Apakah Komentar Menyakitkan Orang di Media Sosial Akan Dihisab di Akhirat?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

MEDIA sosial membuat seseorang bisa berbicara kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan ini juga membuat sebagian orang merasa bebas menulis apa saja tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sebuah komentar yang diketik sambil tertawa di balik layar bisa saja membuat orang lain menangis, kehilangan kepercayaan diri, bahkan mengalami tekanan yang panjang.

Lalu muncul pertanyaan: apakah komentar menyakitkan kepada orang lain di media sosial akan dipertanggungjawabkan di akhirat?

Jawabannya, jika komentar tersebut mengandung kezaliman, penghinaan, fitnah, ghibah, tuduhan tanpa bukti, atau perkataan yang menyakiti orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, maka perkara tersebut tidak boleh dianggap sepele. Apa yang ditulis oleh seseorang termasuk bagian dari perkataan dan perbuatannya yang dapat dicatat sebagai amal.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia tidak mengucapkan suatu perkataan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatatnya. Artinya, tidak ada alasan bahwa tulisan di kolom komentar tidak dihitung hanya karena tidak diucapkan secara langsung.

BACA JUGA: Kenapa Banyak Muslimah Tak Malu Bicara Urusan Ranjang di Media Sosial?

Jari juga Bisa Menjadi Jalan Dosa

Pada zaman dahulu, seseorang mungkin harus berhadapan langsung untuk menghina atau menyakiti orang lain. Sekarang, cukup dengan mengetik beberapa kata, sebuah penghinaan bisa dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang.

Inilah yang membuat dosa lisan memiliki bentuk baru: dosa tulisan.

Ketika seseorang menulis, “Dasar bodoh!”, “Mukamu jelek sekali,” “Pantas hidupmu susah,” atau komentar lain yang sengaja merendahkan orang lain, maka hendaknya ia berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah perkataan itu benar-benar perlu ditulis?

Jangan sampai seseorang merasa aman karena hanya menggunakan akun media sosial. Di hadapan manusia mungkin komentar itu hanya dianggap sebagai candaan. Namun di hadapan Allah, setiap perkataan dan perbuatan memiliki konsekuensi.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seorang Muslim berkata yang baik atau diam. Prinsip ini sangat relevan dalam penggunaan media sosial. Jika tidak ada manfaat dari sebuah komentar, diam sering kali jauh lebih selamat daripada menulis sesuatu yang berpotensi menyakiti orang lain.

“Kan Cuma Bercanda”

Salah satu alasan yang sering digunakan ketika seseorang ditegur karena komentarnya adalah, “Saya cuma bercanda.”

Padahal, bercanda bukan berarti seseorang bebas mengatakan apa saja.

Bercanda yang diperbolehkan tetap memiliki batas. Tidak boleh menjadikan kebohongan sebagai bahan hiburan, tidak boleh merendahkan kehormatan seseorang, tidak boleh membuka aib, dan tidak boleh menyebabkan orang lain terzalimi.

Yang perlu diperhatikan adalah dampaknya. Jika seseorang menulis komentar dengan maksud mempermalukan orang lain di depan publik, kemudian setelah ditegur ia hanya berkata, “Baper banget,” masalahnya tidak otomatis selesai.

Bisa jadi orang yang memberikan komentar merasa lucu, sementara orang yang menerimanya merasa dipermalukan.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya belajar membedakan antara humor yang membuat orang tertawa bersama dan humor yang menjadikan seseorang sebagai bahan tertawaan.

Bagaimana Jika Komentar Itu Benar?

Ini juga menjadi persoalan yang sering terjadi.

Misalnya, seseorang memang memiliki kekurangan. Apakah kita boleh mengungkapkannya di kolom komentar?

Belum tentu.

Kebenaran tidak selalu berarti boleh disampaikan dengan cara apa pun dan kepada siapa pun. Jika seseorang mempunyai kesalahan, menasihatinya dengan cara yang baik tentu berbeda dengan mempermalukannya di depan ribuan orang.

Apalagi jika komentar tersebut sebenarnya tidak bertujuan memperbaiki, melainkan sekadar menunjukkan bahwa kita lebih baik darinya.

Seorang Muslim harus berhati-hati terhadap niat. Bisa saja sebuah komentar secara faktual benar, tetapi cara menyampaikannya mengandung kesombongan, penghinaan, atau membuka aib yang tidak perlu.

Menyampaikan kebenaran membutuhkan hikmah.

Bagaimana Jika Orang yang Dihina Tidak Pernah Tahu?

Misalnya seseorang menulis komentar buruk tentang orang lain, tetapi korban tidak pernah membaca komentar tersebut. Apakah tetap menjadi dosa?

Secara prinsip, tidak diketahuinya perbuatan tersebut oleh korban bukan berarti otomatis menjadikannya halal.

Allah mengetahui apa yang dilakukan manusia, baik yang diketahui orang lain maupun yang tersembunyi. Karena itu, jangan menjadikan ketidaktahuan korban sebagai alasan untuk merasa aman.

Bahkan, jika komentar tersebut tersebar dan dibaca banyak orang, persoalannya bisa menjadi lebih besar karena penghinaan atau informasi buruk itu telah menyebar kepada orang lain.

Jejak digital juga dapat memperpanjang dampak sebuah perkataan. Satu komentar mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk ditulis, tetapi bisa tersimpan, dibagikan, dan dilihat orang lain selama bertahun-tahun.

https://s.shopee.co.id/4qFFUJfgf2

Bagaimana Bentuk Hisabnya di Akhirat?

Islam mengajarkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amalnya.

Salah satu hadis yang sangat penting dalam persoalan ini adalah hadis tentang orang yang disebut Nabi ﷺ sebagai orang yang bangkrut atau muflis. Ia datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga pernah mencela orang lain, menuduh orang lain, mengambil hak orang lain, atau menzalimi mereka.

Akibatnya, pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahala tersebut habis sementara kezalimannya belum selesai, dosa orang yang dizaliminya dapat dibebankan kepadanya.

Hadis ini seharusnya membuat kita berhati-hati ketika menggunakan media sosial.

Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama gemar merendahkan orang lain melalui komentar. Jangan sampai pahala yang dikumpulkan dengan susah payah justru menjadi “alat pembayaran” atas kezaliman kepada sesama manusia.

Berbeda Pendapat Tidak Berarti Boleh Menghina

Media sosial penuh dengan perbedaan pendapat. Perbedaan politik, pilihan gaya hidup, pendapat keagamaan, pilihan pekerjaan, hingga persoalan rumah tangga bisa menjadi bahan perdebatan.

Berbeda pendapat adalah sesuatu yang bisa terjadi. Namun perbedaan pendapat tidak memberikan izin untuk menghina pribadi seseorang.

Kita bisa mengatakan, “Saya tidak setuju dengan pendapat tersebut,” tanpa mengatakan, “Kamu memang bodoh.”

Kita bisa mengkritik sebuah tindakan tanpa merendahkan keluarganya.

Kita bisa menunjukkan kesalahan tanpa menggunakan kata-kata yang menghancurkan harga diri.

Inilah akhlak yang harus dijaga seorang Muslim, termasuk ketika berada di balik layar.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Menulis Komentar Menyakitkan?

Jika seseorang menyadari bahwa dirinya pernah menulis komentar yang zalim atau menyakitkan, jangan hanya menghapus komentar tersebut lalu merasa semuanya selesai.

Pertama, segera bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh.

Kedua, menyesali perbuatan tersebut dan bertekad tidak mengulanginya.

Ketiga, jika komentar tersebut mengandung fitnah atau tuduhan yang telah tersebar, usahakan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan. Jika memungkinkan dan tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar, klarifikasi atau minta maaf kepada orang yang dirugikan.

Namun persoalan meminta maaf juga perlu dilakukan dengan hikmah. Jangan sampai seseorang justru memberitahukan sebuah aib yang sebelumnya tidak diketahui korban hanya karena ingin merasa sudah meminta maaf. Dalam perkara seperti ini, pertimbangan maslahat dan mudarat sangat penting.

Yang jelas, jangan menganggap dosa kepada manusia sebagai perkara ringan.

Sebelum Menekan Tombol “Kirim”

Ada baiknya setiap Muslim memiliki kebiasaan sederhana sebelum menulis komentar.

Tanyakan kepada diri sendiri: apakah komentar ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah cara penyampaiannya baik? Apakah saya akan tetap berani mengatakan kalimat ini jika orang tersebut berada tepat di depan saya? Dan yang paling penting, apakah saya rela jika tulisan ini diperlihatkan kepada saya pada hari kiamat?

Pertanyaan terakhir mungkin cukup untuk membuat seseorang menghapus banyak komentar.

Media sosial sebenarnya bisa menjadi ladang pahala. Satu nasihat yang baik dapat membantu orang lain. Satu informasi bermanfaat dapat menjadi amal jariyah. Satu kalimat yang menguatkan seseorang yang sedang terpuruk juga bisa menjadi kebaikan.

Tetapi media sosial juga bisa menjadi ladang dosa jika digunakan untuk menghina, mencaci, menyebarkan aib, memfitnah, dan merendahkan manusia.

BACA JUGA: Banyaknya Suami yang Tak Keberatan Istrinya Tampil Buka Aurat di Media Sosial

Karena itu, jangan merasa bahwa komentar hanyalah tulisan kecil di layar.

Bisa jadi bagi kita, komentar itu hanya lima detik. Tetapi bagi orang lain, luka akibatnya bisa bertahun-tahun. Dan bagi kita sendiri, apa yang ditulis oleh jari bukan sesuatu yang otomatis hilang dari catatan amal.

Pada akhirnya, seorang Muslim hendaknya mengingat bahwa setiap kata memiliki pertanggungjawaban. Jika tidak mampu membuat orang lain tersenyum dengan komentar kita, setidaknya jangan membuat mereka menangis.

Sebab di dunia maya kita mungkin bisa menghapus komentar, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa di hadapan Allah, seluruh amal akan diperhitungkan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *