“LIHAT kakakmu, dia rajin bekerja.” “Kenapa kamu tidak bisa seperti adikmu?” Kalimat seperti ini mungkin pernah didengar banyak orang dari orang tua ketika masih kecil. Bagi sebagian orang, perbandingan tersebut dianggap sebagai cara orang tua memotivasi anak, tetapi bagi sebagian lainnya justru meninggalkan luka yang terbawa sampai dewasa.
Sebenarnya, mengapa orang tua zaman dulu cukup sering membandingkan anak-anaknya? Salah satu penyebabnya adalah pola pengasuhan yang mereka terima dari generasi sebelumnya. Banyak orang tua dahulu dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap teguran keras, perbandingan, dan kritik sebagai cara yang wajar untuk membuat anak menjadi lebih baik.
BACA JUGA: Anak Ga Mau Ngaji, Orang Tua Boleh Mukul?
Ketika seorang anak dianggap kurang rajin, misalnya, orang tua mungkin sengaja menyebut keberhasilan saudaranya sebagai contoh. Mereka berharap anak tersebut merasa terdorong untuk berubah. Dalam sudut pandang orang tua, kalimat perbandingan tersebut bisa saja dimaksudkan sebagai motivasi, meskipun dampaknya terhadap anak belum tentu sesuai dengan harapan.
Selain itu, orang tua zaman dahulu sering memiliki ukuran keberhasilan yang lebih sederhana. Anak yang rajin sekolah, mendapatkan pekerjaan tetap, membantu orang tua, atau memiliki keluarga yang mapan sering dianggap sebagai contoh keberhasilan. Ketika ada anak yang jalannya berbeda, orang tua mungkin menggunakan anak lain sebagai pembanding karena hanya itu cara yang mereka kenal untuk menyampaikan harapan.
Masalahnya, setiap anak memiliki kemampuan, karakter, kondisi ekonomi, dan perjalanan hidup yang berbeda. Anak yang terlihat sukses dalam satu bidang belum tentu unggul dalam semua hal. Karena itu, membandingkan dua anak secara terus-menerus dapat membuat salah satu dari mereka merasa tidak pernah cukup baik.
Perbandingan juga dapat muncul karena orang tua sebenarnya sedang merasa khawatir. Ketika melihat anaknya belum mendapatkan pekerjaan, belum menikah, belum memiliki rumah, atau kehidupannya belum stabil, rasa khawatir tersebut terkadang keluar dalam bentuk kalimat yang membandingkan. Sayangnya, kekhawatiran yang disampaikan dengan cara seperti itu bisa terdengar sebagai penghinaan bagi anak.
Ada pula orang tua yang membandingkan anak karena ingin menjaga hubungan sosial dengan lingkungan. Ketika tetangga atau kerabat bercerita bahwa anak mereka berhasil menjadi pegawai, pengusaha, atau memiliki prestasi tertentu, orang tua mungkin merasa terdorong untuk melihat pencapaian anaknya sendiri. Dalam budaya yang sangat memperhatikan penilaian masyarakat, keberhasilan anak terkadang ikut dianggap sebagai simbol keberhasilan orang tua.
Padahal, kehidupan anak bukan perlombaan. Ada anak yang sukses pada usia muda, ada yang baru menemukan jalan hidupnya ketika sudah dewasa, dan ada pula yang memilih kehidupan sederhana tetapi penuh tanggung jawab. Tidak adil jika semua anak dipaksa mengikuti ukuran keberhasilan yang sama.
Dalam perspektif Islam, orang tua memang memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak. Namun, pendidikan tidak harus dilakukan dengan merendahkan atau mempermalukan anak. Rasulullah SAW mengajarkan kelembutan dalam mendidik dan memperhatikan kondisi orang yang sedang diberikan nasihat.
Membandingkan anak secara terus-menerus juga dapat memengaruhi hubungan antarsaudara. Anak yang sering dijadikan contoh bisa merasa tidak nyaman karena keberhasilannya seolah-olah digunakan untuk menjatuhkan saudaranya. Sementara anak yang selalu dibandingkan dapat menyimpan rasa iri atau merasa bahwa saudaranya adalah penyebab dirinya tidak pernah mendapatkan penghargaan dari orang tua.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung lama, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus selalu mengalahkan orang lain agar mendapatkan kasih sayang. Ia mungkin menjadi sangat takut gagal, mudah merasa rendah diri, atau justru kehilangan semangat karena menganggap apa pun yang dilakukannya tidak akan pernah cukup di mata orang tua.
Namun, memahami alasan orang tua melakukan perbandingan bukan berarti semua cara tersebut harus dibenarkan. Kita dapat memahami bahwa mereka mungkin mengikuti pola pengasuhan yang diwariskan dari generasi sebelumnya, sekaligus menyadari bahwa beberapa pola tersebut perlu diperbaiki. Memahami masa lalu orang tua dapat membantu kita melihat persoalan dengan lebih tenang tanpa harus menganggap semua tindakan mereka benar.
Bagi orang yang sudah dewasa dan masih terluka karena sering dibandingkan, penting untuk menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh pencapaian saudara, teman, atau tetangga. Kegagalan memenuhi standar orang lain tidak berarti kita gagal sebagai manusia. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjalani kehidupannya sesuai kemampuan, kesempatan, dan jalan yang Allah berikan.
Sementara bagi orang tua masa kini, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran agar tidak mengulang pola yang sama. Daripada mengatakan, “Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”, akan lebih baik mengatakan, “Apa yang membuat kamu kesulitan, dan bagaimana Ayah atau Ibu bisa membantu?” Kalimat kedua tetap menunjukkan perhatian, tetapi membuka ruang bagi anak untuk bercerita dan mencari solusi.
Anak juga perlu diberikan apresiasi atas perkembangan dirinya sendiri. Jika sebelumnya ia kesulitan belajar kemudian mulai berusaha, perubahan tersebut layak dihargai meskipun hasilnya belum sebesar pencapaian orang lain. Dengan demikian, anak belajar bahwa usaha dan proses juga memiliki nilai, bukan hanya hasil akhir.
BACA JUGA: Orang Tua Ahli Maksiat, Anak Masih Wajib Berbakti?
Pada akhirnya, banyak orang tua dulu membandingkan anak bukan selalu karena mereka tidak menyayangi anaknya. Sebagian melakukannya karena mengikuti pola asuh yang mereka kenal, ingin memotivasi, merasa khawatir, atau terpengaruh oleh ukuran keberhasilan di lingkungan sekitar. Namun, niat yang baik tetap perlu disertai cara yang tepat agar nasihat tidak berubah menjadi luka.
Jadi, jika kita pernah menjadi anak yang sering dibandingkan, tidak perlu membawa luka tersebut untuk selamanya. Ambil pelajaran dari pengalaman itu dan jangan mengulangi pola yang sama kepada generasi berikutnya. Karena setiap anak membutuhkan nasihat dan arahan, tetapi mereka juga membutuhkan perasaan bahwa dirinya tetap berharga meskipun tidak menjadi seperti saudara atau orang lain. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

