupakan salah satu tipu daya setan untuk menyulitkan manusia dalam beribadah. Karena itu, seorang muslim hendaknya beribadah sesuai tuntunan syariat dan tidak mengikuti keraguan yang tidak memiliki dasar.

Cara Meningkatkan Kekhusyukan

Walaupun shalat tidak perlu diulang hanya karena kurang khusyuk, setiap muslim tetap dianjurkan untuk terus memperbaiki kualitas shalatnya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

-Berwudhu dengan tenang dan penuh kesadaran.
-Datang lebih awal sebelum shalat dimulai.
-Memahami arti bacaan shalat.
-Menjauhkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi.
-Mengingat bahwa shalat bisa jadi merupakan shalat terakhir dalam hidup.
-Tidak terburu-buru dalam setiap gerakan maupun bacaan.

Semua langkah tersebut dapat membantu menghadirkan hati sehingga shalat menjadi lebih khusyuk dari waktu ke waktu.

Jangan Menuntut Kesempurnaan Seketika

Perlu disadari bahwa mencapai kekhusyukan yang sempurna bukanlah hal yang mudah. Bahkan orang-orang saleh pun terus berusaha memperbaiki kualitas ibadah mereka.

Karena itu, jangan mudah berputus asa ketika sesekali pikiran melayang. Yang terpenting adalah segera mengembalikan fokus kepada shalat dan terus melatih hati agar semakin dekat kepada Allah.

Semakin sering seseorang menjaga ibadahnya, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan menjauhi maksiat, biasanya kekhusyukan dalam shalat juga akan semakin meningkat.

BACA JUGA: Bolehkah Salaman Setelah Shalat Berjamaah?

Merasa kurang khusyuk bukanlah alasan untuk mengulang shalat. Selama syarat, rukun, dan kewajiban shalat telah dipenuhi, maka shalat tersebut tetap sah. Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas shalat pada kesempatan berikutnya, bukan terus-menerus mengulang ibadah tanpa dasar syariat.

Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga kesempurnaan ibadah dan menghindari sikap berlebihan. Oleh karena itu, jangan biarkan waswas menguasai hati. Teruslah berusaha menghadirkan kekhusyukan, memohon pertolongan kepada Allah SWT, dan yakinlah bahwa setiap usaha untuk memperbaiki shalat akan bernilai pahala di sisi-Nya.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *