SALAH satu misteri besar dalam kehidupan manusia adalah hakikat ruh. Banyak yang bertanya-tanya: apakah ruh memiliki bentuk? Bagaimana keberadaannya dalam diri manusia? Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari dua unsur utama — jasad yang tampak dan ruh yang tidak tampak. Kehidupan seseorang terjadi ketika keduanya bersatu. Bila ruh berpisah dari jasad, manusia akan kehilangan kehidupan, tinggal jasad yang tak bernyawa.
Ibarat alat elektronik tanpa listrik, begitulah jasad tanpa ruh — sekadar benda mati tanpa daya. Kita mengetahui banyak tentang jasad, namun pengetahuan tentang ruh sangatlah terbatas. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)
Ayat ini menegaskan bahwa hakikat ruh adalah rahasia Allah. Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa pertanyaan tentang ruh merupakan perkara yang tersembunyi dan tidak dapat dijelaskan secara sempurna, karena Allah hanya memberikan sedikit pengetahuan kepada manusia (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 466).
BACA JUGA: Bekal Doa dan Sejarah dari 3 Leluhur Manusia
Namun demikian, sebagian pengetahuan tentang ruh tetap bisa kita pahami melalui Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama salaf. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Kitab Ar-Ruh menegaskan bahwa ruh adalah makhluk yang diciptakan Allah, bukan bagian dari dzat-Nya. Ia bersifat halus, ringan, dan memiliki kemampuan yang jauh melampaui jasad manusia. Beliau berkata, “Ruh adalah substansi yang hidup, yang bergerak dan menyebar dalam jasad seperti air dalam batang pohon.”
Ruh Diciptakan Sebelum Jasad
Ruh telah diciptakan lebih dahulu daripada jasad. Sebelum manusia lahir, Allah Ta’ala mengambil persaksian dari seluruh ruh keturunan Adam bahwa Dia adalah Tuhan mereka. Ketika janin berusia empat bulan, ruh ditiupkan ke dalam jasadnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim. Sejak saat itu, manusia hidup sebagai makhluk jasmani dan ruhani.
Ketika kematian datang, ruh berpisah dari jasad dan memasuki alam barzakh. Dalam Syarh As-Sunnah, Imam Al-Barbahari rahimahullah menjelaskan bahwa di alam kubur, ruh tetap memiliki kesadaran; ia dapat mendengar, merasakan, dan menjawab pertanyaan malaikat. Kehidupan di alam kubur adalah kehidupan ruh yang dominan, sedangkan di akhirat kelak, ruh dan jasad akan kembali bersatu secara sempurna.
Bentuk Ruh: Mengikuti Bentuk Jasad
Apakah ruh memiliki bentuk? Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan bahwa ruh memiliki bentuk yang serupa dengan jasadnya. “Ketika ruh berpisah dari jasad, bentuk keduanya tetap sama. Ruh menempati jasad sebagaimana air memenuhi bejana,” ujar beliau. Hal ini juga ditegaskan dalam Syarah At-Thahawiyyah (hal. 187) bahwa ruh manusia menyerupai bentuk jasad yang ditempatinya.
Imam Ibnul Qayyim juga menambahkan, ruh yang baik akan tampak indah sesuai amalannya, sementara ruh yang buruk akan tampak gelap dan hina. Ini menunjukkan bahwa bentuk ruh tidak hanya menyerupai jasad secara fisik, tetapi juga mencerminkan kondisi batin seseorang.
Ruh dalam Mimpi dan Pertemuan dengan Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku yang sebenarnya, karena setan tidak dapat menyerupaiku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
BACA JUGA: Andai Manusia Diciptakan tanpa Bahasa?
Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang yang melihat Nabi ﷺ dalam mimpi, pada hakikatnya melihat ruh beliau — ruh yang serupa dengan jasad beliau ketika hidup di dunia. Ini menjadi bukti bahwa ruh dapat menampakkan diri dalam bentuk yang menyerupai jasadnya, meski hakikatnya tetap berada di alam yang berbeda.
Penutup
Ruh adalah ciptaan Allah yang penuh rahasia. Kita hanya mengetahui sedikit tentangnya, sebagaimana Allah tetapkan dalam Al-Qur’an. Para ulama salaf menjelaskan bahwa pengetahuan tentang ruh cukup untuk menambah iman, bukan untuk diperdebatkan secara berlebihan. Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Ruh adalah rahasia dari rahasia Allah; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.”
Maka, tugas kita bukan menyingkap hakikatnya secara ilmiah, tetapi memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Ruh adalah bukti kekuasaan Allah atas kehidupan dan kematian manusia. Wallahu a’lam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

