KHALIFAH terakhir secara historis adalah Abdulmejid II (1922–1924). Ia adalah khalifah terakhir dari Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman Empire), yang secara resmi dibubarkan oleh Mustafa Kemal Atatürk pada 3 Maret 1924.
Dalam lembaran sejarah Islam yang panjang dan penuh dinamika, nama Abdulmejid II terukir sebagai sosok yang menandai akhir dari sebuah era. Ia bukan hanya seorang khalifah terakhir yang memimpin simbolis di tengah badai perubahan politik dan budaya, tetapi juga saksi bisu tumbangnya lembaga Kekhilafahan Utsmani yang telah berdiri kokoh selama lebih dari enam abad.
Abdulmejid II lahir pada tahun 1868 di Istanbul, kota yang dahulu menjadi jantung peradaban Islam dan pusat pemerintahan Utsmani. Kehidupannya berada di antara dua dunia: tradisi dan modernitas. Pada masa itu, dunia Muslim menghadapi tekanan dari dalam dan luar—perpecahan internal, serangan pemikiran Barat, serta munculnya nasionalisme yang menggugat otoritas pusat khilafah. Abdulmejid II pun diangkat menjadi khalifah pada tahun 1922, setelah runtuhnya sistem kesultanan yang digantikan oleh Republik Turki.
Meski tak memiliki kuasa politik sejati, Abdulmejid II tetap berusaha menjalankan peran spiritualnya sebagai pemimpin umat Muslim. Namun sejarah bergerak cepat; pada 3 Maret 1924, parlemen Turki secara resmi menghapus lembaga khilafah dan mengasingkan sang khalifah beserta keluarganya. Peristiwa ini menjadi pukulan besar bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, menandai berakhirnya simbol kesatuan politik Islam yang diwariskan sejak masa Rasulullah ﷺ dan para khulafaur rasyidin.
Kisah Abdulmejid II bukan sekadar catatan sejarah tentang kejatuhan seorang khalifah. Ia juga menjadi cermin bagi umat Islam hari ini: bagaimana kejayaan bisa meredup bila umat terpecah dan nilai-nilai Islam tergeser oleh arus perubahan zaman. Dari narasi inilah, kita diajak untuk merenungkan makna persatuan, kepemimpinan, dan identitas Islam yang pernah menjadi cahaya bagi dunia.

Walaupun tidak memiliki kekuasaan politik karena sistem kekhalifahan waktu itu sudah simbolis, Abdulmejid II menandai berakhirnya era kekhalifahan Islam yang sudah berlangsung selama lebih dari 1300 tahun sejak masa Abu Bakar ash-Shiddiq.
🕌 Posisi dan Peran
Menjabat sebagai Khalifah dari 19 November 1922 hingga 3 Maret 1924.
Setelah Sultan Mehmed VI (sepupunya) dilengserkan dan diasingkan, kesultanan dihapus oleh Majelis Nasional Turki yang dipimpin Mustafa Kemal Atatürk.
Namun untuk sementara, jabatan khalifah tetap dipertahankan sebagai simbol spiritual umat Islam, dan Abdulmejid II diangkat menjadi khalifah.
🏛️ Penghapusan Kekhalifahan
Pada tahun 1924, Mustafa Kemal menghapus institusi kekhalifahan sebagai bagian dari sekularisasi dan reformasi Turki modern.
Abdulmejid II kemudian diasingkan ke luar negeri, dan tinggal di beberapa tempat seperti Swiss dan Prancis, khususnya di kota Nice.
🎨 Kehidupan Pribadi
Abdulmejid II bukan hanya tercatat dalam sejarah sebagai khalifah terakhir Kekhalifahan Utsmaniyah, tetapi juga sebagai seorang seniman berbakat yang karyanya diakui hingga mancanegara. Lahir di Istanbul pada tahun 1868, Abdulmejid tumbuh di lingkungan istana yang sarat dengan kebudayaan dan seni. Sejak muda, ia memperlihatkan minat mendalam pada seni lukis. Karyanya sering menggambarkan kehalusan rasa dan keindahan yang mencerminkan perpaduan gaya Timur dan Barat.
BACA JUGA: Mengapa Panglima Diponegoro Sulit Ditaklukkan Belanda?
Setelah dihapuskannya kekhalifahan oleh Mustafa Kemal Atatürk pada tahun 1924, Abdulmejid II menjalani sisa hidupnya di pengasingan, jauh dari pusat kekuasaan politik yang dulu pernah dipimpinnya. Ia menetap di Prancis bersama keluarganya, di mana ia terus melukis sebagai pelarian dari kesunyian dan rindu kampung halaman.
Meskipun kehilangan tahta dan gelarnya, Abdulmejid II menemukan kebebasan dalam seni. Lukisan-lukisannya menjadi saksi bisu pergulatan batin seorang khalifah yang berubah menjadi seniman. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1944, ia tetap mengukir sejarah bukan dengan pedang, melainkan dengan kuas dan kanvas—meninggalkan warisan artistik yang terus dikenang hingga kini.
📜 Warisan
Abdulmejid II sering dipandang sebagai simbol akhir dari era kekhalifahan Islam tradisional.
Penghapusan kekhalifahan oleh Turki pada 1924 menjadi momen besar dalam sejarah dunia Islam, yang hingga kini masih dibahas dalam konteks politik dan spiritual umat Islam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


