Doha: Pemakaman yang Menggetarkan
Doha, 11 September 2025.
Masjid Sheikh Mohammed bin Abdul Wahhab, sebuah masjid besar dengan kubah putih menjulang, dipenuhi ribuan orang. Di antara mereka hadir Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani. Suasana hening berubah menjadi gemuruh takbir, ketika jenazah beberapa pemimpin Hamas yang gugur akibat serangan udara Israel diusung ke liang lahad.
Namun, di balik ratapan dan doa, ada sebuah ironi besar: salah satu target utama Israel, Khalil al-Hayya, justru hadir untuk memimpin pemakaman putranya. Hamas mengumumkan bahwa ia masih hidup, meniadakan rumor yang digembar-gemborkan media Israel bahwa al-Hayya ikut terbunuh.
Seketika, operasi yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan, justru menelanjangi kelemahan Israel. Doha, sebuah kota kecil di Teluk, menjadi panggung dunia melihat bagaimana makar bisa gagal di hadapan Allah.
Allah ﷻ berfirman: “Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar. Dan Allah-lah sebaik-baik pembuat makar.” (QS. Ali Imran: 54)
—
Perpecahan di Meja Komando Tel Aviv
Di balik serangan itu, sesungguhnya sedang terjadi perpecahan yang dalam di tubuh elit keamanan Israel. Laporan Washington Post (13 September 2025) mengungkapkan bahwa Mossad menolak melaksanakan operasi darat yang sudah mereka rancang selama berminggu-minggu untuk membunuh para pemimpin Hamas di Doha. Alasannya jelas: Qatar adalah mediator utama dalam perundingan sandera, dan membunuh tokoh Hamas di tanah Qatar berarti menghancurkan jembatan diplomasi yang selama ini Mossad rawat.
Sebaliknya, Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Katz, penjabat kepala Shin Bet, dan Ron Dermer (Menteri Urusan Strategis) mendorong agar serangan tetap dilaksanakan. Mereka ingin “show of force” yang bisa menyelamatkan reputasi politik Netanyahu di dalam negeri.
BACA JUGA: Mengapa Yahudi Selalu Diusir? Sebuah Renungan Sejarah dan Wahyu
Channel 12 Israel bahkan menyebut bahwa Kepala Staf IDF Eyal Zamir, Kepala Mossad David Barnea, dan Penasihat Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi menentang operasi ini. Nitzan Alon, ketua negosiasi sandera, bahkan tidak diundang ke rapat—karena diyakini pasti akan menolak.
Salah seorang pejabat senior yang terlibat dalam negosiasi sandera berkata: “Ada kesepakatan besar untuk pengembalian para sandera di atas meja. Semua orang tahu operasi ini bisa menghancurkan peluang itu.”
Namun Netanyahu memilih jalan berbeda. Ia memerintahkan serangan udara. Bukan operasi intelijen yang presisi, bukan pembunuhan diam-diam khas Mossad. Tetapi rudal balistik yang diluncurkan dari udara.
—
Rudal dari Laut Merah
Wall Street Journal menyingkap detail operasi itu: delapan jet F-15 dan empat jet siluman F-35 terbang rendah di atas Laut Merah, lalu meluncurkan rudal balistik ke arah Doha. Jalurnya dipilih agar tidak melintasi wilayah udara Saudi. Amerika Serikat baru diberi tahu beberapa menit sebelum rudal ditembakkan—terlalu terlambat untuk mencegah.
Seorang pejabat senior pertahanan AS menggambarkan langkah itu: “Benar-benar tak terbayangkan.”
Namun hasilnya pahit. Tak satu pun target utama terbunuh. Beberapa tokoh Hamas mungkin terluka, tetapi al-Hayya masih hidup. Bahkan ia menegakkan kepalanya di pemakaman anaknya, menunjukkan pada dunia: Israel gagal.
—
Al-Hayya: Antara Luka dan Tegaknya Perlawanan
Khalil al-Hayya bukan tokoh sembarangan. Ia adalah kepala tim negosiasi Hamas dalam isu sandera. Israel tahu, menghabisinya berarti merusak struktur politik Hamas sekaligus menghancurkan jalur diplomasi.
Hamas menyatakan al-Hayya hanya kehilangan putranya, Hammam, dalam serangan itu. Ia bahkan memimpin pemakaman.
Sebuah sumber Hamas yang dikutip Al Araby berkata: “Kelangsungan hidup pimpinan Hamas bukan karena bocoran intelijen luar. Itu hasil pengaturan keamanan internal dan perlindungan Qatar.”
Ironi itu mencolok. Israel membunuh anaknya, tapi justru menguatkan simbol perlawanan sang ayah.
Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada musibah yang menimpa seorang Muslim, kecuali Allah akan menghapuskan sebagian dosanya karenanya, bahkan duri yang menusuknya sekalipun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam luka seorang ayah, lahir keteguhan seorang pemimpin.
—
Makar yang Gagal: Pola Lama Yahudi
Sejarah mencatat, kaum Yahudi berulang kali menggunakan makar untuk membunuh, menyingkirkan, dan menghancurkan lawan.
Mereka membunuh Nabi Zakaria dan Yahya.
Mereka berkhianat terhadap Isa al-Masih.
Mereka berusaha membunuh Nabi Muhammad ﷺ dengan melempar batu besar di Khaibar, dan meracuni beliau lewat kambing panggang.
Namun semua rencana itu gagal.
Allah ﷻ berfirman: “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah berjanji kepada kami bahwa kami tidak akan beriman kepada seorang rasul hingga dia membawa korban yang dimakan api.’ Katakanlah: ‘Sungguh telah datang kepadamu rasul-rasul sebelumku dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan dengan apa yang kamu katakan itu; maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar?’” (QS. Ali Imran: 183)
Arnold Toynbee dalam A Study of History menulis: “Bangsa Yahudi bertahan bukan karena kekuatan militer, melainkan karena narasi penderitaan yang mereka ulangi. Tetapi ketika mereka berkuasa, mereka sering mengulangi pola kezaliman yang dulu mereka terima.”
Doha hanyalah bab terbaru: mereka merancang pembunuhan, tetapi justru mempermalukan diri sendiri.
BACA JUGA: Kapan Kejahatan Penjajah Israel Berakhir? Sangat Dekat
Israel: Kalah di Doha
Politico mencatat bahwa serangan itu bahkan membuat Presiden Donald Trump marah. Amerika yang selama ini menjadi pelindung Israel merasa ditikam di meja diplomasi. Trump berkata: “Kita harus memulangkan para sandera. Saya sangat tidak senang dengan bagaimana hal itu terjadi.”
Dengan kata lain, Netanyahu tidak hanya gagal membunuh Hamas, tetapi juga meretakkan hubungan dengan sekutu terpentingnya.
Sejarawan Karen Armstrong menulis dalam Jerusalem: “Setiap bangsa yang menguasai Yerusalem dengan kekerasan, akhirnya hancur oleh kekerasannya sendiri.”
Hari ini, hal itu terlihat di Doha.
—
Dialog Batin: Siapa yang Sebenarnya Kalah?
Bayangkan sejenak suasana di Doha. Seorang ayah berdiri di atas makam anaknya, tetapi di wajahnya tidak ada tanda menyerah. Sementara di Tel Aviv, para jenderal berdebat sengit, saling menuduh, bahkan meragukan kepemimpinan sendiri.
Pertanyaan itu muncul: siapa sebenarnya yang kalah?
Apakah seorang ayah yang kehilangan anaknya?
Ataukah sebuah negara yang kehilangan arah dan reputasi?
—
Penutup: Doha Sebagai Ayat Sejarah
Doha bukan sekadar peristiwa geopolitik. Ia adalah ayat yang hidup, sebagaimana firman Allah: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)
Israel berusaha menulis sejarah dengan rudal. Namun sejarah justru menulis mereka dengan tinta kegagalan.
Doha telah menjadi cermin: makar Yahudi selalu sama, dan kegagalannya pun selalu sama. Dari zaman para nabi hingga zaman modern, Allah tetap menjadi sebaik-baik pembuat makar. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
