Cara Nabung di Tahun 2026 Ini Gimana Sih?

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

NABUNG terdengar sederhana: uang masuk, sebagian disimpan, sisanya digunakan.

Tapi kenyataannya, banyak orang sudah berniat menabung sejak awal bulan, lalu uangnya habis sebelum sempat disimpan.

Apalagi di tengah biaya hidup yang terus berjalan, kebutuhan semakin banyak, dan godaan belanja semakin mudah. Lantas, bagaimana cara menabung yang lebih realistis di tahun 2026?

1. Jangan Menunggu Ada Uang Sisa

Ini kesalahan yang sering dilakukan.

“Nanti kalau ada sisa, saya tabung.”

Masalahnya, uang hampir selalu punya cara untuk menemukan pengeluaran baru.

Karena itu, ubah prinsipnya menjadi:

Penghasilan masuk → tabung dulu → baru gunakan sisanya.

Tidak harus langsung besar. Yang penting dilakukan secara konsisten.

Misalnya, setiap menerima penghasilan, langsung sisihkan 5–10% untuk tabungan.

BACA JUGA:  Kenapa Kita Harus Menabung Emas?

2. Tentukan Target yang Jelas

Menabung tanpa tujuan sering membuat kita mudah mengambil kembali uang yang sudah disimpan.

Buat target yang konkret.

Misalnya:

Dana darurat Rp10 juta.
Membeli laptop Rp8 juta.
Liburan Rp5 juta.
Modal usaha Rp20 juta.
Persiapan biaya pendidikan.

Ketika tujuan jelas, kita tahu mengapa harus menahan diri hari ini.

3. Pisahkan Rekening Tabungan

Jangan mencampurkan uang tabungan dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Kalau semuanya berada dalam satu rekening, uang tersebut akan terasa seperti masih tersedia untuk dibelanjakan.

Buat rekening khusus untuk tabungan dan, kalau memungkinkan, gunakan rekening yang tidak terlalu sering dibuka untuk transaksi harian.

Bikin uang tabungan sedikit lebih sulit disentuh.

https://s.shopee.co.id/2LWWIAjXnN

4. Gunakan Sistem Otomatis

Kalau memungkinkan, buat transfer otomatis setiap kali menerima gaji atau penghasilan.

Misalnya, tanggal menerima gaji langsung dipotong Rp500 ribu untuk tabungan.

Dengan sistem seperti ini, menabung tidak lagi bergantung pada mood atau sisa uang.

Otomatis lebih baik daripada mengandalkan niat.

5. Coba Tantangan “Tidak Belanja” Sesekali

Tidak perlu ekstrem.

Pilih beberapa hari dalam sebulan untuk tidak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

Misalnya, tidak membeli kopi di luar, tidak checkout barang yang belum dibutuhkan, atau tidak memesan makanan hanya karena sedang ingin.

Uang yang biasanya keluar untuk pengeluaran kecil tersebut langsung dipindahkan ke tabungan.

Kadang kita baru sadar bahwa pengeluaran kecil yang berulang ternyata jumlahnya lumayan besar.

6. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli sesuatu, tanyakan tiga hal:

Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?

Apakah saya mampu membelinya tanpa mengganggu kebutuhan utama?

Kalau tidak membelinya hari ini, apakah hidup saya akan terganggu?

Kalau jawabannya tidak, mungkin pembelian tersebut bisa ditunda.

Tidak semua yang kita inginkan harus segera kita miliki.

7. Jangan Lupa Dana Darurat

Menabung bukan hanya untuk membeli sesuatu.

Salah satu tujuan terpenting adalah membangun dana darurat.

Dana ini dapat digunakan ketika menghadapi kondisi tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga mendesak, atau pengeluaran penting lainnya.

Besarnya dana darurat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk jumlah tanggungan dan kestabilan penghasilan.

8. Naikkan Tabungan Ketika Penghasilan Naik

Ketika penghasilan meningkat, jangan langsung menaikkan gaya hidup dalam jumlah yang sama.

Misalnya penghasilan bertambah Rp1 juta.

Tidak harus seluruh tambahan tersebut digunakan.

Sebagian bisa masuk ke tabungan atau dana darurat.

Jangan biarkan penghasilan naik, tetapi tabungan tetap jalan di tempat.

Gaji Rata-rata di Malaysia, Hukum Meminjam Uang kepada Rentenir, korupsi, gaji, Hukum Menukar Uang, Cara Cepat Jadi Kaya, utang, Rezeki, Masa Depan Anak, Ketahanan Keuangan Keluarga,, Kunci Rezeki, Gaji Rp10 Juta, riba, korupsi, Zakat Penghasilan, Uang, Cara Nabung
Foto: Freepik

9. Catat Pengeluaran

Tidak perlu menggunakan metode yang rumit.

Cukup catat selama satu bulan:

Makan.
Transportasi.
Tagihan.
Belanja.
Hiburan.
Cicilan.
Pengeluaran kecil lainnya.

Setelah itu lihat ke mana uang paling banyak pergi.

Bisa jadi masalahnya bukan karena penghasilan terlalu kecil, tetapi karena ada pengeluaran yang selama ini tidak pernah diperhatikan.

BACA JUGA: Bolehkah Menabung untuk Haji Tapi Tidak Pernah Sedekah?

10. Mulai dari Nominal yang Sanggup

Jangan merasa harus menabung jutaan rupiah setiap bulan.

Kalau kemampuan saat ini hanya Rp100 ribu atau Rp200 ribu, mulai dari sana.

Yang penting bukan terlihat besar di bulan pertama, tetapi mampu bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Rp200 ribu yang konsisten jauh lebih baik daripada target Rp2 juta yang hanya bertahan satu bulan.

Kesimpulan

Cara menabung di tahun 2026 sebenarnya tidak harus rumit.

Tentukan tujuan, sisihkan uang di awal, pisahkan rekening, kendalikan pengeluaran, dan lakukan secara konsisten.

Jangan menunggu kaya untuk mulai menabung.

Justru kebiasaan menabunglah yang membantu kita menjadi lebih siap menghadapi kebutuhan dan kejadian tidak terduga.

Mulai saja dari kecil. Yang penting bukan seberapa besar uang yang berhasil disimpan hari ini, tetapi apakah kita bisa terus menyisihkannya setiap bulan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *