ADA pasangan yang hidup sederhana.
Penghasilannya tidak selalu besar.
Rumahnya tidak mewah.
Tetapi mereka terlihat tenang.
Suaminya pulang.
Istrinya menyambut.
Mereka berbicara.
Mereka bercanda.
Kadang hanya duduk berdua.
Tanpa banyak kata.
Ada kehangatan di antara mereka.
Suatu hari sang suami berkata,
“Entah kenapa, sejak kita lebih dekat, saya merasa lebih semangat bekerja.”
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Istrinya tersenyum.
“Bukan berarti uang langsung datang.”
“Tapi mungkin hati kita lebih tenang.”
Kalimat sederhana itu menarik.
Benarkah hubungan suami istri yang lebih sering dapat membuat rezeki semakin lancar?
Kalau dilihat secara ilmiah, jawabannya tidak sesederhana itu.
Tidak ada bukti bahwa semakin sering melakukan hubungan seksual, maka pendapatan seseorang otomatis meningkat.
Rezeki tidak bisa dihitung dengan rumus seperti itu.
Tetapi ada hubungan yang menarik antara keintiman pasangan dan kesehatan manusia.

Hubungan suami istri yang sehat dapat menjadi bagian dari kedekatan emosional.
Ada sentuhan.
Ada rasa diterima.
Ada rasa dicintai.
Ada komunikasi.
Ada rasa aman.
Ketika seseorang merasa aman secara emosional, tubuh dapat lebih mudah memasuki kondisi relaksasi.
Dalam hubungan seksual yang sehat dan saling menyetujui, tubuh juga dapat melepaskan berbagai zat kimia seperti oksitosin dan endorfin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan kedekatan.
Pada sebagian orang, keintiman juga dapat membantu relaksasi dan kualitas tidur.
Namun setiap orang berbeda.
Dan hubungan seksual bukan obat untuk semua masalah.
Yang lebih penting bukan sekadar seberapa sering.
Tetapi bagaimana kualitas hubungan itu sendiri.
Sebab hubungan yang sering tetapi penuh tekanan tidak otomatis membuat rumah tangga sehat.
Sebaliknya, pasangan yang mampu berkomunikasi.
Saling menghargai.
Saling memahami.
Dan menjaga keintiman.
Dapat memiliki fondasi hubungan yang lebih baik.
Ketika hubungan emosional menjadi lebih sehat, stres dalam rumah tangga dapat berkurang.
Ketika stres berkurang, seseorang bisa lebih mudah berkonsentrasi.
Lebih tenang mengambil keputusan.
Lebih bersemangat menjalankan pekerjaan.
Lebih mampu menghadapi tekanan.
Di sinilah seseorang mungkin merasa hidupnya menjadi lebih “lancar”.
Bukan karena hubungan seksual secara ajaib mendatangkan uang.
Tetapi karena kondisi psikologis yang lebih sehat dapat mendukung kehidupan sehari-hari.
Bayangkan seorang suami yang setiap hari pulang dengan pikiran penuh.
Target pekerjaan.
Tagihan.
Masalah kantor.
Kemacetan.
Ia masuk rumah dengan kepala yang berat.
Kemudian istrinya tidak langsung bertanya tentang uang.
Tidak langsung menuntut.
Ia duduk di sampingnya.
Mendengarkan.
Memberikan pelukan.
Mereka berbicara.
Malam itu terasa berbeda.
Masalah belum selesai.
Tetapi hati menjadi lebih ringan.
Besok pagi, sang suami kembali bekerja.
Masalah masih ada.
Tetapi cara menghadapinya berubah.
Ia lebih tenang.
Lebih fokus.
Lebih percaya diri.
Inilah pentingnya melihat hubungan suami istri secara utuh.
Keintiman bukan hanya tentang hubungan seksual.
Ia juga tentang perhatian.
Sentuhan.
Komunikasi.
Kesetiaan.
Dan rasa saling membutuhkan.
Namun ada pasangan yang justru sedang kehilangan semua itu.
Mereka masih tinggal serumah.
Tetapi jarang berbicara.
Masih tidur berdekatan.
Tetapi hati terasa jauh.
Suami merasa tidak dimengerti.
Istri merasa tidak diperhatikan.
Keduanya sama-sama lelah.
Keduanya sama-sama menunggu.
Tetapi tidak ada yang memulai.
Kadang persoalannya bukan karena tidak ada cinta.
Cintanya masih ada.
Hanya saja tertutup oleh luka.
Oleh kecewa.
Oleh kesibukan.
Oleh masalah ekonomi.
Oleh komunikasi yang terlalu lama tidak dibicarakan.
Dalam keadaan seperti ini, memaksakan hubungan seksual bukanlah solusi.
Yang perlu dibangun kembali adalah rasa aman.
Kepercayaan.
Komunikasi.
Dan kedekatan emosional.
Di sinilah konseling pasangan bisa menjadi sebuah ruang untuk berhenti sejenak.
Bukan ruang untuk mencari siapa yang salah.
Bukan tempat untuk menghakimi suami.
Bukan pula tempat menyalahkan istri.
Tetapi ruang untuk memahami.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa yang selama ini dipendam?
Apa yang ingin disampaikan tetapi tidak pernah mampu diucapkan?
Kadang pasangan hanya membutuhkan seseorang yang membantu mereka membuka percakapan.
Pelan-pelan.
Tanpa saling menyerang.
Tanpa harus merasa paling benar.
Sebab ada masalah yang sulit diselesaikan ketika dua orang sedang sama-sama terluka.
Mereka membutuhkan ruang ketiga yang aman.

Ruang untuk mendengar.
Ruang untuk memahami.
Ruang untuk belajar kembali menjadi pasangan.
Jika akhir-akhir ini hubungan terasa semakin dingin, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa cinta sudah hilang.
Mungkin ada komunikasi yang perlu diperbaiki.
Mungkin ada luka yang perlu disembuhkan.
Mungkin ada kebutuhan emosional yang belum pernah disampaikan.
Dan mungkin ada hal-hal sederhana yang sebenarnya ingin dikatakan.
“ Aku ingin kamu mendengarkanku.”
“Aku ingin kita dekat lagi.”
“Aku sebenarnya sedang lelah.”
“Aku ingin rumah ini kembali menjadi tempat pulang.”
Kalimat-kalimat sederhana itu terkadang menjadi awal perubahan besar.
Konseling tidak harus menunggu rumah tangga berada di ambang perpisahan.
Tidak harus menunggu pertengkaran menjadi semakin besar.
Konseling juga bisa menjadi langkah preventif.
Seperti kita memeriksa kesehatan tubuh sebelum sakit menjadi berat, hubungan pun sesekali perlu diperiksa.
Bukan karena hubungan kita gagal.
BACA JUGA: Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?
Tetapi karena hubungan itu berharga.
Jika Anda dan pasangan sedang mengalami jarak emosional, komunikasi yang semakin sulit, konflik yang berulang, atau sekadar ingin membangun kembali kedekatan, tidak ada salahnya mencari ruang untuk bercerita.
Datang bukan karena rumah tangga Anda buruk.
Datang karena Anda masih peduli.
Masih ingin memperbaiki.
Masih ingin mempertahankan kehangatan.
Masih ingin melihat pasangan tersenyum dengan nyaman.
Karena terkadang yang dibutuhkan bukan hubungan yang lebih sering.
Tetapi hubungan yang lebih bermakna.
Lebih hangat.
Lebih sehat.
Lebih saling memahami.
Dan lebih penuh kasih sayang.
Ruang aman untuk cerita.
Ruang nyaman untuk pulih.
Karena rumah tangga yang sehat bukan hanya tentang tinggal bersama.
Tetapi tentang bagaimana dua hati tetap memilih untuk saling mendekat, bahkan ketika kehidupan sedang tidak mudah. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


