KETIKA kita menyebut kata thaharah, yang terlintas bukan sekadar bersih dalam arti kasat mata. Thaharah dalam tradisi Islam adalah jembatan antara jasmani dan ruhani, antara kebersihan tubuh dan kesucian hati. Para ulama klasik mendefinisikannya sebagai raf‘ul hadats wa izālatun-najāsah — menghilangkan hadats dan membersihkan najis. Ulama kontemporer memperluasnya, menekankan dimensi spiritual: thaharah adalah kesiapan diri untuk berdiri di hadapan Allah dengan keadaan yang layak, bersih dari kotoran lahiriah sekaligus bening dari noda batiniah.
Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222). Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Kebersihan adalah separuh dari iman.” (HR. Muslim). Maka, memahami thaharah adalah memahami jalan menuju cahaya iman.
BACA JUGA: Mengapa Makan Daging Unta Membatalkan Wudhu?
Lalu bagaimana lima prinsip dasar itu dijalani?
Pertama, memahami kategori air, debu, dan tanah yang bisa mensucikan. Air adalah simbol kehidupan, sebagaimana firman Allah, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30). Debu dan tanah menjadi rahmat, sebab ketika air tak ada, tayammum tetap menjaga ikatan kita dengan Allah.
Kedua, memahami kategori najis dan macamnya.
Ada najis ringan, ada pula berat, semuanya butuh kesadaran. Najis bukan sekadar kotoran fisik, ia adalah tanda bahwa tubuh manusia memang fana, rapuh, penuh keluaran alami yang mengingatkan kita akan keterbatasan.
Ketiga, memahami cara membersihkan najis.
Ada najis yang cukup dibasuh sekali, ada yang harus tujuh kali dengan tanah. Inilah disiplin spiritual: bukan sekadar prosedur, tetapi latihan kesungguhan menjaga diri.
Keempat, menimbang apakah najis itu berimplikasi pada hadats.
Tidak semua najis menciptakan hadats. Darah kecil yang keluar, misalnya, najis tapi tidak otomatis membatalkan wudhu. Hadats adalah kondisi hukum, bukan sekadar kotoran lahiriah.
BACA JUGA: Apakah Orang yang Bertaubat Harus Mandi Wajib?
Kelima, memahami cara menghilangkan hadats.
Wudhu, tayammum, mandi junub—semuanya adalah ritual kesucian yang sekaligus menata jiwa. Setiap usapan air di wajah, tangan, dan kaki bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sapuan cahaya yang menghapus gelap dari hati.
Thaharah ada yang cukup dengan membersihkan najisnya saja. Namun ada juga yang harus membersihkan najis dan menghilangkan hadast secara bersamaan. Inilah prinsip dasar memahami luas dan detailnya fiqh thaharah.
Akhirnya, thaharah adalah perjalanan. Dari air ke debu, dari najis ke hadats, dari tubuh ke hati. Ia bukan sekadar fiqh, tapi juga zikir—mengajarkan bahwa untuk mendekat kepada Allah, kita perlu menyucikan diri, lahir dan batin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

