ADA dua orang dengan kebiasaan hidup yang berbeda. Orang pertama merokok setiap hari, tetapi rajin berolahraga, seperti berlari, bersepeda, atau pergi ke pusat kebugaran. Sementara itu, orang kedua sama sekali tidak merokok, tetapi jarang bergerak, lebih suka duduk berjam-jam, dan tidak pernah meluangkan waktu untuk berolahraga. Jika keduanya dibandingkan, siapakah yang lebih sehat dan memiliki risiko penyakit lebih rendah?
Pertanyaan ini menarik karena sebagian orang menganggap olahraga bisa mengimbangi kebiasaan buruk, termasuk merokok. Ada pula yang beranggapan bahwa tidak merokok sudah cukup untuk menjaga kesehatan meskipun jarang melakukan aktivitas fisik. Padahal, merokok dan kurang bergerak sama-sama dapat berdampak buruk bagi tubuh, tetapi melalui mekanisme yang berbeda. Untuk memahami mana yang lebih baik, kita perlu melihat pengaruh kedua kebiasaan tersebut terhadap kesehatan.
BACA JUGA: Benarkah Urat Bisa Mengkerut Jika Kaki Tidak Diluruskan Setelah Olahraga?
1. Perokok yang rajin olahraga tetap memiliki risiko penyakit
Orang yang rajin berolahraga memang dapat memperoleh berbagai manfaat kesehatan. Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran jantung dan paru-paru, mengontrol berat badan, memperbaiki kualitas tidur, serta menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis. Namun, manfaat tersebut tidak berarti tubuh menjadi kebal terhadap dampak buruk rokok.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), merokok meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke sekitar dua hingga empat kali lipat dibandingkan tidak merokok. Bahkan, orang yang merokok kurang dari lima batang sehari pun dapat menunjukkan tanda awal gangguan kardiovaskular.
Artinya, seseorang yang rajin berolahraga tetapi tetap merokok masih menghadapi risiko kesehatan yang seharusnya bisa dikurangi dengan berhenti merokok. Olahraga dapat membantu meningkatkan kebugaran, tetapi tidak menghilangkan paparan zat berbahaya dari asap rokok. Karena itu, jangan menjadikan kebugaran tubuh sebagai alasan untuk merasa aman meskipun terus merokok setiap hari.
2. Bukan perokok yang jarang olahraga juga menghadapi risiko kesehatan
Sekarang, bagaimana dengan orang yang tidak merokok tetapi tidak suka olahraga? Orang seperti ini memiliki keuntungan karena tidak terpapar langsung oleh zat berbahaya dari rokok yang dihisapnya sendiri. Namun, jika ia jarang bergerak, terlalu banyak duduk, dan tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup, kesehatannya tetap dapat terganggu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa aktivitas fisik secara teratur membantu menurunkan risiko penyakit jantung, hipertensi, stroke, diabetes tipe 2, serta sejumlah jenis kanker. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan sedentari berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan.
Sebagai contoh, seseorang yang bekerja di depan komputer sepanjang hari, pulang ke rumah lalu duduk menonton televisi hingga malam, mungkin tidak menyadari bahwa tubuhnya kekurangan gerak. Dalam jangka panjang, pola hidup seperti ini dapat memengaruhi kebugaran, berat badan, kesehatan metabolik, dan kemampuan tubuh menjalankan aktivitas sehari-hari. Jadi, tidak merokok merupakan langkah yang baik, tetapi tetap perlu disertai kebiasaan aktif bergerak.
3. Jadi, siapa yang lebih sehat di antara keduanya?
Jika harus membandingkan perokok yang rajin berolahraga dengan bukan perokok yang jarang berolahraga, kita tidak bisa menentukan kondisi kesehatan setiap individu hanya berdasarkan dua kebiasaan tersebut. Hasilnya juga dipengaruhi oleh usia, jumlah rokok yang dikonsumsi, lama merokok, intensitas olahraga, pola makan, kualitas tidur, riwayat keluarga, dan kondisi medis yang sudah dimiliki.
Namun, dari sisi pencegahan penyakit, tidak merokok merupakan keuntungan kesehatan yang penting. Olahraga juga memberikan manfaat yang besar, sehingga orang yang tidak merokok tetapi kurang aktif tetap perlu memperbaiki kebiasaannya. Sebaliknya, perokok yang rajin berolahraga akan memperoleh manfaat lebih besar jika ia juga berhenti merokok.
Dengan kata lain, kita tidak perlu memilih salah satu kebiasaan baik sambil membiarkan kebiasaan buruk tetap berlangsung. Tujuan yang paling masuk akal adalah menjadi orang yang tidak merokok sekaligus aktif bergerak. Kombinasi inilah yang membantu mengurangi berbagai risiko kesehatan dibandingkan mempertahankan salah satu kebiasaan yang merugikan.
4. Apakah olahraga bisa membersihkan paru-paru dari racun rokok?
Sebagian perokok merasa bahwa paru-parunya akan tetap sehat karena rutin berlari atau melakukan latihan fisik. Ada pula yang beranggapan bahwa banyak berkeringat setelah olahraga dapat mengeluarkan racun rokok dari tubuh. Anggapan tersebut perlu diluruskan karena olahraga bukanlah metode untuk menghilangkan seluruh dampak paparan rokok.
Olahraga membantu meningkatkan kebugaran dan kemampuan tubuh menggunakan oksigen, tetapi tidak menetralkan semua zat berbahaya yang masuk melalui asap rokok. Merokok dapat merusak jaringan paru-paru, mengganggu fungsi pembuluh darah, dan meningkatkan risiko berbagai penyakit. Seseorang mungkin masih mampu berlari cukup jauh, tetapi kemampuan tersebut tidak menjamin bahwa paru-paru dan pembuluh darahnya bebas dari kerusakan.
Karena itu, jika seorang perokok ingin memperbaiki kesehatannya, langkah yang paling penting adalah berhenti merokok, bukan sekadar menambah intensitas olahraga. Jika sudah mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kemampuan beraktivitas, sebaiknya ia berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
5. Berapa banyak olahraga yang dibutuhkan agar tubuh lebih sehat?
Bagi orang dewasa, WHO merekomendasikan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, atau kombinasi keduanya. Orang dewasa juga dianjurkan melakukan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.
Contoh aktivitas intensitas sedang adalah berjalan cepat, bersepeda santai dengan kecepatan yang meningkatkan denyut jantung, atau berenang dengan intensitas yang sesuai kemampuan. Bagi orang yang selama ini jarang berolahraga, tidak perlu langsung melakukan latihan berat. Mulailah dengan berjalan kaki selama 10–15 menit, kemudian tingkatkan durasi dan frekuensinya secara bertahap.
Selain olahraga terjadwal, kebiasaan sehari-hari juga berpengaruh. Berjalan kaki untuk jarak dekat, menggunakan tangga jika memungkinkan, melakukan pekerjaan rumah, dan sesekali berdiri ketika bekerja dapat membantu mengurangi waktu duduk yang terlalu lama. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan bergerak secara konsisten, bukan berolahraga keras sesekali lalu kembali tidak aktif sepanjang hari.
6. Jika perokok ingin lebih sehat, apa yang harus dilakukan?
Bagi orang yang merokok tetapi sudah rajin olahraga, jangan menganggap semua usaha menjaga kesehatan menjadi sia-sia. Kebiasaan berolahraga tetap bermanfaat, tetapi berhenti merokok merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, penyakit paru-paru, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Berhenti merokok juga dapat memberikan manfaat pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung.
Jika sulit berhenti sekaligus, mulailah dengan membuat rencana yang jelas dan mencari bantuan tenaga kesehatan. Konseling dan dukungan profesional dapat membantu seseorang menghadapi ketergantungan nikotin serta mengelola dorongan untuk kembali merokok. Tidak perlu menunggu munculnya penyakit terlebih dahulu untuk mengambil keputusan tersebut.
Sementara itu, bagi orang yang tidak merokok tetapi jarang berolahraga, mulailah membangun kebiasaan aktif sesuai kemampuan. Tidak perlu langsung mendaftar ke pusat kebugaran atau membeli peralatan mahal. Jalan kaki secara teratur, bersepeda, berenang, atau melakukan latihan sederhana di rumah dapat menjadi awal yang baik untuk memperbaiki kebugaran.
Mana yang lebih baik, perokok yang rajin olahraga atau bukan perokok yang tidak suka olahraga? Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan dari sisi kesehatan, sehingga tidak tepat menentukan kondisi setiap orang hanya berdasarkan dua kebiasaan tersebut. Namun, tidak merokok memberikan keuntungan penting karena menghindarkan seseorang dari paparan langsung berbagai zat berbahaya dalam asap rokok, sedangkan olahraga membantu menjaga kebugaran dan mengurangi risiko sejumlah penyakit.
BACA JUGA: Bolehkah Muslimah Pakai Baju Ketat Saat Olahraga di Tempat Umum?
Perokok yang rajin olahraga tetap menghadapi risiko akibat rokok, sementara orang yang tidak merokok tetapi jarang bergerak juga perlu memperbaiki pola hidupnya. Jangan sampai seseorang merasa aman merokok karena rajin berolahraga, dan jangan pula menganggap tidak merokok sudah cukup untuk menjamin tubuh tetap sehat.
Pilihan terbaik adalah tidak merokok, rutin berolahraga, menjaga pola makan, tidur cukup, dan memeriksakan kesehatan sesuai kebutuhan. Jika saat ini Anda masih merokok, jadikan olahraga sebagai salah satu kebiasaan baik yang dipertahankan sambil berusaha berhenti. Jika Anda tidak merokok tetapi jarang bergerak, mulailah berjalan kaki hari ini. Sebab, kesehatan tidak dibangun oleh satu kebiasaan saja, melainkan oleh berbagai pilihan baik yang dilakukan secara konsisten. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

