“Setiap lukisan yang kubuat adalah dokumen kecil—bahwa kami masih hidup, masih bermimpi, masih menolak untuk dilenyapkan.”
ITULAH suara yang muncul dari tepian reruntuhan Gaza, dari pena penyair yang lewat hambatan bom, dari seni yang mengguratkan identitas di atas karung tepung. Di tengah kehancuran, karya-anak bangsa Palestina tumbuh menjadi saksi bahwa martabat tidak bisa dibungkam.
—
Bingkai Nobel: Omar Yaghi dan Cahaya dari Kamp Pengungsi
Suatu hari bulan Oktober 2025, dunia terhenyak mendengar nama Omar Yaghi—ilmuwan Palestina-Amerika—dianugerahi Hadiah Nobel Kimia. Seorang anak pengungsi di Amman, orang tua hampir buta huruf, rumah sempit, ternak berdesak. Yaghi berkata:
“Saya lahir di rumah yang sederhana. Saya lahir di keluarga pengungsi… Sains adalah kekuatan pemerataan terbesar di dunia.”
Kutipannya menabur benih harapan: bahwa kecerdasan dan kreativitas Palestina bisa menembus pagar pembatas, meretas stigma bahwa mereka hanyalah korban. Melalui MOF dan penelitian yang diapresiasi dunia sains, dia mengukir: identitas tidak hanya dibawa dalam penderitaan, tetapi dalam kontribusi ilmu—sebuah ruang di mana nama Palestina dicetak sebagai pembuat, bukan sekadar yang diceritakan.
—
Lukisan Kemanusiaan: Seni dalam Tiap Suara dan Warna
Suara lain muncul dari pena dan kuas.
Batool Abu Akleen, penyair muda dari Gaza, dalam debutnya 48Kg, menggabungkan puisi yang tiap baitnya seberat satu kilogram tubuhnya sendiri. Puisi-puisi yang lahir dari kehilangan—kehilangan teman, kehilangan rumah—tapi tidak kehilangan suara. Dia berkata puisinya adalah bagian dari dagingnya sendiri: “my poems are part of my flesh”.
Pameran Under Fire di Amman menampilkan seniman-seniman seperti Basel El Maqosui, Sohail Salem, Raed Issa, Majed Shala. Mereka menggambar dengan apa yang ada—buku catatan bantuan, tinta murah, bantuan bahan seni yang jarang tersedia. Dari perantauan dalam perang, muncul seni sebagai pertahanan diri.
Koki Sami Tamimi berbicara tentang masakan tradisional, tentang tanaman liar seperti khubeze, tentang masakan sebagai penjaga memori dan budaya, yang terancam ketika ladang, pasar, dan dapur hancur karena perang. (“Preserving cultural heritage amid destruction in Gaza.”)
Pakar dan Pejuang Seni
Sliman Mansour, seniman veteran Palestina, menyebut bahwa identitas budaya adalah bentuk perlawanan. Dia berbicara tentang “rehumanize ourselves” — bagaimana seni miliknya menolak narasi yang mendepersonalisasi Palestina.
Sobhi Qouta, dosen seni visual di Al-Aqsa University, mengatakan bahwa karya-seni Palestina yang hilang akibat rumah yang dihancurkan atau pusat budaya yang roboh bukan hanya kehilangan materi—tapi kehilangan ingatan dan eksistensi.
—
Dialog Kehidupan: Antara Harapan dan Luka
Di kamp pengungsi Nuseirat, anak-anak mengangkat bendera Palestina setelah berita gencatan senjata 9 Oktober. Bendera itu tidak hanya simbol politik — bagi mereka, ia adalah tanda bahwa dunia melihat mereka, bahwa suara mereka tidak sepenuhnya tenggelam dalam ledakan dan air mata.
Seorang remaja, Amal, berkata:
“Aku tidak ingin hanya bertahan. Aku ingin dikenal sebagai yang menulis, yang melukis, yang berbicara.”
Dan di sudut lain Gaza, bocah 18 tahun memakai karung tepung sebagai kanvas. Dalam cat air yang seadanya, gambar tangan menggenggam tanah, wajah kekurangan, mata haus cahaya. “Ketika aku melukis di karung tepung, aku menulis sejarah kami,” katanya.
Momen besar budaya dan prestasi, seperti Nobel dan Oscar, menjadi panggung di mana anak negara pengungsi menyuarakan: kita ada. Tetapi momen-momen kecil — pelajaran sains, studio seni darurat, workshop dengan anak perempuan—juga sama pentingnya: mereka menjahit jaringan harapan di antara puing.
—
Pakar tentang Budaya Sebagai Perlawanan
Untuk mengerti mengapa seni dan budaya Palestina menjadi arena perlawanan, kita perlu mendengar mereka yang menafsirkan perlawanan itu dari sudut teori dan sejarah.
Edward Said, dalam tulisannya, pernah mengatakan:
“When political identity is under threat, culture becomes a resistance tool in the face of attempts to obliterate, annihilate and exclude.”
Rana Anani, kurator dan penulis, dalam esai Gaza and a Visual Narrative of Resisting Silence, menutur bahwa sejak 7 Oktober 2023, institusi seni Barat sering memilih diam atau bersikap netral alih-alih solidaritas nyata, sementara seniman di Gaza terus mengirimkan narasi visual tentang kehidupan dingin yang dijajah dan diancam.
Sliman Mansour, lagi-lagi, menyebut bahwa seni bukan hanya untuk estetika:
“The whole idea of Israel is narrative … they want to keep their stories alive … so they hate writers and poets and people who speak another side of the story.”
Dengan demikian, karya seni Palestina menggabungkan tiga dimensi: estetika, dokumentasi, dan perlawanan moral. Ia bukan hanya melukis pagi cerah di Penanjakan Gaza, tetapi melukis dengan darah, kehilangan, dan doa.
—
Sekadar Apresiasi atau Keadilan yang Tertunda?
Ketika dunia merayakan prestasi seperti Nobel Kimia, Oscar Dokumenter, festival seni global, atau biennale yang direncanakan di Gaza — semuanya menjadi sorotan. Namun muncul pertanyaan reflektif: apakah apresiasi global cukup jika rumah masih hancur, jika akses kesehatan dan pendidikan masih terhambat, jika identitas budaya terus diserang?
Contoh-contoh:
Pusat budaya dan galeri di Gaza seperti Shababeek, Eltiqa, dan Al-Aqsa University fine arts saw their spaces damaged atau hancur akibat perang dan bomb.
Seniman seperti El Maqosui dan Sohail Salem harus bekerja dengan bahan terbatas: tinta, buku catatan bantuan, bahan daur ulang. Mereka mengajar anak-anak dalam workshop seni dalam tenda pengungsian.
Kurikulum seni lokal pernah berkembang, tapi kini harus bergumul dengan trauma dan hambatan logistik dan keamanan. Pakar budaya menilai bahwa dari keruntuhanlah muncul kreativitas yang dipaksa: tetapi kreativitas yang dipaksa pun tetap kreativitas — tetap pemberontakan.
—
Refleksi Dialogis: Kapan Seni Menjadi Revolusi?
(Batin dan dialog internal antara generasi sekarang dengan pendahulu.)
Generasi lama:
“Kamulah Mahmoud Darwish—yang menulis tentang rumah, cinta, kehilangan. Apa yang akan kamu tuliskan?”
Generasi muda menjawab:
“Aku menulis tentang rumah-yang-hilang, tentang debu, tentang pagi yang tidak pernah aku rasa. Tapi aku juga menulis tentang tawa, tentang musik, tentang rasa bangga yang tak bisa diberi izin oleh orang lain.”
Pakar seperti Mansour menyebut bahwa seni artistik saat ini menjadi lebih langsung—tak ada sketsa panjang, lebih banyak cat cipratan, warna yang menetes—sebagai cara mencerna darurat.
—
Harapan yang Dihaturkan Bersama
Dalam kebisingan perang dan pengumuman perdamaian yang sering menjadi jeda sementara, karya seni tetap membumikan harapan. Beberapa kelebihan:
Membuka mata dunia: Nobel dan Oscar bukan hanya penghargaan individu, tetapi sorotan pada realitas yang sering ditinggalkan media mainstream.
Menjaga identitas yang terus ditekan: budaya kuliner, bahasa, seni rakyat, benda tradisional, motif kain bordir— semua menjadi penopang memori kolektif. Sami Tamimi bekerja untuk melestarikan resep, makanan, tanaman liar yang tumbuh di pekarangan.
Menjadi platform perlawanan simbolik dan literal: Biennale Gaza, pameran Under Fire, karya Hussein al-Jerjawi dan Ibrahim Mahna — semua membuktikan bahwa suara tak lenyap, walau studio hancur.
BACA JUGA: Tahanan Palestina yang Ditolak Dibebaskan oleh Israel: Menunggu Momentum Nabi Yusuf Keluar Penjara?
Penutup: Apakah Dunia Mendengar?
Dalam puing-puing Gaza yang tak pernah sepi, seorang anak menulis puisinya di karung bantuan. Seorang ibu memasak khubeze di dapur yang hilang atapnya. Berita Nobel sampai ke kamp pengungsi, dan tawa sedikit muncul ketika nama Omar Yaghi disebut.
Namun tanya tetap lancip:
Apakah pengakuan dunia cukup?
Apakah panggung global cukup menyejukkan hati yang dingin?
Apakah seni bisa membangun kembali rumah yang telah roboh?
Seni dan prestasi adalah cahaya — terang yang bisa dilihat dari jauh. Tapi apa arti terang itu jika rumah masih gelap?
Pakar budaya mengatakan: kita bukan hanya ingin dikenal, kita ingin diakui — bukan sebagai narasi penderitaan, tetapi sebagai partisipan dari sejarah kita sendiri.
Palestina menyulam identitasnya dalam setiap puisi, lukisan, masakan, film, mural. Itu bukan hanya karya; itu deklarasi: kami ada, kami bermimpi, kami berkarya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
