Makan Untuk Menyambung Hidup

6 Min Read
Foto: Freepik

Oleh: Daryanto Suyoso (57 th)
[email protected]

YANG kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Yang kaya mungkin bisa bilang :

“Semua tergantung dari orang per orang. Kalau memang orangnya pekerja keras & pantang menyerah, wajarlah kalau bisa kaya”.

Apakah yang berkata demikian salah? Tentu saja tidak karena alasan tersebut memang masuk akal.

Yang miskin pasti bilang :

“Dapat sedikit atau banyak syukuri saja. Yang penting masih bisa makan untuk menyambung hidup”.

Yang berkata demikian juga tak salah karena kenyataannya memang demikian.

BACA JUGA:  Berapa Hari Manusia Tahan Tidak Makan?

Hati saya tersentuh manakala merenungi pengakuan dari Si Miskin.

Menurut saya pengakuan tersebut mengandung filosofi yang mendalam karena mengandung 3 unsur penting yaitu :

1. Rasa syukur.

2. Makan bagian dari ibadah.

3. Ketekunan / Keuletan

Marilah kita bahas satu per satu. Dan bagaimana keterkaitan atau hubungannya diantara 3 hal (variabel) tersebut.

1. Rasa Syukur

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” QS. Fatir[35]:15

Dari ayat tersebut bisa kita sadari bahwa diri kita 100% bergantung pada Allah SWT karena kita adalah milik Allah SWT. Sebab itulah kita wajib berserah diri pada- Nya. Dan salah satu perwujudannya adalah dengan bersyukur. Mensyukuri nikmat-nikmat Allah sekecil apapun yang telah dilimpahkan ke kita.

Dengan bersyukur akan mengurangi keluh kesah, uring uringan ataupun ngedumel.

Pun Allah SWT berfirman :

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” QS. Ibrahim[14]:7

Tak hanya nikmat yang ditambah oleh Allah SWT, bersyukur pastinya akan lebih menenangkan hati dan merasa tiada tekanan lagi. Ketenangan hati inilah yang akan menuntun kita untuk bisa sensitif merasakan petunjuk petunjuk yang sedang diberikan oleh Allah SWT kepada kita.

2. lbadah (Makan)

Apa sih sebenarnya makan itu?

Apakah makan itu ibadah? Dalam kehidupan sehari hari, diantara kita ada yang bilang kalau makan adalah hobi. Sebab makan adalah suatu rutinitas yang menyenangkan untuk dilakukan. Ada pula yang bilang makan itu hiburan. Sebab makan makanan kesukaan membuat kegalauan hati menjadi sirna. Atau makan itu agar kita kenyang. Sebab makan bisa membuat kita tidak lapar lagi. Tak ada yang salah sebab yang kita rasakan tentang makan memang demikian.

Dalam Al – Qur’an Surah Al-Mulk Ayat 15, Allah SWT berfirman :

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” QS. Al-Mulk[67]:15

Dari ayat ini kita bisa mendapatkan gambaran bahwa makan adalah salah satu perintah dari Allah SWT dan ini berarti makan adalah bagian dari ibadah. Dengan catatan apabila kita makan makanan yang halal & tidak berlebih-lebihan, cara memperolehnya juga halal maupun cara mengolahnya. Dengan dilandasi niat karena Allah untuk melakukan amalan amalan yang baik dari badan sehat karena makanan yang kita santap.

3. Ketekunan/Keuletan

Setan menggoda manusia agar manusia menjadi pribadi yang bodoh. Apa buktinya? Buktinya manusia cenderung untuk lebih memilih yang enak enak saja kalau perlu secara instan tanpa mau repot repot lagi. Lalu bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang penuh ketekunan/keuletan?

Allah SWT berfirman :

“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh (untuk mencari keridaan)

Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” QS. Al-’Ankabut [29]:69

BACA JUGA: Jangan Jadi Orang Miskin

Dari Firman Allah SWT tersebut kita hidup harus berusaha terus menerus sambung menyambung dengan tekun/ulet/sungguh-sungguh untuk menggapai keridaan Allah SWT. Bukan hanya berangan-angan sambil berpangku tangan.

Selanjutnya Allah Subhanahuwa Ta’ala berfirman :

“Siapa yang mengerjakan amal saleh, itu untuk dirinya sendiri dan siapa yang berbuat keburukan, itu akan menimpa dirinya sendiri. Kemudian, hanya kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” QS. Al-Jatsiyah[45]:15

Dari firman tersebut bahwa kita hidup adalah untuk mengerjakan “amalan-amalan baik” terus menerus/sambung menyambung untuk mendapatkan pahala dengan tekun/ulet.

Itulah makna istilah “menyambung hidup” jika kita arahkan & kita tujukan untuk mendapatkan makna yang meluas.

Sedangkan hidup adalah takdir/ketentuan dari Allah yang harus dimanfaatkan untuk menyambung upaya dan menyambung amalan-amalan baik.

Kesimpulan

Makan untuk menyambung hidup adalah rasa syukur kita pada Allah Ta’ala atas rejeki yang dilimpahkan kepada kita sehingga kita bisa makan makanan halal guna menyambung usaha dan upaya menggapai keridaan Allah SWT agar kita bisa menyambung amalan-amalan baik dengan penuh ketekunan/keuletan sepanjang kehidupan kita sebagai bekal untuk menuju akhirat kita. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *