SEJARAH Islam telah mencatat, betapa besar jasa para ulama dalam menjaga, mengajarkan, dan menyebarkan ilmu agama. Dari generasi sahabat, tabi’in, hingga para imam besar, mereka semua menjadi tonggak yang menjaga kemurnian ajaran Islam dari penyimpangan. Akan tetapi, pernahkah kita merenung: berapa banyak ulama yang benar-benar memperjuangkan Islam dengan tulus dan gigih, namun kini telah tiada? Siapa yang akan menggantikan peran mereka di masa-masa mendatang?
Inilah salah satu tanda akhir zaman yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ: semakin sedikitnya ulama, semakin langkanya ilmu yang bermanfaat, dan semakin meluasnya kebodohan. Fenomena ini bukan sekadar teori, melainkan sudah kita saksikan sedikit demi sedikit pada masa kini.
Ulama sebagai Pewaris Nabi
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641, At-Tirmidzi no. 2682, dinyatakan hasan shahih)
Hadits ini menegaskan bahwa keberadaan ulama adalah penjaga agama. Selama mereka masih ada, ilmu akan tetap hidup. Namun, ketika ulama semakin sedikit dan tidak ada pengganti yang sepadan, maka cahaya ilmu akan redup.
Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata: “Apabila menyebut keutamaan, maka ulama lebih utama daripada orang-orang yang beribadah. Karena ulama menjaga agama, sedangkan ahli ibadah hanya menjaga dirinya sendiri.”
Perkataan ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan ulama dalam menjaga agama Allah agar tidak hilang dari tengah umat.
Hilangnya Ilmu Menjelang Kiamat
Rasulullah ﷺ telah menggambarkan dengan jelas bahwa salah satu tanda kiamat adalah hilangnya ilmu agama. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr, beliau bersabda: “Menjelang kiamat akan ada masa-masa di mana ilmu dicabut, lalu kebodohan merajalela, dan banyak terjadi kerusuhan. Adapun kerusuhan itu adalah pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 4045, shahih menurut Al-Albani)
Yang dimaksud hilangnya ilmu bukanlah Al-Qur’an atau kitab-kitab hadits tiba-tiba lenyap secara fisik, melainkan wafatnya para ulama yang memahami dan mengajarkannya. Kitab-kitab bisa saja tetap ada, namun tanpa ulama yang menjelaskan makna, tafsir, dan syarahnya, maka umat akan tersesat dalam kebodohan.
Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Ilmu itu hilang bukan karena dihapus dari dada manusia sekaligus, tetapi karena wafatnya para ulama. Apabila sudah tidak ada ulama, maka manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya sesat dan menyesatkan.”
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga apabila sudah tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100, Muslim no. 2673)
Al-Qur’an Akan Dihilangkan dari Dada Manusia
Selain wafatnya ulama, akan datang masa di mana Al-Qur’an benar-benar diangkat dari hati manusia. Mushaf mungkin masih ada, tetapi huruf-hurufnya tidak lagi tertulis. Imam Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akan ditarik (dihilangkan) Al-Qur’an pada malam hari, sehingga tidak tersisa satu ayat pun dalam mushaf, dan tidak ada yang hafal sedikit pun dalam hati manusia.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya, no. 3389, sanadnya shahih)
Hal ini menunjukkan betapa parahnya keadaan manusia menjelang akhir zaman. Mereka akan kehilangan petunjuk, dan yang tersisa hanyalah ucapan tauhid yang sekadar menjadi pengingat terakhir.
Manusia Hanya Mengucapkan “La ilaha illallah”
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa, Al-Qur’an diangkat dalam satu malam, sehingga tidak tersisa satu ayat pun. Kemudian akan tersisa sekelompok orang tua, laki-laki dan perempuan, yang hanya berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengucapkan La ilaha illallah, maka kami pun mengucapkannya.’” (HR. Ibnu Majah no. 4049, dishahihkan Al-Albani)
Kalimat tauhid itu masih memberi manfaat bagi mereka, meskipun tanpa amal lain. Sebagian ulama menafsirkan bahwa ucapan itu cukup untuk menyelamatkan mereka dari kekekalan di neraka, karena kewajiban syariat telah terangkat dari mereka akibat hilangnya ilmu.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan: “Kalimat tauhid adalah kunci surga. Ia akan tetap bermanfaat selama tidak terhalangi oleh penghalang-penghalangnya berupa syirik, nifak, dan kebatilan.” (Madarijus Salikin, 1/343)
Kebodohan yang Diturunkan Allah
Ketika ilmu dicabut, yang tersisa hanyalah kebodohan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Di antara tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, tegaknya kebodohan, banyaknya perzinaan, dan diminumnya khamar.” (HR. Al-Bukhari no. 80, Muslim no. 2671)
Artinya, kebodohan itu bukan sekadar kurangnya pengetahuan, tetapi benar-benar menjadi sifat yang Allah tanamkan pada hati manusia. Mereka tidak lagi peduli pada kebenaran, bahkan merasa bangga dengan kebodohan dan kemaksiatan.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Apabila engkau melihat manusia lebih condong kepada kebodohan daripada ilmu, maka ketahuilah itu adalah tanda Allah telah berpaling dari mereka.”
Kiamat Hanya Terjadi pada Manusia Paling Buruk
Akhir dari semua ini adalah kehancuran dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat hingga tidak ada lagi seorang pun yang menyebut nama Allah.” (HR. Muslim no. 148)
Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi kecuali atas manusia-manusia yang paling buruk.” (HR. Muslim no. 1934)
Artinya, orang-orang beriman, yang masih menyebut nama Allah, akan diwafatkan terlebih dahulu. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia jahat, yang tidak mengenal Allah sedikit pun.
BACA JUGA: Inilah Gunung Emas di Akhir Zaman yang Pernah Dikabarkan Rasulullah ﷺ
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan: “Makna hadits ini adalah bahwa orang-orang beriman akan diwafatkan menjelang kiamat, sehingga yang tersisa hanyalah manusia-manusia kafir, fasik, dan jahat. Maka terjadilah kiamat di atas mereka.”
Pelajaran untuk Kita Hari Ini
Fenomena akhir zaman yang digambarkan Rasulullah ﷺ bukan untuk sekadar ditakuti, tetapi untuk menjadi pelajaran bagi kita. Selama ilmu masih ada, selama masih ada ulama yang ikhlas, maka kita harus bersegera menuntut ilmu dan mengamalkannya.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Carilah ilmu sebelum ia dicabut, dan ia dicabut dengan wafatnya ulama. Demi Allah, orang yang duduk bersama ulama itu lebih utama daripada orang yang shalat seribu rakaat.”
Hari ini, kesempatan masih terbuka. Mushaf Al-Qur’an masih ada, para ulama masih mengajar, majelis ilmu masih berlangsung. Maka celakalah orang yang menyia-nyiakan kesempatan itu, sebab suatu saat akan datang masa di mana semua ini hilang.
Penutup
Akhir zaman adalah masa yang penuh fitnah: ilmu dicabut, kebodohan merajalela, dan manusia semakin jauh dari agama. Semua tanda-tanda ini sudah mulai terlihat pada masa kita. Oleh karena itu, kewajiban kita adalah menjaga diri dengan ilmu, mendekat kepada ulama yang lurus, serta menghidupkan sunnah Nabi ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga ilmu, mengamalkannya, dan wafat dalam keadaan membawa cahaya tauhid, sebelum datang masa di mana kalimat “La ilaha illallah” hanya tinggal kenangan. []
Referensi:
Shahih Al-Bukhari
Shahih Muslim
Sunan Abu Dawud
Sunan At-Tirmidzi
Sunan Ibnu Majah
Sunan Ad-Darimi
Ibnu Qayyim, Madarijus Salikin
Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
