Batas Waktu Haid Itu Sebenarnya Berapa Hari Sih?

Jamiatun Hasanah
5 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK perempuan masih bingung tentang batas waktu haid. Ada yang haid 5 hari. Ada yang 7 hari. Ada juga yang sampai 10 atau bahkan 15 hari.

Lalu sebenarnya, berapa hari batas haid?

Jawabannya perlu dilihat dari dua sisi. Yaitu dari sisi medis dan dari sisi fikih Islam.

Dari Sisi Medis

Secara medis, lama menstruasi setiap perempuan memang bisa berbeda.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), menstruasi pada umumnya berlangsung sekitar 2 sampai 7 hari. Siklus menstruasi sendiri biasanya berlangsung sekitar 21 sampai 35 hari pada orang dewasa. Jadi, kalau seseorang mengalami haid selama 4, 5, 6, atau 7 hari, itu masih termasuk rentang yang umum.

BACA JUGA: Apakah Wanita Haid Boleh Berdzikir?

Namun, kalau perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari, terutama jika darahnya sangat banyak, sebaiknya diperhatikan.

Perdarahan yang terlalu lama bisa berkaitan dengan berbagai kondisi. Misalnya gangguan hormon, masalah ovulasi, kelainan pada rahim, gangguan pembekuan darah, atau kondisi medis lainnya. Jadi, jangan langsung menganggap semua perdarahan panjang sebagai haid biasa.

Lalu Bagaimana Menurut Islam?

Dalam fikih, pembahasan haid memiliki aturan yang lebih khusus.

Dalam mazhab Syafi’i, yang banyak dianut masyarakat Indonesia, batas minimal haid adalah sehari semalam atau 24 jam. Sedangkan batas maksimalnya adalah 15 hari.

Artinya, dalam pembahasan fikih mazhab Syafi’i, darah yang keluar dalam rentang tersebut dapat masuk dalam pembahasan haid dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Namun, bukan berarti setiap perempuan pasti haid selama 15 hari.

Justru, kebanyakan perempuan mengalami haid sekitar 6 atau 7 hari.

Angka 15 hari merupakan batas maksimal dalam fikih mazhab Syafi’i, bukan lama haid yang dianggap normal secara medis.

https://s.shopee.co.id/10wN94gXf1

Kalau Lebih dari 15 Hari Bagaimana?

Nah, bagian ini yang sering membuat bingung. Jika darah keluar terus-menerus lebih dari 15 hari, persoalannya tidak bisa disimpulkan secara sederhana bahwa semuanya adalah haid.

Dalam fikih, darah setelah batas tersebut dapat masuk dalam kategori istihadha, tetapi penentuannya bisa berbeda tergantung kondisi perempuan, kebiasaan haid sebelumnya, dan kemampuan membedakan karakter darah.

Karena itu, perempuan yang mengalami perdarahan lebih dari 15 hari sebaiknya tidak langsung menentukan sendiri seluruh darah tersebut sebagai haid. Terutama jika hal tersebut berkaitan dengan kewajiban shalat dan puasa.

Mengapa Ada Perbedaan Pendapat Ulama?

Menariknya, ulama tidak sepenuhnya memiliki satu pendapat mengenai batas haid.

Mazhab Syafi’i menetapkan batas maksimal 15 hari.

Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa tidak ada batas angka tertentu yang secara tegas ditetapkan oleh dalil untuk menentukan batas maksimal haid. ([Islam-QA][5])

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pembahasan fikih haid memang cukup kompleks. Jadi, jangan mudah menyalahkan perempuan lain yang mengikuti pendapat berbeda. Yang penting adalah mengikuti pendapat ulama yang dipercaya dan memahami aturannya dengan benar.

Haid Bukan Sekadar Soal Darah Dalam Islam, haid berkaitan dengan banyak hal. Mulai dari shalat. Puasa. Membaca Al-Qur’an menurut rincian pendapat ulama.

Hubungan suami istri. Sampai kewajiban mandi setelah selesai haid.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 222 tentang haid dan perintah menjaga hubungan suami istri sampai perempuan kembali suci.

Karena itu, memahami haid bukan hanya persoalan kesehatan perempuan.

Ini juga berkaitan dengan ibadah.

BACA JUGA: Adakah Shalat yang Wajib Diqadha Perempuan saat Haid?

Jangan Panik Jika Siklus Berubah

Siklus menstruasi tidak selalu sama setiap bulan.

Stres, perubahan berat badan, aktivitas fisik, pola makan, penggunaan kontrasepsi, dan perubahan hormon dapat memengaruhi siklus menstruasi.

Namun, jika perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari secara berulang, sangat banyak, atau disertai pusing, lemas, dan hampir pingsan, sebaiknya periksa ke tenaga medis. ACOG juga menyarankan pemeriksaan ketika perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari atau sangat banyak. ([ACOG][2])

Jadi, secara medis, menstruasi umumnya berlangsung 2–7 hari. Sedangkan dalam mazhab Syafi’i, batas maksimal haid adalah 15 hari.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Medis membantu kita memahami kondisi tubuh.

Fikih membantu kita menentukan hukum ibadah.

Dengan memahami keduanya, kita tidak perlu lagi bingung atau panik ketika siklus menstruasi berubah. []

 

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *