MASA muda sering dianggap sebagai waktu untuk bersenang-senang dan mencoba berbagai hal baru. Sayangnya, sebagian orang menjadikan minuman beralkohol sebagai bagian dari gaya hidup, bahkan sampai mabuk-mabukan berulang kali setiap pekan. Mereka mungkin merasa tubuhnya masih kuat dan tidak mengalami gangguan kesehatan berarti, sehingga menganggap kebiasaan tersebut tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Padahal, konsumsi alkohol berlebihan dapat menimbulkan kerusakan organ yang berkembang secara perlahan. Dampaknya bisa baru terasa ketika seseorang memasuki usia 40 atau 50 tahun, meskipun gangguan kesehatan juga dapat muncul lebih cepat. Lantas, apa saja penyakit yang berpotensi dialami oleh orang yang sejak muda sering mabuk-mabukan?
BACA JUGA: Hobi Ibrahim bin Adham Muda yang Membuatnya Sadar
1. Penyakit Hati, Mulai dari Perlemakan hingga Sirosis
Hati merupakan organ utama yang memproses alkohol setelah masuk ke dalam tubuh. Jika seseorang sering mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan, sel-sel hati dapat mengalami kerusakan secara bertahap. Salah satu gangguan yang dapat muncul adalah perlemakan hati akibat alkohol, yaitu penumpukan lemak di dalam sel-sel hati.
Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, peradangan hati dapat berkembang dan menyebabkan terbentuknya jaringan parut. Dalam kondisi berat, kerusakan ini dapat berujung pada sirosis, yaitu kondisi ketika jaringan hati yang sehat digantikan oleh jaringan parut sehingga fungsinya terganggu. Sirosis dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti penumpukan cairan di perut, perdarahan saluran pencernaan, hingga gagal hati.
Yang membuat penyakit ini berbahaya adalah gejalanya bisa tidak terlihat pada tahap awal. Seseorang mungkin tetap merasa sehat meskipun kerusakan hati mulai berkembang. Karena itu, orang yang memiliki riwayat konsumsi alkohol berlebihan sebaiknya tidak menunggu sampai kulit menguning atau perut membesar untuk memeriksakan kesehatannya.
2. Penyakit Jantung dan Tekanan Darah Tinggi
Kebiasaan mabuk-mabukan juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem kardiovaskular. Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah dan merusak otot jantung. Jika kerusakan berlanjut, jantung bisa mengalami kardiomiopati, yaitu gangguan pada otot jantung yang membuat kemampuan memompa darah menurun.
Selain itu, alkohol dapat memicu gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium. Kondisi tersebut membuat detak jantung menjadi tidak teratur dan dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah serta terjadinya stroke. Risiko gangguan jantung tidak hanya bergantung pada usia, tetapi juga pada jumlah alkohol yang dikonsumsi, frekuensi minum, dan faktor kesehatan lainnya.
Seseorang yang masih berusia 20-an atau 30-an mungkin belum merasakan keluhan berarti. Namun, kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah jantung ketika usia bertambah. Mengurangi atau menghentikan konsumsi alkohol merupakan salah satu langkah penting untuk membantu melindungi kesehatan jantung.
3. Pankreatitis atau Peradangan Pankreas
Pankreas merupakan organ yang berperan dalam proses pencernaan dan pengaturan kadar gula darah. Konsumsi alkohol berlebihan dapat memicu pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas yang dapat terjadi secara akut maupun kronis. Kondisi ini perlu diwaspadai karena serangannya bisa menimbulkan rasa sakit yang berat dan membutuhkan perawatan medis.
Pankreatitis akut dapat menyebabkan nyeri hebat di bagian atas perut yang terkadang menjalar ke punggung, disertai mual dan muntah. Jika seseorang terus mengonsumsi alkohol setelah mengalami kerusakan pankreas, peradangan dapat berulang dan berkembang menjadi pankreatitis kronis. Kerusakan jangka panjang ini dapat mengganggu pencernaan, menyebabkan penurunan berat badan, dan meningkatkan risiko diabetes.
Tidak semua orang yang sering mabuk-mabukan pasti mengalami penyakit ini. Namun, risiko gangguan pankreas meningkat ketika konsumsi alkohol berlebihan berlangsung dalam jangka panjang. Jika muncul nyeri perut hebat yang menetap, terutama disertai muntah, segera cari pertolongan medis.
4. Risiko Kanker Meningkat
Salah satu dampak konsumsi alkohol yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya risiko beberapa jenis kanker. Alkohol telah diakui sebagai zat karsinogenik yang berkaitan dengan kanker rongga mulut, tenggorokan, kerongkongan, hati, usus besar, dan rektum. Pada perempuan, konsumsi alkohol juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara.
Risiko tersebut berkaitan dengan berbagai mekanisme, termasuk paparan asetaldehida, yaitu zat beracun yang terbentuk ketika tubuh memetabolisme alkohol. Zat ini dapat merusak DNA dan mengganggu proses normal sel. Semakin besar konsumsi alkohol secara keseluruhan, semakin tinggi pula risiko sejumlah penyakit yang berkaitan dengannya.
Perlu dipahami bahwa kanker tidak hanya menyerang orang lanjut usia dan tidak semua orang yang minum alkohol akan mengalaminya. Namun, kebiasaan mabuk-mabukan sejak muda dapat menambah paparan alkohol selama bertahun-tahun. Menghentikan kebiasaan tersebut dapat membantu menurunkan risiko dibandingkan jika seseorang terus mengonsumsinya.
5. Kerusakan Otak dan Penurunan Daya Ingat
Alkohol memengaruhi sistem saraf pusat dan dapat mengganggu kemampuan otak untuk memproses informasi. Ketika seseorang mabuk, konsentrasi, koordinasi gerakan, penilaian situasi, dan pengambilan keputusan dapat menurun. Jika konsumsi berlebihan terus berlangsung, dampaknya dapat meluas hingga mengganggu daya ingat dan kemampuan berpikir.
Dalam jangka panjang, konsumsi alkohol berat dapat berkaitan dengan perubahan struktur otak dan gangguan fungsi kognitif. Sebagian orang mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, atau kesulitan mengendalikan emosi. Kerusakan saraf juga dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, dan kelemahan pada bagian tubuh tertentu.
Risiko gangguan otak dapat semakin besar apabila konsumsi alkohol disertai kekurangan gizi, terutama kekurangan vitamin B1 atau tiamin. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan sindrom Wernicke-Korsakoff, gangguan serius yang dapat memengaruhi keseimbangan, gerakan mata, dan ingatan. Oleh sebab itu, orang yang mengalami ketergantungan alkohol perlu mendapatkan penanganan medis, bukan hanya mengandalkan perubahan pola makan.
6. Diabetes dan Gangguan Metabolisme
Konsumsi alkohol berlebihan dapat mengganggu sejumlah proses metabolisme di dalam tubuh. Kebiasaan ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, peningkatan tekanan darah, perubahan kadar lemak darah, dan penurunan sensitivitas insulin. Berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 pada sebagian orang.
Alkohol juga memengaruhi kemampuan hati dalam mengatur pelepasan glukosa ke dalam darah. Pada orang yang menggunakan obat diabetes atau memiliki kondisi tertentu, konsumsi alkohol dapat menyebabkan kadar gula darah turun terlalu rendah, terutama ketika minum tanpa makan yang cukup. Karena itu, alkohol dapat menimbulkan masalah tambahan bagi orang yang sudah memiliki gangguan pengaturan gula darah.
Jika kebiasaan mabuk-mabukan berlangsung sejak muda, gangguan metabolisme dapat berkembang bersamaan dengan bertambahnya usia dan faktor risiko lainnya. Meski demikian, diabetes tidak selalu disebabkan oleh alkohol saja karena faktor keturunan, pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga berperan. Menjaga berat badan, berolahraga teratur, dan menghindari alkohol merupakan langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan metabolisme.
7. Gangguan Mental dan Ketergantungan Alkohol
Dampak mabuk-mabukan bukan hanya berkaitan dengan penyakit fisik. Konsumsi alkohol dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, dan kemampuan seseorang mengelola stres. Dalam jangka panjang, kebiasaan minum berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, serta gangguan penggunaan alkohol.
Sebagian orang mulai minum untuk menghilangkan stres atau melupakan masalah. Namun, efek alkohol hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan penyebab masalah tersebut. Ketika efeknya menghilang, seseorang justru dapat mengalami gangguan tidur, kecemasan yang memburuk, atau dorongan untuk minum kembali.
Jika seseorang sudah sulit menghentikan kebiasaan minum meskipun mengalami dampak negatif, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Ketergantungan alkohol merupakan masalah kesehatan yang bisa ditangani dengan bantuan tenaga profesional. Dukungan keluarga, konseling, dan perawatan medis dapat membantu seseorang menjalani pemulihan.
Apakah Berhenti Mabuk-Mabukan Saat Dewasa Bisa Memperbaiki Kesehatan?
Kabar baiknya, berhenti mengonsumsi alkohol tetap bermanfaat meskipun seseorang sudah bertahun-tahun memiliki kebiasaan mabuk-mabukan. Penghentian konsumsi dapat membantu mengurangi paparan zat berbahaya dan memperbaiki sejumlah faktor risiko kesehatan. Pada sebagian orang, perlemakan hati dapat membaik setelah berhenti minum, meskipun kerusakan berat seperti sirosis tidak selalu dapat dipulihkan sepenuhnya.
Langkah pertama adalah memeriksakan diri jika memiliki riwayat konsumsi alkohol berlebihan, terutama apabila muncul keluhan seperti nyeri perut, kulit menguning, mudah lelah, jantung berdebar, atau gangguan daya ingat. Dokter dapat menilai kondisi kesehatan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta tes laboratorium atau pemeriksaan lain jika diperlukan. Pemeriksaan penting dilakukan karena beberapa penyakit terkait alkohol dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.
Perlu diperhatikan pula bahwa orang yang telah mengalami ketergantungan alkohol berat tidak selalu aman jika langsung berhenti tanpa pengawasan. Putus alkohol dapat menyebabkan gemetar, berkeringat, muntah, kejang, bahkan delirium yang mengancam nyawa. Jika sudah minum berat setiap hari atau mengalami gejala ketika tidak minum, mintalah bantuan tenaga medis untuk merencanakan penghentian secara aman.
BACA JUGA: Setelah Ada Medsos, Tubuh Orang-orang Ternyata Mudah Sakit?
Kebiasaan mabuk-mabukan sejak muda dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit ketika usia bertambah, mulai dari perlemakan hati, sirosis, penyakit jantung, pankreatitis, kanker, gangguan otak, hingga diabetes. Risiko tersebut dipengaruhi oleh jumlah alkohol yang dikonsumsi, frekuensi minum, lamanya kebiasaan berlangsung, dan kondisi kesehatan masing-masing orang. Tidak semua orang akan mengalami penyakit yang sama, tetapi tidak adanya gejala saat muda bukan berarti tubuh terbebas dari dampak alkohol.
Karena itu, jangan menunggu sampai memasuki usia 40 atau 50 tahun untuk mulai menjaga kesehatan. Menghindari alkohol, memperbaiki pola makan, rutin beraktivitas fisik, dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan merupakan langkah yang bermanfaat. Jika sudah mengalami ketergantungan, mencari bantuan medis merupakan keputusan yang tepat, bukan sesuatu yang perlu dipermalukan.
Pada akhirnya, masa muda memang tidak bisa diulang, tetapi kebiasaan hari ini masih bisa diubah untuk melindungi kesehatan di masa depan. Semakin cepat seseorang menghentikan kebiasaan mabuk-mabukan, semakin cepat pula ia dapat mengurangi paparan alkohol yang merugikan tubuh. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

