BAGAIMANA perasaan seorang istri jika mengetahui suaminya memiliki kebiasaan menonton film atau tayangan yang mengandung pornografi dan hal-hal yang dilarang agama? Tentu hal tersebut tidak mudah diterima, apalagi jika dilakukan berulang kali dan disembunyikan dari pasangan. Istri bisa merasa kecewa, marah, terluka, bahkan mulai mempertanyakan apakah dirinya masih menarik bagi suaminya.
Di sisi lain, istri mungkin bingung harus melakukan apa. Apakah harus memarahi suami, membiarkannya, memeriksa ponselnya setiap hari, atau bahkan mengancam perceraian? Masalah seperti ini perlu dihadapi dengan tegas, tetapi juga dengan cara yang bijaksana agar persoalan tidak semakin memperburuk hubungan suami istri.
BACA JUGA: Kenapa Orang Banyak yang Suka Film Horor?
Jika yang dimaksud film haram adalah pornografi atau tayangan yang secara jelas mempertontonkan aurat dan membangkitkan syahwat melalui cara yang dilarang, maka kebiasaan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Seorang Muslim diperintahkan menjaga pandangan dan kehormatan dirinya, termasuk ketika sedang sendirian dan tidak ada orang lain yang melihat. Pernikahan tidak membuat seseorang bebas melihat apa saja yang sebelumnya diharamkan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 30 agar laki-laki beriman menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan dirinya. Perintah tersebut menunjukkan bahwa seorang suami tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga pandangannya meskipun sudah memiliki istri. Begitu pula perempuan memiliki kewajiban untuk menjaga pandangan dan kehormatannya sendiri.
Salah satu hal yang sering terjadi ketika istri mengetahui kebiasaan tersebut adalah munculnya rasa tidak percaya diri. Istri mungkin mulai bertanya, “Apakah saya kurang cantik?”, “Apakah tubuh saya tidak menarik?”, atau “Apakah suami sudah tidak bergairah kepada saya?” Pertanyaan seperti ini jika terus dipelihara dapat membuat seorang istri merasa rendah diri dan tidak berharga.
Padahal, kebiasaan suami menonton pornografi tidak otomatis berarti istrinya tidak cantik atau tidak mampu memenuhi kebutuhan suaminya. Kebiasaan tersebut bisa berasal dari pola perilaku yang sudah terbentuk sejak sebelum menikah, rasa bosan, stres, kebiasaan menggunakan internet, atau berbagai faktor lain. Karena itu, istri jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa semua kesalahan tersebut disebabkan oleh kekurangan dirinya.
Istri tetap boleh menegur suami. Namun, pilih waktu yang tepat dan jangan menyampaikan teguran ketika emosi sedang memuncak karena pembicaraan mudah berubah menjadi pertengkaran. Sebaiknya masalah dibicarakan secara pribadi dengan bahasa yang tegas tetapi tetap menghormati pasangan.
Misalnya istri bisa mengatakan, “Saya sedih ketika mengetahui kebiasaan itu, karena saya tidak ingin rumah tangga kita dipengaruhi oleh tontonan seperti itu.” Kemudian istri dapat melanjutkan dengan mengatakan bahwa ia berharap suaminya bersedia memperbaiki diri dan menjaga pandangan. Tujuan pembicaraan tersebut bukan untuk memenangkan pertengkaran, tetapi untuk membantu suami menyadari bahwa kebiasaannya memiliki dampak terhadap dirinya dan rumah tangga.
Istri juga tidak perlu mempermalukan suami di depan anak, keluarga, tetangga, atau teman. Membuka aib pasangan secara sembarangan justru dapat menimbulkan luka yang lebih besar dan merusak kepercayaan dalam rumah tangga. Jika masalah tersebut perlu dibicarakan dengan pihak ketiga karena sudah sangat berat, pilih orang yang amanah dan benar-benar dapat membantu.
Istri juga tidak perlu ikut menonton tayangan haram hanya untuk membuat suami senang. Jika sebuah tontonan memang mengandung sesuatu yang dilarang, maka pasangan tidak berkewajiban mengikuti perbuatan tersebut. Pernikahan bukan berarti suami dan istri harus saling mengikuti dalam segala hal, terutama ketika salah satunya mengajak kepada kemaksiatan.
Jika suami benar-benar ingin berubah, istri dapat memberikan dukungan. Perubahan bisa dimulai dengan menghapus sumber atau akun yang menjadi pemicu, mengurangi situasi yang membuatnya mudah tergoda, memperbaiki penggunaan ponsel, dan menghindari kebiasaan sendirian dengan internet pada waktu-waktu tertentu. Yang paling penting adalah suami sendiri harus memiliki kesadaran bahwa kebiasaan tersebut perlu ditinggalkan karena Allah, bukan hanya karena takut ketahuan istri.
Jangan pula menjadikan istri sebagai polisi yang harus mengawasi suami setiap saat. Jika setiap hari ponsel diperiksa, setiap aktivitas dicurigai, dan setiap kali suami menggunakan internet langsung dianggap melakukan sesuatu yang salah, rumah tangga akan dipenuhi ketegangan. Perubahan yang paling kuat adalah perubahan yang tumbuh dari kesadaran suami sendiri.
Namun, bagaimana jika suami tidak mau berubah? Jika sudah dinasihati dengan baik tetapi suami terus melakukan kebiasaan tersebut, bahkan tidak peduli terhadap perasaan istrinya, maka istri perlu mengambil sikap yang lebih tegas. Sampaikan dengan jelas bahwa perilaku tersebut merusak kepercayaan dan dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Jika persoalan sudah terlalu berat dan tidak dapat diselesaikan berdua, pasangan dapat mempertimbangkan bantuan pihak ketiga yang amanah. Konselor pernikahan, psikolog, atau ustaz yang memahami persoalan rumah tangga dapat membantu melihat masalah dengan lebih objektif. Jika kebiasaan tersebut sudah terasa tidak terkendali dan terus mengganggu kehidupan sehari-hari maupun hubungan pernikahan, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi langkah yang bijaksana.
Istri juga harus berhati-hati agar tidak membalas kesalahan suami dengan kesalahan lain. Jangan sampai karena suami menonton perempuan lain, istri kemudian merasa berhak dekat dengan laki-laki lain atau melakukan perselingkuhan. Kesalahan suami tidak pernah menjadi alasan bagi istri untuk melakukan dosa baru.
Begitu pula suami tidak boleh menjadikan kekurangan istrinya sebagai alasan untuk melihat sesuatu yang haram. Jika ada masalah dalam kehidupan seksual atau hubungan rumah tangga, seharusnya dibicarakan dengan pasangan secara terbuka. Banyak masalah menjadi semakin besar karena pasangan memilih mencari pelarian daripada membicarakan kebutuhan dan kesulitan yang sebenarnya.
Pernikahan seharusnya menjadi tempat suami dan istri saling menjaga. Ketika suami melakukan kesalahan, istri mengingatkan dengan cara yang baik, dan ketika istri melakukan kesalahan, suami juga harus mampu memberikan nasihat dengan cara yang bijaksana. Keduanya bukan manusia sempurna, sehingga rumah tangga seharusnya menjadi tempat untuk saling membantu menjadi lebih baik.
Jadi, bagaimana sikap istri ketika suami hobi menonton film haram? Jangan diam seolah masalah itu tidak ada, tetapi jangan pula langsung menghancurkan rumah tangga hanya karena emosi. Tegur dengan baik, jelaskan dampaknya, ajak suami mencari jalan keluar, dan dukung jika ia benar-benar berusaha meninggalkan kebiasaan tersebut.
Jika suami menolak berubah dan masalah terus berulang, jangan takut mencari bantuan dari pihak yang dapat dipercaya. Istri juga perlu menjaga dirinya agar tidak ikut melakukan maksiat atau membalas dengan perbuatan yang sama. Yang paling penting adalah tetap memiliki batas yang jelas antara sabar dengan membiarkan kesalahan.
Suami yang baik bukan hanya yang mampu memberikan nafkah kepada istrinya. Ia juga harus berusaha menjaga pandangan, kehormatan, dan ketakwaannya kepada Allah. Begitu pula istri yang baik bukan hanya yang mengurus rumah, tetapi juga yang berusaha membantu suaminya berjalan menuju kebaikan.
BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Menonton Film Haram Saat Jima?
Pada akhirnya, masalah seperti ini memang tidak selalu selesai dalam satu percakapan. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama membutuhkan kesadaran, usaha, dan kesabaran untuk berubah. Tetapi selama suami benar-benar memiliki kemauan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut dan istri memberikan dukungan yang sehat, rumah tangga masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Jangan hanya bertanya, “Mengapa suamiku melakukan itu?” Cobalah juga bertanya, “Apa yang bisa kami lakukan agar rumah tangga ini semakin dekat kepada Allah?” Sebab pasangan yang baik bukan hanya menemani ketika keadaan mudah, tetapi juga berusaha saling menyelamatkan ketika salah satunya sedang berjuang meninggalkan keburukan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

