“MUSUH terbesarmu bukanlah mereka yang menatapmu dari luar pagar, melainkan dirimu sendiri yang enggan melihat kenyataan.”
—Ami Ayalon
Prolog: Luka yang Tak Pernah Padam
Di sebuah tanah yang dianggap suci oleh tiga agama besar, ada dua bangsa yang terus bertabrakan dalam narasi yang tak kunjung menemukan titik temu. Bagi bangsa Yahudi, tanah itu adalah janji sejarah; bagi bangsa Palestina, tanah itu adalah rumah yang diwariskan turun-temurun.
Anak-anak Yahudi tumbuh dengan kisah Holocaust: enam juta jiwa yang lenyap dalam keheningan dunia. Trauma itu diturunkan dari generasi ke generasi, menjadi identitas kolektif. Sementara di seberang pagar, anak-anak Palestina belajar tentang Nakba: rumah yang hilang, pohon zaitun yang dirampas, dan masa depan yang direnggut.
Dua ingatan itu seperti dua api. Alih-alih saling menghangatkan, keduanya saling membakar. Dan kini, setelah lebih dari tujuh dekade, yang tersisa bukanlah damai, melainkan bara dendam yang diwariskan.
Namun dari jantung mesin keamanan Israel, lahirlah suara yang justru melawan arus. Seorang jenderal, yang telah memimpin kapal perang dan badan intelijen, tiba-tiba berkata hal yang paling tabu: “Kita sedang menembak diri kita sendiri.”
Itulah suara Ami Ayalon, mantan Panglima Angkatan Laut Israel sekaligus mantan Kepala Shin Bet. Pengakuan itu ia tuangkan dalam buku Friendly Fire: How Israel Became Its Own Worst Enemy and Its Hope for the Future (2020). Buku yang bukan sekadar memoar, melainkan cermin retak yang memperlihatkan wajah Israel: sebuah bangsa yang, di balik kekuatan militernya, tengah dihancurkan oleh api dari dalam.
BACA JUGA: Saat Gelombang Eropa Mengakui Palestina, Israel Mengancam Aneksasi Lebih Luas dan Keras
Akar Keyakinan: Anak dari Zionisme Klasik
Ami Ayalon lahir dari rahim generasi pertama Israel, generasi yang tumbuh dalam keyakinan bahwa negaranya kecil, dikepung musuh, dan hanya bisa bertahan dengan senjata di tangan. Sejak kecil ia menyerap semangat Zionisme klasik: kerja keras, pengorbanan, dan keberanian memegang senjata demi bertahan hidup.
Narasi yang ia dengar sederhana: jika Israel lengah sehari saja, negeri ini akan musnah. Maka tentara bukan sekadar profesi, melainkan napas hidup.
Ayalon percaya pada mitos keberanian itu. Ia meniti karier militer hingga menjadi Laksamana Angkatan Laut Israel. Kelak ia juga menjabat sebagai Kepala Shin Bet, badan keamanan dalam negeri yang paling rahasia. Ia berada di pusat lingkaran kekuasaan, melihat langsung strategi, operasi, dan darah yang tertumpah.
Namun sejarah tidak sekadar menguji, ia juga mengajari. Perlahan Ayalon sadar: kekuatan militer tak pernah memberi keamanan sejati. Setiap operasi di Gaza atau Lebanon hanya menanam kebencian baru. Setiap bom yang dijatuhkan hanya memperbanyak alasan bagi generasi berikutnya untuk melawan. Dan setiap permukiman baru di tanah Palestina hanyalah bom waktu yang menunggu ledakan.
—
Metafora Tembakan Sendiri
Judul buku Friendly Fire bukan kebetulan. Dalam bahasa militer, istilah itu merujuk pada peluru yang salah sasaran: tembakan dari kawan sendiri yang justru melukai pasukan sendiri. Bagi Ayalon, itulah yang sedang dilakukan Israel.
Musuh terbesar Israel bukanlah Hamas, bukan Iran, bukan dunia Arab, melainkan dirinya sendiri:
Israel menjadikan trauma Holocaust sebagai tameng untuk membenarkan dominasi.
Israel mengorbankan demokrasi internal demi keamanan semu.
Israel menutup pintu kompromi, meyakini bahwa senjata bisa memaksa diam musuh.
Padahal, kata Ayalon, semua itu hanyalah ilusi keamanan. Israel mungkin bisa membungkam Palestina untuk sementara, tapi tidak pernah benar-benar menang. Sebaliknya, setiap langkah itu justru membuat Israel semakin terisolasi di mata dunia.
—
Dari Laut hingga Penjara: Saat Keyakinan Runtuh
Pengalaman paling mengguncang Ayalon terjadi bukan di medan perang laut, melainkan di ruang penjara.
Sebagai Kepala Shin Bet, ia berhadapan langsung dengan tahanan Palestina—orang-orang yang dituduh terlibat dalam perlawanan. Ia berdialog dengan mereka, mencoba memahami apa yang mendorong seseorang meledakkan dirinya di pasar atau bus kota.
Jawaban yang ia dengar mengejutkan: bukan agama yang utama, melainkan kehilangan harapan.
Seorang tahanan berkata kepadanya: “Kami tidak memilih mati. Tapi ketika kalian menutup semua pintu kehidupan, kematian menjadi pintu terakhir yang terbuka.”
Kata-kata itu menusuk. Ayalon, yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa Palestina hanya digerakkan oleh kebencian atau fanatisme, kini melihat sisi lain: perlawanan lahir dari rasa tak ada jalan keluar.
Sejak itu, ia mulai meragukan doktrin lama bahwa senjata adalah jawaban atas segalanya.
—
Kritik Keras: Bom Waktu yang Diciptakan Israel
Ayalon tidak berhenti pada keraguan pribadi. Ia menuliskan kritik tajam terhadap negaranya:
1. Ketergantungan pada militer.
Israel percaya senjata bisa membeli waktu. Padahal, waktu itu justru dipakai generasi Palestina untuk menumbuhkan kebencian baru.
2. Permukiman ilegal.
Setiap rumah baru yang dibangun di Tepi Barat adalah paku di peti mati solusi dua negara.
3. Politik yang ditarik ke kanan.
Nasionalisme-agamis makin kuat, menjadikan kompromi dianggap pengkhianatan.
4. Elite keamanan tahu jalan buntu.
Ironisnya, banyak pejabat keamanan sadar bahwa solusi militer mustahil. Tapi suara mereka ditelan politisi yang mengejar popularitas.
Kritik ini bukan datang dari aktivis kiri atau akademisi asing, melainkan dari seorang jenderal yang menghabiskan hidupnya di jantung mesin perang. Itulah yang membuat suara Ayalon begitu mengganggu bagi elit politik Israel.
—
Transformasi: Dari Prajurit ke Pencari Damai
Transformasi Ayalon mencapai puncaknya pada 2003, ketika ia menggagas inisiatif People’s Voice bersama akademisi Palestina, Sari Nusseibeh.
Dokumen itu menyerukan solusi dua negara berbasis perbatasan 1967. Bagi banyak orang Israel, itu dianggap pengkhianatan. Tapi bagi Ayalon, itu bukan sekadar teks politik, melainkan deklarasi moral.
Ia percaya: Israel hanya bisa selamat jika Palestina merdeka.
Inisiatif itu gagal mendapat dukungan mayoritas, tapi menandai perubahan mendasar dalam diri Ayalon. Dari seorang komandan perang, ia berubah menjadi advokat perdamaian—meski sadar betul bahwa jalannya akan sepi dan penuh caci maki.
—
Paradoks Israel: Api yang Membakar dari Dalam
Menurut Ayalon, masa depan Israel kini dipertaruhkan oleh tiga paradoks:
1. Holocaust sebagai legitimasi.
Trauma masa lalu dijadikan alasan untuk menindas bangsa lain, alih-alih menjadi pelajaran untuk melindungi martabat manusia.
2. Apartheid yang tak diakui.
Tepi Barat dan Gaza berubah menjadi ruang penjara raksasa, memicu isolasi internasional yang makin dalam.
3. Demokrasi yang tergerus.
Demi keamanan, Israel mengorbankan kebebasan sipil. Perlahan, ia kehilangan jiwanya sendiri.
Dengan getir ia menulis: “Kita sedang menyiapkan kehancuran kita sendiri jika menolak kenyataan bahwa dua bangsa harus hidup berdampingan.”
Inilah inti api dari dalam: Israel menyalakan kobaran yang akan menghanguskannya, jika terus menolak realitas Palestina.
—
Harapan yang Rapuh
Meski penuh kritik, Ayalon bukan pesimis total. Ia tetap menyimpan lilin kecil harapan:
Dua negara adalah jalan satu-satunya.
Pengakuan timbal balik harus terjadi, Israel menerima Palestina merdeka, Palestina menerima Israel dalam batas 1967.
Tekanan internasional, khususnya Amerika Serikat, diperlukan untuk memaksa perubahan arah.
Harapan itu rapuh, seperti nyala lilin di tengah badai. Tapi bagi Ayalon, lebih baik ada nyala kecil daripada menyerah pada kegelapan total.
Ketika dituduh pengkhianat, ia hanya menjawab: “Saya bukan pengkhianat. Saya ingin anak-anak saya hidup di negeri yang damai, bukan di benteng yang dikelilingi kebencian.”
BACA JUGA: Pendapat Warga Amerika tentang Gaza: Menusuk Penjajah Israel
Refleksi: Masa Depan Penjajah Israel
Membaca Friendly Fire memberi kita gambaran masa depan Israel: bukan tentang senjata yang lebih canggih, melainkan tentang pilihan moral yang ditunda terlalu lama.
Jika Israel terus membiarkan trauma, ketakutan, dan kesombongan mengendalikan politiknya, masa depannya hanya satu: isolasi internasional, krisis moral, dan akhirnya runtuh dari dalam.
Namun jika keberanian muncul—keberanian untuk mengakui Palestina sebagai bangsa dengan hak penuh—maka ada peluang bagi Israel untuk selamat dari api yang membakarnya sendiri.
Buku ini, pada akhirnya, bukan hanya kritik terhadap Israel. Ia juga peringatan bagi bangsa manapun: musuh terburuk bukanlah yang ada di luar, melainkan kesombongan, ketakutan, dan keangkuhan di dalam diri.
—
Epilog: Lilin di Tengah Badai
Friendly Fire adalah semacam pengakuan dosa seorang jenderal. Tapi ia juga adalah doa. Doa agar Israel berhenti menembak dirinya sendiri. Doa agar Palestina diberi ruang untuk hidup.
Apakah doa itu akan terkabul? Kita tak tahu. Tapi setidaknya ada seorang saksi dari jantung mesin perang yang berani berkata: “Cukup. Kita tidak bisa terus begini.”
Dan mungkin, justru dari keberanian untuk melihat kebenaran yang pahit, secercah masa depan bisa dilahirkan—bukan bagi Israel saja, tapi juga bagi Palestina, dan bagi kemanusiaan itu sendiri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
