PERNAHKAH kita merenung: mengapa bahasa Sanskerta, yang dahulu begitu agung, kini hanya tinggal dalam prasasti-prasasti batu? Dan mengapa justru bahasa Melayu, yang sederhana dan luwes, bertahan hingga hari ini sebagai akar bahasa Indonesia dan Malaysia?
Sejarah bahasa di Nusantara adalah kisah tentang naik-turunnya peradaban. Bahasa yang dulu diagungkan, bisa meredup. Bahasa yang dianggap “pasar,” justru naik menjadi bahasa dakwah, perlawanan, dan persatuan.
—
1. Sanskerta: Bahasa Agung yang Rumit
Pada masa Sriwijaya, abad ke-7 hingga 13 M, Sanskerta dipakai sebagai bahasa resmi keagamaan dan kerajaan. Ia hadir dalam prasasti-prasasti awal, misalnya Prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang menggunakan Sanskerta sepenuhnya. Bagi istana dan pendeta, Sanskerta adalah bahasa wibawa—bahasa para dewa, bahasa kitab suci Hindu dan Buddha.
Namun, di balik keagungannya, Sanskerta memiliki kerumitan yang luar biasa. Tata bahasanya sangat kompleks, dengan sistem infleksi yang rumit. Profesor Poerbatjaraka menyebut bahwa Sanskerta di Nusantara lebih banyak berhenti di kalangan elite; rakyat jelata tidak pernah benar-benar menguasainya.
Sejarawan bahasa menyimpulkan: Sanskerta gagal menjadi bahasa rakyat. Ia terlalu tinggi, terlalu eksklusif, dan sulit menjadi bahasa sehari-hari.
—
2. Mengapa Sanskerta Meredup?
Pertanyaannya: mengapa bahasa sebesar itu bisa hilang jejak di Nusantara?
Sejarawan Uka Tjandrasasmita menjelaskan, Sanskerta meredup karena tidak sanggup mengikuti arus kebutuhan masyarakat. Nusantara adalah simpul perdagangan dunia. Para pedagang dari Cina, India, Arab, dan Melayu berjumpa di pelabuhan-pelabuhan. Mereka butuh bahasa yang sederhana, fleksibel, dan mudah dipahami lintas etnis.
Sanskerta gagal menjadi lingua franca. Ia hanya bertahan di istana, di kitab, dan di upacara agama. Sementara rakyat lebih memilih bahasa yang praktis: bahasa Melayu.
—
3. Asal Usul Melayu: Bahasa yang Luwes dan Merakyat
Bahasa Melayu berasal dari rumpun Austronesia. Sejak awal, ia digunakan oleh para pelaut dan pedagang. Ciri khasnya adalah kesederhanaan: tata bahasa yang tidak serumit Sanskerta, struktur kalimat yang jelas, serta kosakata yang mudah diserap dari bahasa lain.
Sejarawan Anthony Reid menyebut Melayu sebagai “bahasa pasar” yang kemudian naik derajat menjadi “bahasa istana.” Sifatnya yang luwes membuatnya mampu menembus batas etnis. Orang Jawa, Bugis, Batak, Minang, dan Aceh bisa saling memahami lewat Melayu.
Inilah bedanya dengan Sanskerta. Sanskerta melambangkan kekuasaan dan ritual, sementara Melayu melambangkan komunikasi dan pergaulan.
—
4. Melayu di Era Sriwijaya: Dari Prasasti ke Lingua Franca
Di era Sriwijaya, bahasa Melayu mulai naik peran. Prasasti Talang Tuwo (684 M) menunjukkan campuran antara bahasa Melayu Kuno dengan istilah Sanskerta. Ini menandakan peralihan: Sanskerta masih dipakai, tetapi Melayu mulai menyusup dalam administrasi dan diplomasi.
Sriwijaya sebagai kerajaan maritim butuh bahasa penghubung. Maka, Melayu dipakai sebagai lingua franca perdagangan. Walau masih sarat istilah Hindu-Buddha, bahasa ini telah menjadi “wadah kosong” yang kelak siap diisi dengan kosakata Islam.
—
5. Melayu di Era Pasai: Dari Dagang ke Dakwah
Ketika Islam masuk melalui Samudra Pasai (abad ke-13 M), bahasa Melayu mengalami transformasi besar. Ia tidak lagi hanya bahasa perdagangan, tetapi juga bahasa dakwah dan peradaban Islam.
Bukti kuatnya terlihat dalam Prasasti Munye Tujoh (1389 M) dari Pasai. Di situ, kata-kata Arab mendominasi, sementara pengaruh Sanskerta mulai berkurang drastis. Tulisan Arab (Jawi) menggantikan aksara India. Kitab hukum, fatwa, dan hikayat keislaman ditulis dalam bahasa Melayu.
Sejarawan menyebut Pasai sebagai “madrasah bahasa Melayu Islam.” Dari sinilah lahir tradisi baru: syair tasawuf, tafsir Melayu, dan hikayat-hikayat Islam yang menjadi rujukan masyarakat luas.
—
6. Pengayaan Melayu dengan Bahasa Arab
Mengapa Melayu begitu mudah menyerap kata-kata Arab?
Pertama, karena struktur Melayu sederhana. Ia terbuka terhadap kosakata baru. Kedua, karena Islam membawa konsep-konsep yang tidak ada sebelumnya: iman, takwa, syariat, zakat, halal, haram, khutbah, masjid.
Bahasa Arab memperkaya Melayu bukan hanya dengan istilah agama, tetapi juga konsep filsafat dan sosial. Kata seperti “ilm(u)”, “hikmah”, “adil”, “masyarakat”, hingga “ummah” membentuk kesadaran baru.
Azyumardi Azra menekankan, dengan aksara Jawi, bahasa Melayu menjadi bahasa dakwah regional. Surat menyurat antara ulama Aceh, Johor, Patani, dan Mekah banyak menggunakan bahasa Melayu Jawi. Bahkan, ulama Timur Tengah pun mengakui keberadaannya.
—
7. Pandangan Para Sejarawan
Buya Hamka
“Bahasa Melayu adalah bahasa persaudaraan Islam di Nusantara,” tulisnya. Kesederhanaan bahasa ini membuat Islam menembus batas etnis dan budaya.
Uka Tjandrasasmita
Terjemahan kitab fikih, tauhid, dan tasawuf ke dalam bahasa Melayu membuka akses ilmu agama bagi rakyat awam.
Azyumardi Azra
Melayu memperkuat jaringan ulama internasional. Ia menjadi bahasa Islam regional, diakui bahkan oleh ulama Mekah.
Jajat Burhanudin
Bahasa Melayu adalah bahasa pesantren awal. Ia memudahkan masyarakat memahami tasawuf, fikih, dan tafsir.
Moeflich Hasbullah
Bahasa Melayu adalah bahasa ummah. Ia menyatukan wilayah majemuk, menjadi bahasa perlawanan kolonial, lalu melahirkan Indonesia.
—
8. Bahasa Melayu dalam Bingkai Dakwah dan Perlawanan
Bahasa Melayu menjadi lebih dari sekadar bahasa.
1. Bahasa Dakwah – Wali dan ulama memakai Melayu untuk mengajar syariat dan tasawuf.
2. Bahasa Persatuan – Ia menyatukan berbagai etnis di bawah satu lingua franca Islam.
3. Bahasa Perlawanan – Dalam masa kolonial, fatwa jihad ditulis dalam Melayu agar mudah dipahami rakyat.
4. Bahasa Peradaban – Dari Melayu lahir hikayat Islam, syair tasawuf Hamzah Fansuri, hingga Taj al-Salatin.
BACA JUGA: Pasai Pintu Gerbang dan Pusat Mazhab Syafi‘i di Nusantara Nusantara
9. Refleksi: Dari Sanskerta yang Rumit ke Melayu yang Hidup
Sejarah mengajarkan: bahasa yang terlalu tinggi akan mati di menara gadingnya sendiri. Bahasa yang sederhana justru hidup di lidah rakyat.
Sanskerta meredup karena ia eksklusif. Melayu bertahan karena ia merakyat. Dan ketika Islam datang, Melayu menjadi jalan hidayah.
Sebagaimana kata Buya Hamka: “Kalau tidak dengan bahasa Melayu, Islam tidak akan sekokoh ini berdiri di bumi Nusantara.”
Bahasa Melayu adalah lidah umat Islam Nusantara—lidah yang dulu dipakai berdagang, lalu dipakai berdoa. Lidah yang dulu menulis surat dagang, lalu menulis kitab suci. Lidah yang dulu bersyair, lalu berseru jihad.
Sanskerta tinggal prasasti, tapi Melayu terus hidup. Ia adalah bahasa iman, bahasa perjuangan, bahasa persatuan. Dan hingga kini, ia tetap menjadi saksi bahwa hidayah membutuhkan bahasa yang sederhana namun bermakna dalam. []
Sumber: Jajat Burhanudin, Islam dalam Arus Sejarah Indonesia, Kencana
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
