SALAH satu sumber pertengkaran yang paling sering muncul dalam rumah tangga adalah masalah uang. Suami merasa sudah bekerja keras mencari nafkah, sementara istri merasa kebutuhan rumah tangga tidak pernah benar-benar tercukupi. Ketika pemasukan terbatas, kebutuhan semakin banyak, dan keinginan terus bertambah, persoalan kecil tentang uang bisa berubah menjadi pertengkaran besar.
Tidak jarang pasangan suami istri yang sebenarnya masih saling mencintai justru bertengkar karena masalah finansial. Suami merasa istrinya terlalu boros. Istri merasa suaminya terlalu pelit. Suami merasa sudah memberikan seluruh penghasilannya, sedangkan istri merasa suaminya tidak transparan mengenai keuangan.
Lalu, mengapa uang sering sekali menjadi sumber konflik dalam rumah tangga?
BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Tidur Setelah Berhubungan Tapi Belum Mandi Wajib?
Uang Bukan Sekadar Uang
Sebenarnya, pertengkaran mengenai uang sering kali bukan hanya tentang uang.
Di balik kalimat, “Kenapa uang belanja sudah habis?” bisa terdapat persoalan kepercayaan. Di balik kalimat, “Kamu kok tidak pernah memberikan lebih?” bisa terdapat perasaan tidak dihargai. Sementara di balik kalimat, “Aku sudah capek bekerja!” bisa terdapat perasaan bahwa perjuangan suami tidak diperhatikan.
Karena itu, ketika pasangan bertengkar tentang uang, jangan hanya melihat nominalnya.
Bisa jadi masalah sebenarnya adalah komunikasi, rasa aman, penghargaan, atau pembagian tanggung jawab yang tidak jelas.
Misalnya, suami mendapatkan penghasilan Rp10 juta setiap bulan. Menurut suami, jumlah tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi menurut istri, jumlah tersebut tidak cukup karena biaya sekolah anak, kebutuhan rumah, cicilan, listrik, transportasi, dan kebutuhan lainnya terus meningkat.
Keduanya mungkin sama-sama merasa benar karena melihat kondisi dari sudut yang berbeda.
Penghasilan Tidak Sesuai dengan Kebutuhan
Masalah paling sederhana adalah ketika pemasukan memang tidak sebanding dengan pengeluaran.
Kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Harga makanan, pendidikan, transportasi, tempat tinggal, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya membutuhkan biaya.
Dalam kondisi seperti ini, pasangan bisa dengan mudah saling menyalahkan.
Istri berkata, “Penghasilanmu kurang.”
Suami menjawab, “Kamu terlalu banyak belanja.”
Padahal mungkin keduanya sama-sama menghadapi persoalan yang nyata.
Jika penghasilan memang terbatas, solusi bukan mencari siapa yang paling salah. Suami dan istri perlu duduk bersama, menghitung pemasukan, mencatat kebutuhan wajib, lalu menentukan mana yang benar-benar harus diprioritaskan.
Rumah tangga adalah kerja sama, bukan arena untuk menentukan siapa yang menang dalam pertengkaran.
Gaya Hidup Bisa Menjadi Sumber Masalah
Ada keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi selalu merasa kekurangan karena gaya hidupnya terlalu tinggi.
Ketika tetangga membeli mobil baru, ingin ikut membeli mobil baru. Ketika teman berlibur, ingin ikut berlibur. Ketika orang lain mengganti HP, ingin mengganti HP juga.
Akhirnya, kebutuhan yang sebenarnya tidak wajib dianggap sebagai kebutuhan pokok.
Media sosial semakin memperbesar persoalan ini. Setiap hari seseorang bisa melihat orang lain memamerkan rumah, kendaraan, pakaian, makanan, liburan, dan berbagai barang mahal.
Jika tidak berhati-hati, seseorang bisa terus membandingkan kehidupan rumah tangganya dengan kehidupan orang lain.
Padahal yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita tidak tahu apakah barang tersebut dibeli secara tunai, dicicil, hasil kerja keras bertahun-tahun, atau bahkan diperoleh dengan cara yang tidak sehat.
Rumah tangga bisa menjadi tidak tenang hanya karena berusaha terlihat sama seperti orang lain.
Suami Merasa Sudah Memberikan Semuanya
Bagi sebagian suami, uang adalah bentuk pengorbanan.
Ia bekerja sejak pagi, menghadapi tekanan pekerjaan, pulang dalam keadaan lelah, kemudian memberikan penghasilannya untuk keluarga. Karena itu, ketika istrinya mengeluhkan kekurangan uang atau meminta tambahan, suami bisa merasa perjuangannya tidak dihargai.
“Memangnya aku kurang kerja keras?”
Kalimat semacam ini sering muncul dalam konflik.
Di sisi lain, istri mungkin bukan bermaksud meremehkan perjuangan suami. Ia hanya sedang menyampaikan kebutuhan yang memang harus dipenuhi.
Di sinilah komunikasi sangat penting.
Suami perlu memahami bahwa kebutuhan istri bukan selalu bentuk pemborosan. Istri juga perlu memahami bahwa kemampuan suami memiliki batas.
Keduanya harus membicarakan kondisi keuangan secara terbuka tanpa saling merendahkan.
Istri Merasa Tidak Mendapatkan Nafkah yang Cukup
Dari sisi lain, istri bisa merasa suaminya tidak memberikan nafkah sebagaimana mestinya.
Dalam Islam, memberikan nafkah kepada istri dan anak merupakan tanggung jawab suami sesuai dengan kemampuannya. Allah berfirman dalam QS. Ath-Thalaq ayat 7 bahwa orang yang memiliki kelapangan hendaknya memberikan nafkah sesuai kelapangannya, sementara orang yang terbatas rezekinya memberikan sesuai dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya.
Ayat ini mengajarkan dua hal sekaligus.
Suami tidak boleh mengabaikan kewajiban nafkah hanya karena tidak ingin mengeluarkan uang. Tetapi istri juga perlu memahami bahwa kewajiban nafkah berkaitan dengan kemampuan, bukan tuntutan untuk memenuhi seluruh keinginan tanpa batas.
Karena itu, ukuran nafkah tidak seharusnya ditentukan hanya dengan membandingkan suami dengan suami orang lain.
Masalah Uang Bisa Muncul karena Tidak Transparan
Persoalan yang lebih serius terjadi ketika pasangan tidak terbuka mengenai keuangan.
Suami memiliki utang tetapi menyembunyikannya dari istri. Istri memiliki pengeluaran besar tetapi tidak memberitahukannya kepada suami. Salah satu pihak memiliki rekening atau aset yang sengaja dirahasiakan untuk kepentingan pribadi.
Ketika hal tersebut terbongkar, persoalannya bukan lagi sekadar uang.
Kepercayaan ikut rusak.
Dalam rumah tangga, transparansi keuangan sangat penting, terutama jika keputusan finansial berdampak pada pasangan dan anak.
Tidak berarti setiap pasangan harus kehilangan seluruh privasi. Tetapi utang besar, kewajiban keluarga, cicilan, dan keputusan finansial yang memengaruhi kehidupan bersama sebaiknya dibicarakan secara terbuka.
Utang Sering Memperbesar Pertengkaran
Utang juga menjadi salah satu sumber tekanan finansial dalam rumah tangga.
Ketika cicilan terlalu banyak, sebagian besar penghasilan habis sebelum digunakan untuk kebutuhan keluarga. Akhirnya, setiap bulan pasangan kembali bertengkar karena uang.
Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang mengambil utang hanya untuk mempertahankan gaya hidup.
Misalnya membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan karena ingin terlihat sukses. Setelah itu, pembayaran cicilan menjadi beban keluarga.
Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap persoalan utang. Karena itu, pasangan sebaiknya berhati-hati sebelum mengambil kewajiban finansial baru.
Jangan sampai keinginan sesaat menghasilkan tekanan bertahun-tahun.
Masalah Uang Juga Bisa Menjadi Masalah Kekuasaan
Ada suami yang menggunakan uang untuk mengontrol istrinya.
Setiap kali terjadi konflik, ia berkata, “Saya yang mencari uang, jadi kamu harus mengikuti semua kemauan saya.”
Padahal kepemimpinan dalam rumah tangga bukan berarti seseorang boleh bertindak semena-mena.
Sebaliknya, ada pula pasangan yang menggunakan uang sebagai alat untuk menghukum suami atau istri. Misalnya sengaja menyembunyikan pengeluaran, menghamburkan uang karena marah, atau menggunakan kebutuhan finansial sebagai alat untuk melakukan tekanan.
Cara seperti ini justru merusak rumah tangga.
Uang seharusnya menjadi sarana memenuhi kebutuhan keluarga, bukan senjata untuk menguasai pasangan.
Jangan Membandingkan Penghasilan Suami dengan Suami Orang Lain
“Suami teman saya bisa memberikan Rp20 juta, kenapa kamu tidak?”
Kalimat seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa sangat melukai suami.
Setiap keluarga memiliki kondisi berbeda. Kemampuan, pekerjaan, tanggungan, kesehatan, kesempatan, dan kebutuhan setiap orang tidak sama.
Jika suami memang sudah berusaha secara halal sesuai kemampuannya, istri sebaiknya tidak menjadikan kekayaan orang lain sebagai standar untuk merendahkan suaminya.
Begitu pula suami tidak boleh berkata, “Istri orang lain bisa mengatur uang lebih baik, kenapa kamu tidak?”
Perbandingan semacam ini jarang menyelesaikan masalah.
Biasanya justru menambah luka.
Cara Menghindari Pertengkaran karena Uang
Pertama, buat anggaran keluarga bersama.
Catat berapa penghasilan yang masuk dan ke mana uang tersebut digunakan. Pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban, tabungan, dana darurat, dan hiburan.
Kedua, tentukan prioritas.
Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Rumah tangga yang sehat mampu membedakan antara “butuh” dan “ingin”.
Ketiga, sepakati batas pengeluaran.
Untuk pengeluaran tertentu yang nilainya cukup besar, sebaiknya suami dan istri berdiskusi terlebih dahulu.
Keempat, jangan membicarakan uang ketika sedang emosi.
Jika pembicaraan sudah berubah menjadi saling menghina, berhenti sejenak. Tenangkan diri dan lanjutkan pembicaraan ketika suasana sudah lebih baik.
Kelima, jangan menyembunyikan utang yang besar.
Masalah keuangan yang disembunyikan biasanya akan menjadi lebih besar ketika akhirnya terbongkar.
Keenam, evaluasi keuangan secara berkala.
Tidak harus menunggu sampai uang habis baru berdiskusi. Duduk bersama sebulan sekali untuk mengevaluasi pengeluaran bisa membantu pasangan mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
Belajar Bersyukur Tanpa Berhenti Berusaha
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha dan hanya menerima keadaan. Tetapi Islam juga mengajarkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaan.
Ada keluarga dengan penghasilan sederhana tetapi rumahnya penuh ketenangan. Ada pula keluarga dengan penghasilan besar tetapi hampir setiap hari bertengkar.
Uang memang penting.
Tanpa uang, banyak kebutuhan hidup tidak dapat dipenuhi. Tetapi uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan dalam rumah tangga.
Kasih sayang, kejujuran, komunikasi, kesetiaan, kesabaran, dan keberkahan rezeki juga sangat penting.
Suami perlu berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal. Istri perlu membantu mengatur rumah tangga dengan bijaksana. Keduanya perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
Dan ketika rezeki sedang sempit, jangan jadikan pasangan sebagai musuh.
Suami dan istri seharusnya berdiri di sisi yang sama untuk menghadapi masalah.
Jangan Sampai Uang Mengalahkan Pernikahan
Pada akhirnya, masalah finansial memang nyata dan tidak boleh disepelekan. Namun jangan sampai persoalan uang membuat suami dan istri lupa bahwa mereka adalah pasangan yang seharusnya saling menguatkan.
Jika uang sedikit, hadapi bersama. Jika penghasilan meningkat, tetap kelola dengan bijak. Jika memiliki utang, selesaikan bersama. Jika ada pengeluaran yang berlebihan, evaluasi bersama.
BACA JUGA: Apa Saja Perbuatan Haram Saat Suami Istri Jima yang Jarang Disadari?
Dan jika sedang menghadapi kesulitan, jangan saling menyalahkan sebelum mencari solusi.
Sebab rumah tangga bukan tentang siapa yang paling banyak menghasilkan uang atau siapa yang paling banyak mengeluarkan uang. Rumah tangga adalah tentang dua orang yang berusaha membangun kehidupan bersama dengan amanah.
Bisa jadi hari ini uang menjadi masalah terbesar dalam rumah tangga. Tetapi jangan sampai karena uang, suami kehilangan istrinya, istri kehilangan suaminya, dan anak-anak kehilangan ketenangan di rumah.
Rezeki bisa dicari kembali. Barang bisa dibeli kemudian. Gaya hidup bisa diturunkan. Tetapi kepercayaan yang rusak dan hati pasangan yang terluka tidak selalu mudah diperbaiki. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

