SEBAGIAN orang menjadikan healing sebagai bentuk self-reward, sebagai pembenaran atas kelelahan yang terus ditumpuk dari Senin sampai Jumat. Masalahnya, reward yang tidak disesuaikan dengan kemampuan sering berakhir pada penyesalan. Alih-alih merasa dihargai, kita malah jadi korban impulsif. Padahal, kadang reward terbaik itu sesederhana tidur siang atau menikmati teh hangat sambil menonton hujan dari jendela.
Apakah kamu juga pernah mengalaminya?
Fenomena Healing Zaman Now
Di era serba cepat dan penuh tekanan, istilah healing seolah menjadi kebutuhan. Tapi definisi healing hari ini sudah bergeser. Yang awalnya bertujuan menenangkan hati dan pikiran, kini malah jadi ajang pelarian yang instan, penuh distraksi, dan tak jarang penuh jebakan foya-foya.
Dari staycation mewah, wisata kuliner ke tempat viral, nonton konser, hingga traveling dadakan—semuanya dibungkus dengan label “healing”. Padahal, bukan tempatnya yang menentukan ketenangan batin, tapi isi kepala dan hati kita saat menjalaninya.
BACA JUGA: Kepada Para Pejuang 2 Juta Rupiah
Kenapa Pulang Malah Tambah Pusing?
1. Healing yang Ngegas, Bukan Ngecharge
Banyak orang salah kaprah: healing itu harus jauh, mahal, dan penuh agenda. Akhirnya yang terjadi justru kelelahan fisik dan mental. Alih-alih memulihkan, malah menguras tenaga.
2. Ekspektasi Terlalu Tinggi
Seringkali kita membandingkan healing kita dengan orang lain. Teman ke Bali, kita ke taman kota. Teman staycation di hotel bintang lima, kita staycation di kamar sendiri sambil nonton YouTube. Akhirnya, kita merasa kurang, merasa gagal. Padahal, esensi healing adalah menemukan kenyamanan versi diri sendiri, bukan versi orang lain.
Kita datang ke suatu tempat dengan harapan bisa “lupa masalah”. Tapi nyatanya, masalah tidak ikut liburan. Ia tetap menunggu di rumah. Saat momen healing tak seindah di sosial media, kita justru makin kecewa.
3. Healing Demi Konten
Lucunya, ada yang justru lebih sibuk ambil foto daripada menikmati momen. Gagal upload story, bisa jadi mood booster-nya rusak. Padahal, ketenangan tidak bisa selalu dibuktikan lewat filter atau feed yang estetik. Kadang, yang tidak terabadikan kamera justru lebih berkesan di hati.
Nggak bisa dipungkiri, healing zaman sekarang seringkali didorong oleh keinginan memposting. Pose yang harus sempurna, spot yang Instagramable, semua demi validasi. Ujung-ujungnya? Healing bukan buat hati, tapi buat konten.
4. Budget Melebihi Batas
Pulang healing malah dikejar tagihan. Ada yang rela gesek kartu, pinjam dana, atau nguras tabungan demi liburan. Lupa bahwa setelah healing, hidup tetap berjalan dan kebutuhan tetap ada.
Lalu, Healing yang Sehat Itu Seperti Apa?
Healing yang sehat tidak harus mewah. Bahkan tidak harus pergi jauh. Bisa saja dilakukan dalam bentuk: Berdiam diri di rumah sambil merapikan kamar dan hati
Makan enak bersama keluarga
Nonton kajian singkat atau membaca buku yang menenangkan
Curhat pada Allah lewat sujud panjang di sepertiga malam
Healing yang sesungguhnya bukan tentang pergi dari tempat yang bikin stres, tapi tentang pulang ke dalam diri sendiri. Mengizinkan hati untuk istirahat sejenak dari dunia yang riuh.
Islam mengajarkan bahwa ketenangan hakiki tidak datang dari luar, melainkan dari hubungan yang kuat dengan Allah.
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
BACA JUGA: Lari dari Masalah, Nyungsep di Jalan yang Sama?
Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata:
“Di dalam hati manusia ada kegelisahan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan mendekat kepada Allah.”
Kita boleh liburan, boleh refreshing, boleh jalan-jalan. Tapi jangan lupa, hati butuh asupan ruhani lebih dari sekadar pemandangan indah. Butuh istighfar lebih dari sekadar es kopi susu. Butuh dzikir lebih dari sekadar playlist favorit.
Mau Healing yang Benar?
Jika selama ini healing malah bikin tambah stres, mungkin bukan aktivitasnya yang salah, tapi niat dan caranya. Liburan boleh, tapi jangan sampai lupa bahwa hati butuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ganti suasana.
Cobalah merenung:
Sudahkah kita melibatkan Allah dalam setiap momen mencari ketenangan? Sudahkah kita beri waktu untuk hati kita mendekat, bukan hanya berjalan menjauh?
Karena terkadang, healing terbaik… justru bukan dengan pergi, tapi dengan sujud yang lebih lama. []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
