Band Rap Irlandia Kneecap: Dari Pelarangan Hingga Pengadilan Karena Melawan Genosida di Gaza

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Kneecap Press

Suara yang Dilarang

“APAKAH musik bisa menghentikan genosida?”

Pertanyaan itu terdengar lirih di ruang-ruang diskusi, di jalan-jalan yang berlumuran protes, bahkan di panggung festival. Musik tak pernah bisa menahan tank, atau membendung misil. Tetapi musik selalu bisa memecahkan kebisuan—dan kebisuanlah yang paling berbahaya dalam sejarah umat manusia.

Kisah band rap Irlandia Kneecap yang dilarang tampil di berbagai negara karena keberpihakannya kepada Palestina adalah kisah tentang bagaimana suara—bukan peluru—tetap dianggap ancaman oleh kekuasaan. Mereka bukan presiden, bukan jenderal, bukan diplomat. Hanya tiga anak muda Irlandia yang melantunkan rap dengan bahasa kaum tertindas. Namun, dari Glastonbury hingga Toronto, nama mereka menyalakan debat: apakah dukungan pada Palestina bisa disebut “terorisme”, ataukah justru itu satu-satunya suara kemanusiaan yang tersisa?

—

Glastonbury: Ketika Musik Menjadi Pekikan

Bayangkan sebuah sore di West Holts Stage, Glastonbury 2025. Ribuan penonton menunggu, bendera Palestina bertebaran di udara, riuh teriakan “Free Palestine!” menggema seperti doa massa. Di panggung, Liam O’Hanna—yang akrab disapa Mo Chara—mengenakan keffiyeh. Ia bukan hanya bernyanyi. Ia menantang.

“Perdana Menteri negara Anda tidak ingin kami bermain. Persetan dengan Keir Starmer!” teriaknya.

Kalimat itu disambut sorak-sorai. Bukan hanya karena keberanian politiknya, tapi karena di balik rap itu ada luka yang terhubung lintas bangsa: luka Irlandia yang dijajah Inggris, dan luka Palestina yang dikepung Israel.

Seorang pemuda Irlandia di kerumunan berbisik pada kawannya,
“Seperti kakek kita dulu, ya? Inggris ingin membungkam suara kita. Sekarang mereka mencoba membungkam Palestina.”

Sang kawan mengangguk. “Dan musik inilah yang menyambungkan luka itu.”

BBC menolak menyiarkan langsung penampilan mereka. Menteri Kebudayaan Inggris bahkan menuntut penjelasan mengapa nyanyian “Free Palestine” bisa lolos tayang. Polisi mengumumkan akan meninjau ulang rekaman untuk “menentukan pelanggaran kriminal.”

Ironis: sebuah festival musik, ruang kebebasan ekspresi, justru menjadi ladang sensor. Tapi semakin kuat tekanan, semakin keras teriakan penonton. Seakan dunia berbalik logika: yang berteriak melawan penindasan dituduh kriminal, sementara mesin pembunuh ribuan anak di Gaza disebut “membela diri”.

—

Dari London ke Pengadilan

Perjalanan Kneecap di Inggris tak mulus. November 2024, di sebuah konser London, sebuah bendera Hizbullah dilemparkan ke panggung. Mo Chara mengangkatnya tanpa tahu arti simbol itu. Sekejap kamera merekam. Hanya itu cukup untuk menjeratnya dengan tuduhan “pelanggaran terorisme.”

Di pengadilan Westminster, ia berdiri dengan wajah tenang. “Aku hanya mengangkat selembar kain. Tapi tampaknya, kain itu lebih menakutkan daripada kebenaran tentang Gaza.”

Hakim menunduk, jurnalis menulis cepat, aparat menatap curiga. Di luar gedung, puluhan pendukung bersorak: “Music is not terrorism!”

Adegan ini seperti drama klasik: kekuasaan yang merasa terancam oleh simbol, dan seniman yang terusir karena suara. Bukankah Quraisy juga dulu menyebut Al-Qur’an sebagai “sihir” yang memecah belah? Logika kekuasaan selalu sama: kebenaran yang sederhana terasa mengancam.

—

Larangan di Kanada: Suara yang Menyebrang Laut

September 2025, kabar baru datang. Kanada menolak kedatangan Kneecap. Vince Gasparro, pejabat pemerintah, menuduh mereka “secara terbuka mendukung Hamas dan Hizbullah.” Tuduhan itu ditegaskan dengan kalimat: “Ini bukan kebebasan berbicara, ini glorifikasi terorisme.”

Mo Chara membalas lewat media sosial: “Tuduhan ini jahat, palsu, dan ditujukan untuk membungkam oposisi kami terhadap genosida Israel. Tidak ada dasar hukum. Tidak ada satu pun dari kami pernah dihukum di negara manapun.”

Di Toronto, komunitas Irlandia kecewa. “Ini bukan hanya soal musik. Ini soal bagaimana Kanada memilih sisi,” kata seorang aktivis.

Seorang pemuda Palestina di Montreal menulis di akun pribadinya: “Band kecil dari Irlandia ini lebih berani daripada banyak pemimpin dunia. Mereka dilarang masuk Kanada karena membela kami. Sementara para pemimpin Arab… sibuk menyusun kesepakatan dagang.”

Kata-kata itu menyayat. Dunia tampak berbalik: yang menyebut genosida justru dituduh teroris, yang melakukan genosida duduk nyaman di kursi diplomasi.

—

Irlandia, Palestina, dan Luka yang Sama

Mengapa Kneecap begitu keras membela Palestina? Jawabannya mungkin terletak di sejarah tanah air mereka sendiri. Irlandia pernah dijajah Inggris selama ratusan tahun. Kelaparan besar (Great Famine) abad ke-19, yang diperparah kebijakan kolonial, membunuh lebih dari satu juta jiwa.

“Orang Irlandia tahu rasa lapar. Mereka tahu bagaimana rasanya ditindas dan dibungkam,” kata seorang penonton di Glastonbury.

Palestina hari ini juga merasakan hal sama: kelaparan, blokade, pengusiran. Tak heran Irlandia, baik rakyat maupun pemerintah, menjadi salah satu suara paling lantang di Eropa melawan Israel.

Di Dublin, mural-mural Palestina berdampingan dengan mural perlawanan Irlandia. Bendera Palestina kerap berkibar di pawai Hari St. Patrick. Seolah luka sejarah menyatukan dua bangsa lintas benua.

—

Musik Sebagai Perlawanan

Seorang jurnalis musik menulis, “Rap Kneecap lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah sejarah Irlandia yang bersuara dalam dialek urban, lalu menyapa Gaza dengan bahasa solidaritas.”

Dalam sebuah wawancara, Mo Chara berkata: “Kami tahu, musik kami tidak akan menghentikan bom di Gaza. Tapi kalau musik bisa membuat satu orang lagi berteriak ‘Free Palestine!’, itu sudah berarti.”

Di titik ini, musik menjadi doa, sekaligus senjata. Doa, karena ia mengikat hati orang-orang yang peduli. Senjata, karena ia menembus tembok propaganda yang dibangun negara-negara besar.

—

Dialog Imajiner: Gaza dan Belfast

Mari kita bayangkan sebuah dialog lintas waktu.

Seorang pemuda Gaza, dengan tubuh kurus karena blokade, berkata: “Saudaraku di Irlandia, apa artinya suara kalian? Apakah ia bisa menghentikan tank Israel di jalan kami?”

Seorang pemuda Belfast menjawab: “Tidak, saudaraku. Tapi suara kami bisa membuat dunia tahu bahwa kalian tidak sendirian. Seperti dulu kami pun merasa sendirian melawan Inggris, sampai suara-suara dari dunia datang menyapa.”

Pemuda Gaza menunduk, lalu tersenyum samar. “Kalau begitu, biarkan musik kalian sampai ke telinga anak-anak kami, agar mereka tahu bahwa di seberang lautan, ada yang masih menyebut nama Palestina dengan cinta.”

—

Dunia yang Membungkam

Larangan demi larangan, tuduhan demi tuduhan. Dari Inggris hingga Kanada, dari Jerman hingga Hungaria, Kneecap selalu diawasi. Sementara itu, Israel tetap bebas melakukan operasi militer yang menewaskan puluhan ribu orang, termasuk ribuan anak.

Bukankah ini dunia yang aneh?
Bendera yang diangkat di panggung disebut “terorisme.”
Tetapi rudal yang menghancurkan sekolah disebut “operasi militer.”

BBC menyensor nyanyian “Free Palestine.”
Namun mereka menayangkan konferensi pers pejabat yang membenarkan genosida.

Ada yang salah dengan logika dunia ini. Atau, mungkin dunia ini memang dibangun dari logika yang salah.

BACA JUGA: Konser Musik Together for Palestine untuk Gaza dari Wembley: Perjuangan Palestina dari Panggung Selebriti

Refleksi: Antara Larangan dan Keabadian

Apakah larangan Kanada akan menghentikan Kneecap? Tidak. Justru larangan itu menambah mitologi mereka: dari band lokal Belfast menjadi simbol global perlawanan.

Sejarah selalu begitu. Para nabi dilarang berdakwah, tapi larangan itu justru membuat pesan mereka abadi. Buku-buku kebenaran dibakar, tapi api justru menyebarkan semangat.

Mungkin larangan adalah bentuk pengakuan tersembunyi: bahwa kata-kata mereka terlalu berbahaya untuk didengar.

—

Epilog: Suara yang Menyeberang Laut

Di ujung catatan ini, kita kembali ke pertanyaan awal: apakah musik bisa menghentikan genosida? Jawabannya mungkin tidak. Tetapi musik bisa menyalakan nurani. Dan nurani, bila terjaga, bisa menumbangkan kekuasaan paling brutal sekalipun.

“Kami hanya tiga orang dari Belfast,” kata Mo Chara.

“Tapi kalau suara kami sampai ke Gaza, berarti musik sudah melampaui perbatasan, melampaui larangan, bahkan melampaui rasa takut.”

Suara itu kini bergaung dari panggung Glastonbury hingga lorong pengadilan London, dari mural Dublin hingga jalan-jalan Toronto. Suara yang dilarang, tetapi justru makin nyaring.

Dan di Gaza, mungkin ada seorang anak yang mendengar rekaman itu lewat ponselnya yang retak. Ia tersenyum, lalu berbisik pada temannya:
“Di seberang lautan, ada yang bernyanyi untuk kita.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *