Di Balik Gemuruh Meriam
“Apakah engkau melihat, Yaakov, betapa dunia kini berubah?” tanya seorang perwira tua di ruang gelap markas militer Yerusalem.
“Tidak,” jawab Yaakov lirih, “yang berubah hanyalah cermin di hadapan kita.”
Malam itu, dua tahun setelah serangan 7 Oktober 2023, Yerusalem tidak tidur. Di koridor kekuasaan yang dulu dipenuhi keangkuhan, kini menggema sunyi. Sirene tidak lagi meraung, tapi di dalam dada para pemimpin Israel, ada bunyi lain yang tak kalah bising — suara sejarah yang menagih pertanggungjawaban.
Dua tahun setelah peristiwa yang mengguncang dunia itu, Israel tampak menang di permukaan. Hamas terpukul. Gaza porak-poranda. Tapi di dalam tubuh negeri itu, luka yang jauh lebih dalam menganga — luka yang tidak disebabkan oleh roket atau terowongan, melainkan oleh kebohongan yang dihidupi sendiri.
—
Kekalahan yang Dimulai Sebelum 2023
Analis militer Maariv, Avi Ashkenazi, pernah menulis:
“Israel mulai kalah sejak tahun 2014, bukan 2023.”
Kalimat itu mengandung ironi. Tahun 2014 adalah akhir dari perang 50 hari di Gaza — perang yang disebut “kemenangan besar” oleh kabinet Netanyahu. Tapi Ashkenazi melihatnya lain: perang itu adalah awal dari kemunduran moral dan intelektual militer Israel.
Sejak saat itu, negeri itu hidup dalam mitos kemenangan palsu. Mereka percaya bahwa teknologi, Iron Dome, dan kekuatan udara adalah takdir kemenangan. Mereka lupa bahwa musuh yang mereka hadapi bukan hanya pasukan, melainkan keyakinan.
Sementara itu, di sisi lain tembok, Hamas bangkit dari reruntuhan. Dari tenda-tenda pengungsian muncul pasukan yang terlatih, disiplin, dan memiliki struktur komando yang menyerupai tentara negara. Mereka belajar dari setiap kekalahan, sementara Israel hanya mengulang kebanggaannya.
Ashkenazi menulis dengan getir:
“Israel tidak lagi memerangi Hamas. Israel sedang memerangi dirinya sendiri — ketakutannya, kesombongannya, dan bayangannya tentang kejayaan masa lalu.”
—
I7 Oktober: Puncak dari Ilusi
Dan tibalah hari itu. 7 Oktober 2023. Hari di mana seluruh Divisi Gaza runtuh hanya dalam hitungan menit.
Radar mati, komunikasi terputus, dan pos-pos pengawasan jatuh tanpa perlawanan berarti.
Bagi dunia, itu adalah tragedi. Tapi bagi sejarah, itu adalah momen kebenaran: keruntuhan mitos kekuatan yang tidak terkalahkan.
Ashkenazi menyebutnya “penghinaan militer terbesar sejak 1948”. Bahkan lebih traumatis dari Perang Yom Kippur 1973. Bukan karena banyaknya korban, tapi karena hilangnya kendali dan kepercayaan pada sistem sendiri.
Israel percaya pada propagandanya: bahwa Gaza telah dikendalikan, bahwa rakyatnya lelah, bahwa Hamas sudah hancur. Tapi di bawah tanah, generasi baru lahir — diam, bekerja, dan menunggu.
“Israel,” tulis Ashkenazi, “tidak dikalahkan oleh musuh, melainkan oleh keyakinan bahwa musuhnya tidak lagi ada.”
—
Krisis Nasional: Cermin yang Retak
Dua tahun setelah itu, retakan itu melebar menjadi jurang.
Kabinet Netanyahu terpecah. Para jenderal saling menyalahkan. Rakyat kehilangan arah.
Ashkenazi kembali menulis:
“Jika Israel tidak merevisi konsep kekuatannya, maka ia akan menghadapi ‘7 Oktober yang baru’ yang lebih tragis.”
Ia mengibaratkan negaranya seperti kisah Pakaian Baru Sang Raja.
Seluruh rakyat bersorak memuji kehebatan tentara, tapi tak seorang pun berani berkata bahwa sang raja sebenarnya telanjang.
Dan dalam metafora itu, Netanyahu adalah raja yang menolak cermin.
Ia berusaha menutup aib dengan pidato-pidato kemenangan, tapi rakyatnya tahu: yang menang hanyalah kamera propaganda, bukan kenyataan di lapangan.
“Kekuatan sejati,” tulis Ashkenazi, “bukan pada teknologi, melainkan kemampuan melihat kebenaran sebelum terlambat.”
—
Sharm El-Sheikh: Hari Ketika Dunia Memaksa
Lalu tibalah babak baru. Setelah dua tahun perang tanpa arah, dunia memaksa gencatan senjata.
Tempatnya simbolik: Sharm El-Sheikh, di Semenanjung Sinai — tanah yang dulu jadi medan perang antara Mesir dan Israel, kini menjadi saksi kompromi baru.
Mediasinya diatur oleh Donald Trump, bersama Qatar, Mesir, dan Turki. Ironisnya, Trump yang dulu mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kini menekan Netanyahu untuk menarik pasukannya dari Gaza.
Isi perjanjian sederhana tapi berat:
1. Penarikan pasukan Israel dari seluruh wilayah Gaza.
2. Pertukaran tahanan dan pembebasan sandera.
3. Pembukaan jalur kemanusiaan dan distribusi bantuan.
Trump menyebutnya:
“Hari baik bagi dunia Arab, Islam, dan Israel.”
Tapi di Tel Aviv, suasana muram. Di sinilah paradoks sejarah bekerja: pihak yang menandatangani perjanjian damai justru merasa kalah.
Sementara di Gaza, meski puing-puing masih berasap, rakyat menatap langit dengan tenang. Hamas menyebut kesepakatan itu sebagai buah dari “keteguhan rakyat yang tidak menyerah”.
—
“Kemenangan” yang Menyerah
Tak semua di Israel bisa menerima kenyataan itu.
Nadav Shragai, kolumnis Israel Hayom, menulis dengan getir:
“Ini bukan gencatan senjata. Ini penyerahan diri.”
Ia mempersoalkan pembebasan 250 tahanan Palestina, termasuk tokoh-tokoh besar seperti Marwan Barghouti dan Ahmed Saadat.
“Delapan puluh lima persen dari mereka akan kembali ke medan perlawanan,” tulisnya.
Dan dengan nada sinis ia menambahkan:
“Penculikan terbukti efektif untuk memeras Israel.”
Bagi Shragai, kesepakatan itu adalah pukulan moral. Negara yang dulu disegani kini dipaksa bernegosiasi dengan pihak yang mereka sebut “teroris.” Tapi sejarah tak peduli pada istilah — ia hanya mencatat siapa yang bertahan.
—
Suara dari Barak Kosong
“Apakah ini akhir dari negara Yahudi yang kuat itu?” tanya seorang prajurit muda pada komandannya di barak.
“Tidak,” jawab sang komandan, “ini awal dari kesadaran yang terlambat.”
Di ruang-ruang kosong markas militer, kini banyak yang mulai bertanya:
Apakah kekuatan tanpa moral bisa bertahan lama?
Apakah keunggulan senjata bisa menutupi krisis spiritual sebuah bangsa?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema seperti gema suara para nabi yang dulu diabaikan.
Dari masa lalu, sejarah Israel selalu sama: menolak kebenaran, mengusir kenabian, dan akhirnya hancur oleh kesombongan sendiri.
—
Peringatan dari Jenderal Breivik
Dari kalangan militer sendiri muncul suara lain:
Jenderal (purn.) Isaac Breivik — yang dulu ikut dalam operasi di Lebanon — berbicara tanpa tedeng aling-aling:
“Jika Israel terus menolak perdamaian, ia akan runtuh dari dalam — politik, ekonomi, dan moral.”
Ia menelanjangi mitos yang selama ini disebarkan media pemerintah. Ia mengungkap bahwa klaim penghancuran terowongan Hamas 60% hanyalah angka manipulatif.
Faktanya, kata dia, hanya 20% yang benar-benar dihancurkan.
Breivik melihat bahaya lebih besar: isolasi.
Israel kini bukan hanya dijauhi dunia Arab, tapi juga dicurigai sekutu lamanya. Amerika mulai menimbang ulang dukungannya. Dunia Islam tidak lagi takut.
Yang tersisa hanyalah kegelisahan kolektif — bahwa negeri itu semakin kehilangan arah moral.
—
Kekalahan yang Tak Terlihat
Ada kekalahan yang lebih sunyi dari kekalahan di medan perang: kekalahan dalam jiwa.
Israel menang dalam pertempuran, tapi kalah dalam iman terhadap dirinya sendiri.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah bunuh diri di kalangan veteran perang meningkat tajam. Ribuan keluarga hidup dengan trauma. Anak-anak takut suara petasan.
Dan di balik tembok yang mereka bangun untuk memisahkan diri dari dunia, kini tumbuh sejenis rasa kehilangan — kehilangan makna.
“Kami menang, tapi mengapa rasanya seperti kalah?” kata seorang tentara kepada wartawan Haaretz.
Pertanyaan itu menggambarkan kondisi Israel saat ini: negara yang menang secara militer, tapi kalah secara moral dan spiritual.
—
Dunia Melihat, Tapi Tidak Terkejut
Bagi dunia, ini bukan hal baru.
Bangsa yang membangun kekuasaannya di atas penderitaan bangsa lain selalu berakhir sama: runtuh dari dalam.
Firaun dengan sungainya. Romawi dengan kemegahannya.
Dan kini, Israel dengan tembok-temboknya.
Sejarah bukan sekadar catatan, tapi pola yang berulang.
Ketika kezaliman dianggap kebijakan, ketika pembunuhan dianggap keamanan, maka kehancuran bukan ancaman — melainkan keniscayaan.
—
Refleksi: Cermin Langit
Di sinilah refleksi menemukan tempatnya.
Bagi umat manusia, perang Gaza bukan sekadar tragedi politik, tapi cermin spiritual zaman.
Ketika dunia memuja kekuatan, Gaza menunjukkan makna keteguhan.
Ketika Israel merasa aman di balik teknologi, Hamas menunjukkan iman yang menolak tunduk.
Dan di atas semuanya, sejarah kembali menulis satu kalimat sederhana:
“Kebenaran tidak butuh senjata untuk menang — ia hanya butuh waktu.”
BACA JUGA: Mengapa Amerika Harus Membayar Harga Agresi Sekutunya? Proyek Israel Membakar Timur Tengah
Epilog: 7 Oktober yang Baru
Kini para analis, termasuk Ashkenazi, Shragai, dan Breivik, sepakat dalam satu hal:
“Jika tidak ada perubahan paradigma, maka 7 Oktober yang baru hanyalah soal waktu.”
Mereka berbicara bukan dengan amarah, tapi dengan kelelahan.
Kelelahan menyaksikan negeri mereka jatuh ke dalam ilusi kekuasaan yang sama sekali tidak bijak.
Dan bagi dunia, pelajaran itu penting: bahwa bangsa yang membangun kekuatan tanpa kebenaran akan hancur oleh kekuatannya sendiri.
Di Gaza, puing-puing tetap ada. Tapi dari sana lahir sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh tank atau rudal — keyakinan bahwa yang tertindas akan mewarisi bumi.
Seperti kata seorang ulama di Rafah:
“Setiap kali mereka menghancurkan rumah kami, kami menemukan arah ke langit.”
—
Akhirnya, dua tahun setelah 7 Oktober, dunia menyadari satu hal:
Israel tidak sedang kalah dari Hamas.
Israel sedang kalah dari dirinya sendiri — dari bayangan yang ia ciptakan, dari kebohongan yang ia pelihara, dan dari kebenaran yang terlalu lama ia abaikan.
Dan seperti semua kekuasaan yang buta oleh kebanggaannya, ia kini berdiri di tepi sejarah — antara kebesaran yang telah lewat dan kehancuran yang sedang menunggu. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
