“APAKAH dunia sudah tuli terhadap jeritan orang-orang lapar?”
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia lahir dari kenyataan pahit: di Gaza, ribuan orang yang berdiri dalam antrean bantuan—mencari sesuap roti, seteguk air, sebutir harapan—telah dibunuh. Mereka datang bukan dengan senjata, melainkan dengan tangan kosong. Namun peluru dan bom menyambut mereka.
Dan dunia? Dunia memilih diam.
—
Sarajevo 1992: Roti dan Peluru
Mari kita tarik ingatan ke Sarajevo, Mei 1992. Sebuah pasar ramai. Warga yang terkepung berbaris, menunggu roti. Tiga peluru mortir menghantam kerumunan. Dua puluh enam orang tewas, lebih dari seratus terluka.
Hanya tiga hari setelah itu, Dewan Keamanan PBB segera bergerak. Sanksi terhadap Yugoslavia dijatuhkan. Operasi penjaga perdamaian diperluas. Pasukan mulai dikerahkan. Bandara Sarajevo dipersiapkan sebagai jalur bantuan. Dunia, meski terlambat, menunjukkan kemauan politik untuk bertindak.
Tindakan itu tidak serta-merta menghentikan pembantaian, tetapi ada reaksi: ada pengakuan bahwa penderitaan warga sipil bukan sekadar angka, melainkan alarm kemanusiaan.
—
Gaza 2024–2025: Roti yang Tak Pernah Sampai
Bandingkan dengan Gaza, Januari 2024.
Pasukan Israel menembaki warga sipil yang sedang menunggu truk bantuan di wilayah utara yang terkepung. Tujuh orang tewas, puluhan terluka. Dua hari kemudian, di tempat yang sama, serangan kembali terjadi: 12 orang tewas, lebih banyak yang terluka. Hari berikutnya, lagi. Lusa, lagi.
Dan hingga kini, lebih dari 18 bulan kemudian, pola itu berulang. Hampir 3.000 orang yang kelaparan telah terbunuh, sekitar 20.000 orang terluka. Tidak ada mortir acak, tidak ada “kesalahan teknis.” Yang ada hanyalah keteraturan: strategi yang disengaja, terukur, dingin, dan tanpa belas kasih.
Namun dunia tidak menanggapi seperti di Sarajevo. Tidak ada embargo kolektif, tidak ada pasukan penjaga perdamaian, tidak ada intervensi militer untuk menghentikan kekejaman. Hanya hening—hening yang menyakitkan.
—
Pola Kekerasan yang Tak Bisa Disangkal
Laporan panjang The New Humanitarian menelusuri hampir 200 serangan antara Januari 2024 hingga Juli 2025. Polanya jelas: Israel menargetkan warga sipil di mana pun mereka berkumpul untuk mendapatkan makanan.
Ada serangan di dapur umum, di gudang distribusi, di kerumunan orang yang menunggu truk bantuan. Bahkan, korban yang sudah lemah karena lapar tetap menjadi sasaran. Ini bukan sekadar “dampak sampingan perang.” Ini adalah strategi militer: mempersenjatai kelaparan.
Tujuannya? Mengosongkan Gaza dari penghuninya, menciptakan kondisi yang tidak layak huni, dan memaksa orang pergi.
—
Diamnya Dunia: Ketidakberdayaan yang Dipilih
Mengapa di Sarajevo dunia bisa bergerak, sementara di Gaza dunia membisu?
Apakah karena Sarajevo berada di Eropa, dekat dengan pusat kekuatan dunia, sementara Gaza hanya “sudut Timur Tengah” yang dianggap masalah abadi? Apakah karena korban Sarajevo dianggap “bagian dari kita,” sementara warga Gaza dipandang “orang lain” yang boleh dikorbankan?
Atau karena Israel bukan Serbia—ia sekutu utama Barat, pemilik hak istimewa dalam percaturan global?
Ketidakberdayaan dunia bukanlah sesuatu yang niscaya. Ia adalah pilihan politik. Negara-negara besar bisa menekan Israel, bisa menghentikan aliran senjata, bisa memaksa gencatan senjata. Namun yang terjadi sebaliknya: ada pembiaran, bahkan dukungan.
—
Kesaksian yang Tak Bisa Ditutupi
Di Sarajevo, dunia menunggu koran keesokan hari untuk mengetahui pembantaian.
Di Gaza, kita menyaksikannya secara langsung di layar ponsel. Video, foto, siaran langsung: tubuh anak-anak yang tergeletak di jalan, orang tua menggendong anak yang tak bernyawa, suara tangis bercampur dengan dengung drone di udara.
Tidak ada yang tersembunyi. Tidak ada yang bisa menyangkal. Dan justru di situlah letak ironi: ketika kebenaran terpampang di depan mata, dunia memilih membuang muka.
—
Luka yang Lebih Dalam dari Statistik
Ada dua kalimat yang terus menghantui setiap laporan.
Pertama, catatan tentang serangan Maret 2025: “Serangan menghantam dapur umum saat warga sipil sedang menunggu makanan. Sebagian besar korban adalah anak-anak.” Bayangkan: sebuah dapur, tempat orang berharap kenyang, justru menjadi kuburan massal.
Kedua, catatan pengingat dari jurnalis: “Demi akuntabilitas hukum dan sejarah.” Kalimat ini terdengar getir. Seakan pekerjaan jurnalistik hanyalah catatan bagi generasi mendatang, sementara generasi kini gagal menghentikan tragedi.
Di balik setiap angka—3.000 terbunuh, 20.000 terluka—ada wajah, ada nama, ada dunia kecil yang runtuh. Anak yang kehilangan ibu, ayah yang kehilangan putra, keluarga yang kehilangan rumah dan harapan.
—
Gaza: Wajah Kegagalan Global
Kisah Gaza adalah cermin kegagalan global.
Kita, umat manusia, sedang diuji. Apakah kita akan membiarkan kelaparan dijadikan senjata? Apakah kita akan mengizinkan bantuan kemanusiaan ditembaki? Apakah kita akan membiarkan genosida berlangsung di siang bolong, dengan kamera menyala, sementara kita sibuk berdebat soal politik?
Diamnya dunia bukan sekadar kegagalan diplomasi, melainkan kehancuran moral.
—
Dialog Sunyi: Gaza dan Nurani Dunia
Mari kita dengar dialog imajiner ini.
Seorang anak Gaza bertanya, “Mengapa aku ditembak ketika mencari roti?”
Dunia menjawab dengan hening.
Seorang ibu menjerit di depan jenazah anaknya, “Di mana PBB? Di mana dunia?”
Jawabannya: rapat, resolusi yang diveto, pernyataan pers yang dingin.
Bukankah kita semua bersalah jika terus membiarkan dialog ini berakhir dengan diam?
Refleksi Akhir: Apa Artinya Kemanusiaan?
Ketika Sarajevo dibombardir, dunia akhirnya bertindak. Tidak sempurna, tidak cukup, tapi ada upaya.
Ketika Gaza dibombardir, dunia justru menutup telinga. Seakan-akan warga Gaza bukan manusia, seakan-akan penderitaan mereka sah untuk diabaikan.
Namun, sejarah tidak akan membiarkan kita bersembunyi. Seperti kata seorang penulis: “Demi akuntabilitas hukum dan sejarah.” Suatu hari, generasi mendatang akan bertanya: Apa yang kalian lakukan ketika Gaza dibakar?
Apakah kita akan menjawab: “Kami diam.”?
—
Penutup: Gaza Adalah Cermin Kita
Gaza bukan sekadar tempat. Ia adalah cermin.
Ia memperlihatkan wajah asli dunia: keberpihakan, kemunafikan, keberanian, atau ketakutan. Ia menyingkap siapa yang benar-benar menjunjung kemanusiaan, dan siapa yang hanya bersembunyi di balik kata-kata kosong.
Dan mungkin, Gaza juga menjadi doa yang terucap dari bibir orang-orang lapar yang gugur: doa agar dunia suatu hari bangkit, agar manusia tidak lagi tega membunuh mereka yang mencari roti.
Sampai saat itu, Gaza tetap menjadi luka terbuka—dan diam kita adalah garam yang menambah perihnya. []
Sumber:
https://www.newarab.com/opinion/how-can-gazas-starving-be-killed-and-world-stay-silent
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
