JANGAN tanya seberapa dalam kesedihan Nawar binti Malik al-Najjariyah ketika melihat suaminya diantar pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Suaminya menjadi salah satu korban peperangan antara suku Aus dan Khazraj di Bu’ats, sebuah daerah dekat Yatsrib. Peristiwa itu bukan hanya meninggalkan luka bagi masyarakat Yatsrib, tetapi juga mengubah kehidupan sebuah keluarga.
Kesedihan Nawar berlipat. Suaminya telah pergi, meninggalkan Zaid yang ketika itu baru berusia sekitar enam tahun. Zaid kehilangan sosok ayah pada usia ketika seorang anak masih sangat membutuhkan perlindungan dan bimbingan.
Nawar kini harus menjalankan peran yang tidak ringan. Ia harus membesarkan Zaid seorang diri. Namun, justru dari keadaan yang berat itulah terlihat salah satu pelajaran penting tentang pendidikan anak: keterbatasan keadaan tidak selalu menentukan masa depan seorang anak. Yang sangat menentukan adalah bagaimana orang tua mengarahkan potensi yang ada pada dirinya.
Nawar tidak sekadar membesarkan Zaid agar tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa. Ia menanamkan iman, memperkenalkannya kepada Rasulullah ﷺ, dan membiarkan anaknya berada dekat dengan sumber pendidikan terbaik pada zamannya.
Dari Rumah Seorang Ibu Menuju Pendidikan Rasulullah
Setelah peperangan Bu’ats berakhir, masyarakat Yatsrib mulai menyadari bahwa permusuhan antarsuku hanya akan membawa kehancuran. Ketika dakwah Islam mulai sampai ke Yatsrib melalui Mush’ab bin Umair, Nawar termasuk orang yang menyambutnya dengan iman.
Keimanannya kemudian melahirkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ Ketika mendengar bahwa beliau akan datang ke Yatsrib, Nawar turut menyambut kedatangan beliau. Namun, ketika orang-orang sibuk menanti Rasulullah, Nawar justru kembali ke rumah untuk menyiapkan sesuatu.
BACA JUGA: Pengaruh Ambisi dan Masa Lalu Orang Tua dalam Mendidik Anak
Ia membuat hidangan sederhana berupa roti yang dicampur kuah susu dan minyak samin. Kemudian ia meminta Zaid untuk mengantarkannya kepada Rasulullah ﷺ
Zaid melaksanakan perintah ibunya. Ia datang dengan sopan, membawa hidangan tersebut dan berkata bahwa ibunya mengirimkannya.
Rasulullah ﷺ melihat anak itu dengan penuh perhatian. Beliau kemudian mendoakannya,
“Allah memberkahimu.”
Bagi seorang ibu, doa Rasulullah ﷺ kepada anaknya tentu merupakan sesuatu yang sangat berharga. Nawar tidak sedang memberikan Zaid sebuah benda yang mahal. Ia sedang mendekatkan anaknya kepada manusia yang kelak menjadi pendidik utamanya.
Di sinilah pendidikan Zaid mulai menemukan arah.
Nawar memberikan kesempatan kepada Zaid untuk dekat dengan Rasulullah. Sementara Rasulullah ﷺ tidak mengabaikan anak-anak yang berada di sekelilingnya. Zaid dan anak-anak lainnya memperhatikan bagaimana beliau shalat, berbicara, duduk, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Anak-anak belajar bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui kedekatan, keteladanan, dan pengamatan.
Zaid pun tumbuh dalam lingkungan seperti itu.
Ketika Keinginan Anak Harus Diarahkan
Pada tahun kedua Hijriah, ketika kaum Muslimin bersiap menghadapi pasukan Quraisy dalam Perang Badar, Zaid ingin ikut serta. Ia membawa pedang ayahnya dan perlengkapan perang.
Namun, Rasulullah ﷺ melihat usianya yang masih terlalu muda. Beliau tidak mengizinkannya ikut dan menyuruhnya kembali kepada ibunya.
Zaid pulang dalam keadaan kecewa.
Di sinilah peran Nawar kembali terlihat. Ia tidak mematikan semangat anaknya. Ia juga tidak mengecilkan keinginannya untuk berbuat sesuatu bagi Islam.
Ia justru menenangkannya:
“Jangan sedih, Anakku. Tak lama lagi kau akan tumbuh menjadi pria dewasa dan akan bergabung dengan prajurit di medan-medan perang.”
Nasihat itu sederhana, tetapi mengandung cara mendidik yang penting.
Nawar tidak mengatakan, “Kamu masih kecil, jangan ikut campur.” Ia tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk meremehkan cita-cita anak. Sebaliknya, ia mengubah kekecewaan menjadi kesabaran dan harapan.
Ketika Perang Uhud tiba, peristiwa serupa kembali terjadi. Zaid masih terlalu muda untuk ikut bertempur. Ia kembali kecewa dan mengadu kepada ibunya.
Nawar kembali memberikan penguatan yang sama.
Dari sini kita dapat melihat bahwa pendidikan anak tidak selalu berarti memenuhi semua keinginannya. Kadang-kadang pendidikan justru berarti menunda keinginan itu sampai anak benar-benar siap, tanpa mematikan semangat yang berada di balik keinginan tersebut.
Zaid ingin berjuang. Semangat itu tidak dimatikan. Yang diarahkan adalah bentuk dan waktunya.
Ketika Kesempatan Datang
Pada tahun kelima Hijriah, Zaid akhirnya dapat bergabung dengan kaum Muslimin dalam Perang Khandaq. Ia memang belum menjadi prajurit utama. Ia terlibat dalam penggalian parit.
Rasulullah ﷺ melihatnya dan memujinya sebagai pemuda yang baik.
Pujian itu tentu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi Zaid.
Seorang anak yang sebelumnya berkali-kali ditolak karena terlalu muda, akhirnya memperoleh pengakuan ketika waktunya tiba.
Pelajaran pentingnya adalah: anak membutuhkan kesempatan, tetapi kesempatan harus diberikan sesuai kesiapan.
Orang tua tidak perlu memaksa anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Rasulullah ﷺ membiarkan Zaid tumbuh sesuai tahap perkembangannya. Ketika belum siap berperang, ia dikembalikan kepada ibunya. Ketika sudah mampu mengambil peran, ia diberi kesempatan.
Ketika Potensi Anak Ditemukan
Menariknya, kemampuan Zaid ternyata bukan terutama pada kekuatan fisik. Potensi terbesarnya justru berada pada kecerdasan, daya ingat, kemampuan membaca, menulis, dan menguasai bahasa.
Rasulullah ﷺ menangkap potensi tersebut.
Ketika para tawanan Perang Badar dimanfaatkan untuk mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak Madinah, Zaid termasuk di antara mereka yang belajar. Ia cepat memahami pelajaran. Setelah menguasai baca-tulis, ia terus mengembangkan kemampuannya secara mandiri.
Di sinilah tampak kecerdasan Rasulullah ﷺ dalam mendidik.
Beliau tidak memaksakan semua anak memiliki bentuk keunggulan yang sama. Zaid ingin menjadi pejuang, tetapi Rasulullah ﷺ menemukan bahwa Allah memberinya kemampuan yang jauh lebih strategis bagi umat.
Pendidikan bukan sekadar mengarahkan anak kepada apa yang ia inginkan. Pendidikan juga berarti menemukan apa yang Allah titipkan dalam dirinya.
Ketika Zaid memiliki perhatian khusus terhadap Al-Qur’an, Rasulullah ﷺ semakin memberinya ruang. Ia menghafalkan ayat-ayat yang didengarnya dan kemudian termasuk sahabat yang menghafal Al-Qur’an pada masa Rasulullah ﷺ
Melihat kemampuannya, Rasulullah ﷺ memasukkannya ke dalam jajaran pencatat wahyu.
Seorang anak yang dahulu kecewa karena tidak diperbolehkan ikut perang, ternyata menemukan medan perjuangan yang lain: pena, hafalan, ilmu, dan wahyu.
Memberikan Tantangan yang Sesuai dengan Kemampuan
Rasulullah ﷺ juga mengetahui kemampuan Zaid dalam mempelajari bahasa. Karena itu, beliau meminta Zaid mempelajari bahasa Ibrani agar dapat membantu urusan surat-menyurat dengan orang Yahudi.
Zaid menerima tugas tersebut dengan serius. Ia belajar dengan tekun hingga mampu menguasainya dalam waktu yang relatif singkat.
Tugas tersebut menunjukkan pola pendidikan yang sangat menarik: setelah menemukan kemampuan seorang anak, berikan kepadanya tantangan yang sedikit lebih tinggi daripada kemampuan yang telah dimilikinya.
Zaid tidak dibiarkan berhenti setelah mampu membaca dan menulis. Ia diberi tanggung jawab. Setelah terlihat mampu menghafal Al-Qur’an, ia dipercaya mencatat wahyu. Setelah diketahui memiliki kemampuan bahasa, ia diberi tugas yang membutuhkan kemampuan tersebut.
Potensi yang ditemukan kemudian dilatih, ditantang, dan diberi amanah.
Inilah salah satu cara potensi berubah menjadi kompetensi.
Anak yang Dididik untuk Menjadi Penjaga Peradaban
Pada akhirnya, kehebatan Zaid bukan hanya karena ia cerdas. Kehebatannya terletak pada bagaimana kecerdasannya ditempatkan untuk melayani agama dan umat.
Ia menjadi salah seorang pencatat wahyu. Ia menghafal Al-Qur’an. Ia menguasai ilmu faraid. Bahkan Rasulullah ﷺ memujinya sebagai orang yang paling menguasai ilmu waris dari umat beliau.
Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Zaid mendapat tugas penting mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an yang tersebar di berbagai media tulis untuk dihimpun menjadi satu mushaf.
Pada masa Utsman bin Affan, ia kembali terlibat dalam proses penggandaan mushaf dan penyebarannya ke berbagai wilayah.
Dengan demikian, anak yatim yang dahulu hanya ingin ikut berperang itu akhirnya menjadi salah satu penjaga warisan ilmu terbesar umat Islam.
Di sinilah kita melihat buah pendidikan Nawar dan Rasulullah ﷺ
Nawar memberikan fondasi dari rumah. Rasulullah ﷺ menemukan dan mengembangkan potensinya. Zaid kemudian mengubah potensi itu menjadi amanah bagi umat.
BACA JUGA: Memupuk Keberanian Anak
Apa yang Dapat Dipelajari Orang Tua?
Kisah Zaid bin Tsabit memberikan pelajaran bahwa mendidik anak bukanlah sekadar membuat anak menjadi pintar. Pendidikan adalah proses menemukan potensi, memberikan lingkungan yang tepat, membangun iman, dan mengarahkan kemampuan itu agar menjadi manfaat.
Nawar tidak menyerah kepada keadaan setelah menjadi janda. Ia justru membawa Zaid mendekat kepada Rasulullah ﷺ Dari rumahnya, Zaid memperoleh fondasi iman. Dari Rasulullah ﷺ, ia memperoleh keteladanan, kesempatan belajar, tantangan, dan kepercayaan.
Rasulullah ﷺ juga tidak terburu-buru menjadikan Zaid dewasa. Ketika belum waktunya berperang, beliau menyuruhnya pulang. Ketika waktunya tiba, ia diberi kesempatan.
Beliau tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Di balik keinginan Zaid menjadi prajurit, Rasulullah ﷺ melihat sesuatu yang lebih besar: akal yang tajam, hafalan yang kuat, kemampuan belajar, dan potensi menjadi penjaga ilmu umat.
Karena itu, orang tua perlu belajar melihat anak bukan hanya dari apa yang ia sukai hari ini, tetapi dari potensi apa yang Allah titipkan kepadanya untuk masa depan.
Jangan sampai kita sibuk menjadikan anak sesuai dengan ambisi kita, sementara kita gagal menemukan amanah Allah yang sebenarnya ada dalam dirinya.
Zaid pernah ingin membawa pedang ayahnya ke medan perang. Namun, Allah mengarahkannya kepada sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada sebuah pedang.
Ia membawa Al-Qur’an.
Ia membawa ilmu.
Ia membawa amanah.
Dan dari seorang anak yatim yang dibesarkan oleh seorang ibu, lahirlah seorang pemuda yang kemudian menjadi salah satu penjaga Al-Qur’an dan ilmu bagi umat Islam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

