DI meja makan, suara sendok dan garpu saling beradu, tapi bukan itu yang membuat seseorang merasa tak nyaman. “Kamu udah kerja di mana sekarang?” Pertanyaan itu meluncur seperti peluru karet. Tak mematikan, tapi sakit. Ia menyengat ruang-ruang harga diri yang sedang kering.
Banyak anak muda hari ini, terutama lulusan perguruan tinggi, dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak pernah dijanjikan oleh bangku kuliah: kenyataan bahwa gelar akademik tak serta-merta berbanding lurus dengan pekerjaan. Ijazah S1, bahkan S2, yang dulu dibanggakan orang tua, sekarang hanya tersimpan rapi di map plastik, menguning, dan lebih sering jadi pengingat bahwa waktu terus berjalan, tapi hidup seperti tertinggal di halte terakhir.
Statistik yang Tak Mewakili Air Mata
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran lulusan universitas masih tinggi. Tapi angka-angka itu tidak pernah benar-benar bisa mewakili rasa malu seseorang saat datang ke reuni keluarga dengan tangan kosong—tanpa kartu nama, tanpa jabatan, tanpa status sosial baru.
BACA JUGA: Jejak Perjuangan Jenderal Sudirman, Panglima Besar Republik Indonesia
Gelar akademik yang seharusnya menjadi tiket untuk hidup yang lebih baik justru menjadi beban yang tak terlihat. Ia bukan lagi simbol prestasi, tapi seperti kertas hutang tak kasatmata. “Kamu lulusan mana?” bukan lagi basa-basi, tapi semacam interogasi sosial.
Salah Sistem atau Salah Pilih?
Banyak yang menyalahkan sistem pendidikan, karena memang realita lapangan kerja seringkali tidak sinkron dengan kurikulum yang diajarkan di kelas. Tapi menyalahkan sistem juga bukan jalan keluar.
Ada juga yang mulai menyalahkan diri sendiri. Kenapa dulu tidak ambil jurusan yang “menghasilkan”? Kenapa tidak sekalian belajar skill praktis seperti desain grafis, digital marketing, atau coding?
Namun, menyalahkan diri sendiri terus-menerus hanya akan membenamkan seseorang dalam lubang krisis eksistensial. Dan ini berbahaya. Sebab dari titik itulah muncul perasaan gagal, minder, kehilangan kepercayaan diri, bahkan depresi yang diam-diam datang mengendap.
Stigma Sosial yang Diam-diam Menghukum
Masyarakat kita belum terlalu siap menerima kenyataan bahwa pekerjaan tidak selalu datang bersamaan dengan ijazah. Ada semacam konstruksi sosial yang seolah-olah mewajibkan setiap sarjana untuk langsung sukses, mapan, dan punya cerita hidup yang layak dibanggakan di Instagram.
Padahal, banyak sarjana hari ini yang justru bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusannya. Ada yang lulusan komunikasi tapi kerja sebagai barista. Ada yang S1 pertanian, tapi lebih laku jadi admin sosial media. Apakah ini salah? Tidak. Tapi masyarakat seringkali tidak cukup fleksibel untuk memahami bahwa dunia berubah.
Pekerjaan hari ini bukan hanya soal profesi, tapi juga soal adaptasi.
Hijrah Jalan Sunyi: Dari Penyesalan Menuju Kesadaran
Banyak dari mereka yang akhirnya berbelok. Bukan karena menyerah, tapi karena menyadari bahwa jalan hidup bukan hanya lurus satu arah. Ada yang memilih pulang ke desa dan membangun usaha kecil-kecilan. Ada yang mencoba hijrah spiritual, memperdalam ilmu agama, dan mulai merintis jalan dakwah digital. Ada juga yang memilih diam, sembari mencari arah baru.
Hijrah, dalam konteks ini, bukan hanya soal berpindah tempat atau keyakinan. Tapi berpindah cara pandang. Bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh status pekerjaan. Bahwa Allah tidak menilai manusia dari titel, tapi dari ikhtiar dan kesabarannya.
Bekerja Tak Sama Dengan Bernilai
Islam mengajarkan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, selama dilakukan dengan niat yang lurus dan cara yang halal. Tapi Islam juga mengajarkan bahwa nilai hidup tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan yang menghasilkan uang.
Ada banyak orang yang tak terlihat sibuk tapi sejatinya sedang mengabdi. Merawat orang tua, mengasuh adik-adik, menjadi relawan sosial, atau membangun komunitas belajar secara sukarela. Mereka mungkin tak punya gaji tetap, tapi punya nilai yang tetap tinggi di sisi Allah.
Menanam Lagi Mimpi-Mimpi yang Gugur
Menjadi sarjana yang menganggur bukan akhir dari segalanya. Ini hanya fase, titik koma dari sebuah perjalanan yang lebih panjang. Mungkin gelar kita belum menghasilkan pekerjaan sekarang, tapi ia pernah menjadi bukti bahwa kita bisa menyelesaikan sesuatu.
Daripada terus meratapi ijazah yang tak terpakai, mungkin sekarang waktunya membangun kompetensi baru. Belajar dari nol lagi. Mulai dari kursus daring, ikut pelatihan, magang, bahkan rela bekerja di tempat yang mungkin dulu kita anggap tidak sekelas.
BACA JUGA: Bung Karno, Pemimpin Besar dengan Kehidupan yang Bersahaja
Karena hidup tidak pernah benar-benar adil bagi siapa pun. Tapi ia selalu memberi peluang bagi mereka yang terus berjalan.
Ketika Allah Menunda, Bukan Berarti Menolak
Kadang yang kita anggap penundaan, sebenarnya adalah bentuk perlindungan dari Allah. Boleh jadi pekerjaan itu belum datang karena ada pintu rezeki lain yang sedang disiapkan. Atau barangkali, Allah sedang ingin kita belajar sabar. Belajar ikhlas. Belajar meletakkan harga diri bukan pada gaji, tapi pada ketekunan dan doa yang tak pernah putus.
Jadi jika kamu hari ini masih menganggur, jangan panik. Jangan minder. Jangan merasa sendirian. Mungkin gelar itu belum melahirkan pekerjaan, tapi ia pernah menjadi lambang perjuangan. Dan itu, sudah cukup berharga untuk membuatmu terus melangkah.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
