Bolehkah Marah kepada Orang yang Lewat di Depan Kita Saat Shalat?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Islampos AI

SHALAT merupakan ibadah yang membutuhkan kekhusyukan, ketenangan, dan konsentrasi. Karena itu, tidak sedikit orang yang merasa terganggu ketika ada seseorang berjalan tepat di depan mereka saat sedang shalat, terlebih jika orang tersebut melintas di tempat yang seharusnya menjadi lokasi sujud. Lantas, bolehkah kita marah kepada orang yang lewat di depan kita saat shalat, atau justru kita harus membiarkannya begitu saja?

Dalam Islam, persoalan melewati orang yang sedang shalat bukan perkara yang sepenuhnya dianggap sepele. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus terhadap hal ini melalui sejumlah hadis yang menjelaskan larangan melintas di depan orang yang sedang mengerjakan shalat. Namun, bagaimana cara menyikapinya juga perlu diperhatikan agar kita tidak melakukan tindakan yang justru bertentangan dengan adab dan tuntunan agama.

BACA JUGA: Hanya Membaca Al-Fatihah Ketika Shalat, Apakah Boleh?

1. Melewati Tempat Sujud Orang yang Sedang Shalat Perlu Dihindari

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai orang yang melintas di depan seseorang yang sedang shalat. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa seandainya orang yang melintas di depan orang shalat mengetahui besarnya dosa perbuatannya, niscaya ia lebih memilih berdiri selama empat puluh daripada melintas di depannya.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa melintas di depan orang yang sedang shalat bukanlah tindakan yang patut dianggap biasa. Meski demikian, para ulama membahas batasan area yang dimaksud dengan depan orang shalat, terutama berkaitan dengan keberadaan sutrah atau pembatas shalat. Karena itu, tidak setiap orang yang berjalan di sekitar orang shalat otomatis melakukan pelanggaran yang sama.

Jika seseorang sedang shalat dan orang lain sengaja melewati tepat di antara dirinya dan sutrah, atau melintas di area dekat tempat sujudnya ketika tidak ada sutrah, perbuatan tersebut perlu dihindari. Orang yang hendak melintas sebaiknya mencari jalan lain agar tidak mengganggu ibadah orang lain.

2. Bolehkah Kita Marah Ketika Ada Orang yang Melintas?

Pada dasarnya, merasa kesal ketika kekhusyukan shalat terganggu merupakan reaksi manusiawi. Akan tetapi, perasaan kesal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci maki, memukul, atau melakukan tindakan berlebihan kepada orang yang melintas. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan ibadah sekaligus tetap mengendalikan diri ketika menghadapi gangguan.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang sedang shalat memiliki cara untuk mencegah seseorang melintas di depannya. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau mengajarkan agar orang yang shalat menggunakan sutrah dan mencegah orang yang hendak melintas di antara dirinya dan sutrah tersebut. Jika orang itu tetap memaksa, terdapat perintah untuk menahannya dengan tegas.

Dengan demikian, mencegah orang melintas bukanlah tindakan yang terlarang selama dilakukan sesuai tuntunan dan tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar. Namun, mencegah berbeda dengan melampiaskan kemarahan. Kita boleh menunjukkan ketidaksenangan melalui tindakan yang wajar, tetapi tidak dibenarkan menjadikan gangguan tersebut sebagai alasan untuk kehilangan kendali.

https://s.shopee.co.id/1LgAKiBI1b

3. Bagaimana Cara Mencegah Orang yang Lewat Saat Kita Shalat?

Jika seseorang hendak melintas tepat di depan kita ketika sedang shalat, kita dapat berusaha mencegahnya dengan gerakan yang sesuai dan tidak berlebihan. Dalam hadis, Rasulullah SAW mengajarkan agar orang yang shalat mencegah orang yang melintas di depannya, bahkan jika orang tersebut tetap memaksa, ia boleh ditahan dengan lebih tegas. Para ulama menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan seperlunya untuk menjaga area shalat, bukan untuk menyakiti orang lain.

Karena itu, apabila ada orang yang hendak melewati tempat sujud kita, kita dapat memberikan isyarat dengan tangan untuk menghentikannya. Jika memungkinkan, gunakan sutrah sebelum memulai shalat agar batas area shalat lebih jelas bagi orang lain. Cara ini juga membantu mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan, khususnya ketika shalat di masjid yang ramai.

Namun, kita tetap perlu mempertimbangkan keadaan. Jika orang tersebut tidak mengetahui bahwa kita sedang shalat, berada dalam kondisi darurat, atau tidak memiliki jalan lain yang aman, sikap bijaksana dan tidak berlebihan tetap diperlukan. Jangan sampai keinginan menjaga kekhusyukan berubah menjadi tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

4. Apakah Orang yang Lewat Sengaja Harus Dimarahi Setelah Shalat?

Jika orang tersebut sengaja melintas meskipun mengetahui ada orang yang sedang shalat, perbuatannya patut ditegur. Akan tetapi, teguran sebaiknya disampaikan dengan cara yang baik dan bertujuan memperbaiki perilaku, bukan mempermalukan atau membalas dendam. Apalagi, kita tidak selalu mengetahui alasan seseorang melintas, apakah karena tidak tahu, terburu-buru, atau memang sengaja mengabaikan orang yang sedang beribadah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 134 bahwa di antara sifat orang bertakwa adalah mereka yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Ayat ini mengingatkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Menjaga kehormatan shalat memang penting, tetapi menjaga lisan dan perilaku juga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, setelah selesai shalat, kita dapat menjelaskan dengan santun bahwa melintas tepat di depan orang yang sedang shalat sebaiknya dihindari. Jika orang tersebut tidak mengetahui hukumnya, penjelasan tersebut bisa menjadi sarana belajar. Jika ia memang sengaja melakukannya, teguran yang tenang tetap lebih baik daripada pertengkaran yang berlarut-larut.

5. Jangan Sampai Gangguan Orang Lain Membuat Kita Melupakan Adab

Ketika shalat di masjid atau tempat umum, kita perlu memahami bahwa menjaga kekhusyukan merupakan tanggung jawab pribadi sekaligus bagian dari penghormatan terhadap ibadah orang lain. Orang yang sedang shalat hendaknya berusaha melindungi area shalatnya, misalnya dengan menggunakan sutrah jika memungkinkan. Sementara itu, orang yang berjalan di sekitarnya sebaiknya mencari jalan yang tidak melintas tepat di depan orang yang sedang beribadah.

Meski demikian, tidak semua gangguan bisa dihindari. Ada kalanya seseorang melintas karena tidak memahami aturan, tidak melihat orang yang sedang shalat, atau menghadapi keadaan yang mendesak. Dalam kondisi seperti itu, kesabaran dan kebijaksanaan menjadi penting agar masalah kecil tidak berkembang menjadi pertengkaran.

BACA JUGA: Bolehkah Tidak Tahu atau Tidak Mengerti Arti Bacaan dalam Shalat?

Pada akhirnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga kehormatan ibadah dan menjaga akhlak. Kita tidak perlu membiarkan orang sengaja mengganggu shalat, tetapi kita juga tidak boleh menjadikan gangguan tersebut sebagai pembenaran untuk memaki atau menyakiti orang lain. Tegas dalam menjaga batas shalat dan tetap mampu mengendalikan amarah merupakan sikap yang lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Jadi, bolehkah marah kepada orang yang lewat tepat di tempat sujud ketika kita shalat? Merasa kesal merupakan hal yang manusiawi, dan mencegah orang melintas di depan kita memiliki dasar dalam hadis. Namun, kemarahan harus dikendalikan dan tindakan pencegahan dilakukan secara wajar, tanpa kekerasan atau perilaku yang melampaui batas. Dengan begitu, kita dapat menjaga kekhusyukan shalat sekaligus mempertahankan akhlak yang baik. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *