KADANG yang membuat kita lelah bukan kehidupan sendiri. Tetapi kehidupan orang lain yang terus kita lihat melalui layar.
Pagi baru dimulai.
Tangan sudah mencari telepon.
Membuka WhatsApp.
Kemudian Instagram.
Lalu TikTok.
Beberapa menit kemudian, tanpa disadari, hati mulai membandingkan.
Ada teman yang baru menikah.
Ada yang membeli rumah.
Ada yang naik jabatan.
Ada yang pergi umrah.
Ada yang bisnisnya semakin besar.
Ada yang terlihat bahagia bersama keluarganya.
Sementara kita masih berjuang dengan persoalan yang sama.
Lalu muncul pertanyaan.
“Kenapa hidup saya belum seperti mereka?”
“Apakah saya tertinggal?”
“Apakah saya tidak cukup berhasil?”
BACA JUGA: Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?
Dari sinilah kecemasan bisa tumbuh.
Media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang buruk.
Ia adalah alat.
Masalahnya adalah ketika kehidupan orang lain yang tampil di layar mulai menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri.
Psikolog sosial Leon Festinger menjelaskan melalui teori social comparison bahwa manusia memang memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain.
Dahulu, perbandingan itu mungkin hanya terjadi dengan tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja.
Sekarang berbeda.
Dalam satu hari, kita bisa melihat kehidupan ratusan orang.
Bahkan ribuan.
Masalahnya, yang kita lihat biasanya adalah bagian terbaiknya.
Kita melihat keberhasilannya.
Tidak melihat perjuangannya.
Kita melihat senyumnya.
Tidak mengetahui kesedihannya.
Kita melihat rumahnya.
Tidak mengetahui cicilannya.

Kita melihat perjalanannya.
Tidak mengetahui masalah yang mungkin sedang dibawanya.
Akhirnya, kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan terbaik orang lain.
Itulah yang berbahaya.
Penelitian tentang penggunaan media sosial juga menunjukkan bahwa perbandingan sosial di dunia digital dapat berkaitan dengan munculnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecemasan, dan tekanan psikologis.
Kita mulai merasa kurang.
Kurang cantik.
Kurang kaya.
Kurang sukses.
Kurang bahagia.
Bahkan merasa kurang berharga.
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi orang lain.
Allah hanya meminta kita menjalani amanah yang diberikan kepada kita.
Al-Qur’an mengingatkan:
«“Janganlah kamu berangan-angan terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain.”» (QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini terasa semakin relevan di zaman ketika kehidupan orang lain begitu mudah masuk ke ruang pribadi kita.
Kita tidak perlu iri terhadap jalan hidup orang lain.
Karena setiap manusia memiliki waktunya sendiri.
Ada yang mendapatkan kesuksesan di usia muda.
Ada yang baru menemukannya setelah melewati banyak kegagalan.
Ada yang menikah lebih dahulu.
Ada yang harus menunggu lebih lama.
Ada yang memiliki banyak harta.
Ada yang diberi ketenangan dengan kehidupan sederhana.
Semua memiliki cerita.
Semua memiliki ujian.
Karena itu, jangan menjadikan media sosial sebagai alat untuk mengukur nilai diri.
Jika setelah membuka media sosial kita menjadi lebih bersyukur, teruskan.
Tetapi jika kita menjadi semakin gelisah, mudah iri, sulit tidur, merasa tidak berharga, atau terus memikirkan kehidupan orang lain, mungkin sudah waktunya mengambil jarak.
Bukan berarti harus menghapus semua media sosial.
Cukup belajar menggunakannya dengan sehat.
Sesekali letakkan telepon.
Tarik napas.
Berjalan keluar rumah.
Bertemu keluarga.
Beribadah tanpa terganggu notifikasi.
Dan yang paling penting, belajar berbicara tentang apa yang kita rasakan.
Sebab ada kecemasan yang tidak selesai hanya dengan nasihat, “Sudahlah, jangan dipikirkan.”
Ada luka yang membutuhkan ruang untuk diceritakan.
Ada pikiran yang perlu ditata.
Di sinilah konseling dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar.
Konseling bukan tanda seseorang lemah.
Bukan pula tanda seseorang gagal menghadapi hidup.
Justru konseling dapat menjadi ruang untuk memahami diri dengan lebih jernih.
Seseorang dapat belajar mengenali sumber kecemasannya.
Memahami pola pikirnya.
Mengelola emosi.
Menentukan batas yang sehat.
Dan menemukan kembali cara menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Dalam Islam, tawakal bukan berarti berhenti berusaha.
Berdoa bukan berarti tidak mencari solusi.
Meminta pertolongan bukan berarti kehilangan iman.
Kita tetap berikhtiar.
Kita tetap berdoa.
Kita juga boleh mencari bantuan ketika merasa tidak sanggup mengelola beban sendirian.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Sebab menjaga kesehatan jiwa juga bagian dari menjaga amanah Allah.
Mungkin hari ini kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain.
Sampai lupa melihat nikmat yang ada dalam kehidupan sendiri.
Ada keluarga.
Ada kesehatan.
Ada rezeki.
Ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ada waktu untuk bertaubat.
Dan ada Allah yang selalu membuka pintu harapan.
Maka sesekali, berhentilah menggulir layar.
Pulanglah kepada kehidupan nyata.
Sebab kebahagiaan tidak selalu berada di layar.
Dan ketenangan tidak pernah ditentukan oleh jumlah like.
Tidak semua yang terlihat harus dimiliki.
Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita kejar.
Dan tidak semua kecemasan harus kita hadapi sendirian.
Jika hati terasa terlalu penuh, tidak ada salahnya mencari ruang untuk bercerita.
Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban yang panjang.
Tetapi seseorang yang membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


